Tren penurunan harga emas Emas belum juga menunjukkan tanda-tanda bangkit sebagai komoditas yang menarik minat investor. Tekanan harga masih kental; nilainya terus merosot dan bahkan telah menembus batas support US$1.315, membuat pelaku pasar semakin berhati-hati menimbang posisi baru di logam mulia ini. Pembahasan ini menyoroti tren penurunan harga emas.
Kondisi ini muncul karena ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat pada tahun ini kian menguat. Rasa khawatir itu menyebar cepat, sehingga para investor berpandangan bearish memilih melepas aset secara masif, memicu tekanan jual yang semakin dalam di berbagai pasar.
Lukman Otunuga, Research Analyst FXTM, menilai bahwa meskipun komoditas safe haven seperti emas sangat menarik di tengah ketidakpastian pasar, logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil. “Emas juga dinilai dalam dolar AS, yang membuatnya sangat sensitif terhadap spekulasi kenaikan suku bunga,” ujarnya.
Menurut Lukman, data Non Farms Payroll (NFP) yang dirilis hari ini menjadi kunci arah pergerakan emas dalam beberapa pekan ke depan. Ia menegaskan, bila angkanya menunjukkan hasil positif, sentimen kuat terhadap perekonomian Amerika akan memperkuat dolar, sehingga harga emas berpotensi meluncur lebih dalam.
Dari sudut pandang teknikal, Lukman memperkirakan harga emas akan terus berada di bawah Simple Moving Average (SMA) 20 hari, sementara indikator MACD menunjukkan sinyal bearish dengan crossover ke bawah. Level support sebelumnya di US$1.315 kini berpotensi berubah menjadi resistance dinamis, yang dapat memperkuat tekanan jual dan mendorong harga turun lebih dalam ke area US$1.285.
Walaupun sentimen teknikal saat ini tengah sangat bearish, data Non-Farm Payroll yang tampil jauh di bawah ekspektasi bisa seketika membuyarkan harapan kenaikan suku bunga AS dalam waktu dekat, sekaligus memberi angin segar bagi penguatan harga emas, tuturnya.
