Kesehatan mental pandemi Pandemi yang masih belum usai hingga kini memaksa kita semua untuk lebih teliti merawat diri. Tak cukup hanya menjaga daya tahan tubuh, kesehatan jiwa pun wajib dipupuk agar tetap seimbang. Ironisnya, kesadaran soal pentingnya kesehatan mental—terutama di kalangan generasi muda—masih tergolong tipis. Masih banyak yang menganggap masalah kejiwaan sebagai sesuatu yang bisa ditunda atau bahkan diabaikan, padahal beban pikiran yang tak tertangani justru bisa melemahkan tubuh secara keseluruhan. Pembahasan ini menyoroti kesehatan mental pandemi.
Sebagai wujud kepeduliannya terhadap isu kesehatan mental, BonCabe berkolaborasi dengan Ease, sebuah komunitas yang fokus memperhatikan kesehatan jiwa, untuk mengampanyekan pentingnya menjaga kesehatan mental, khususnya di kalangan anak muda. Di tengah pandemi seperti sekarang, media sosial menjadi sarana berharga untuk mempertahankan kebersamaan dan tetap terhubung dengan teman serta kerabat. Tak hanya itu, beragam hal positif pun bisa diperoleh melalui platform-platform tersebut, asal digunakan dengan bijak.
Sayangnya, dampak media sosial tidak berhenti pada sisi positifnya saja. Di balik kemudahan berbagi dan tersambung, platform ini turut menorehkan luka yang kerap tak kasat mata. Lewat gulir layar yang tak berujung, kita mudah terperangkap dalam perbandingan: hidup orang lain tampak lebih gemerlap, tubuh lebih sempurna, dan pencapaian lebih gemilang. Rasa “kurang” pun tumbuh, disusul kegagalan yang diciptakan sendiri, lalu datang rasa tidak layak yang perlahan memakan diri. Agar tak tenggelam dalam pusaran negatif itu, belajar mencintai diri—menyebutnya self-love—menjadi benteng terpenting: mengakui kekurangan sebagai bagian manusia, merayakan kecil-kecil yang berhasil, dan memberi ruang istirahat pada jiara saat media sosial mulai terasa terlalu keras.
Dalam kolaborasi ini, BonCabe dan Ease berupaya menanamkan kesadaran pada anak muda agar mampu melepaskan pola pikir negatif yang kerap kali merongrong kesehatan mental. Melalui talkshow bertema “Self-Love: Be Your Self, Be Original”, keduanya mengajak generasi muda untuk berhenti membanding-bandingkan diri, menerima kekurangan sebagai bagian dari keunikan, dan perlahan membangun kebiasaan menyayangi diri sendiri—mulai dari merayakan hal-hal kecil hingga menetapkan batasan yang sehat dalam hubungan sosial.
“Self-love itu universal; ia tidak punya patokan tunggal yang bisa dipakai untuk semua orang, sehingga tidak bisa diukur dengan membanding-bandingkan ‘kamu’ atau ‘dia’. Besar-kecilnya justru bergantung pada kebutuhan, latar belakang, dan batasan diri masing-masing individu. Pada intinya, self-love adalah serangkaian tindakan konkret untuk menghargai, merawat, dan mencintai diri sendiri secara tulus,” ujar Melissa Yunita, Expert Talent dari Ease.
Selain menghadirkan Melissa Yunita S, BonCabe dan Ease turut mengundang Marchella FP, sang penulis buku populer *Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini*. Dalam sesi yang hangat dan penuh makna, keduanya mendalami pentingnya mencintai diri sendiri sebagai fondasi utama kesehatan mental. Mereka juga membahas bagaimana rasa insecure dan kecenderungan overthinking—yang kerap muncul tanpa disadari—bisa menjadi beban berat jika tidak dikelola dengan baik.
Belajar mencintai diri sendiri berawal dari keberanian memaafkan luka-luka dan kesalahan di masa lalu. Maaf itu tak hanya ditujukan pada orang lain, tapi juga pada situasi, keputusan, bahkan versi dirimu yang dulu. Semakin kita memendam kebencian pada apa pun yang ada di luar diri—lampau yang keliru, rasa gagal, atau keputusan yang menyesakkan—semakin jauh pula kita dari kedamaian. Jika kamu terus membiarkan dendam atau penyesalan itu mengendalikan pikiran, hatimu tak akan pernah cukup lapang untuk menerima dirimu sendiri apa adanya. Baru ketika kamu mau berdamai dengan segala bentuk kekurangan itu, cinta yang tulus dan hangat pun perlahan tumbuh dari dalam.
Dipa Agung Utomo, Direktur Utama PT Kobe Boga Utama selaku pemilik merek BonCabe, mengatakan bahwa kolaborasi ini lahir dari kepedulian mereka sebagai brand yang kini banyak dikonsumsi oleh anak-anak muda. Ia menegaskan bahwa inisiatif ini bukan sekadar ajang promosi, melainkan upaya nyata untuk berkontribusi positif bagi generasi muda Indonesia.
Masa pandemi memang membuat langkah anak muda semakin berat; tekanan ekonomi, akademik, dan sosial bertumpuk dalam satu waktu. Karena itu, kami menggagas acara kolaboratif ini agar mereka jatuh cinta dulu pada diri sendiri—mencukupi tidur, menarik napas panjang, lalu berani mengatakan “aku butuh bantuan”. Jika setidaknya satu orang merasa terangkat setelah mendengar cerita para pembicara, berarti kami sudah ikut menularkan kepedulian terhadap kesehatan mental, satu hati sekaligus.
