StudioKctus

ICMI Kecam Upaya Kudeta di Turki

Icmi kecam kudeta turki Percobaan kudeta terhadap pemerintahan Republik Turki yang sah terjadi pada Kamis malam, 14 Juli 2016, waktu setempat. Sekelompok oknum militer mengumumkan secara tiba-tiba bahwa mereka telah merebut kendali kekuasaan dari Presiden Recep Tayyip Erdogan yang saat itu dikabarkan sedang berada di luar negeri untuk kunjungan kerja. Pengumuman itu langsung menyulut ketegangan di berbagai kota. Namun, sebagian besar militer dan rakyat Turki menolak keras aksi tersebut. Mereka turun ke jalan, mendirikan barikade, bahkan berbaring di depan tank untuk menghalangi pasukan kudeta. Kerja sama rakyat dan militer yang setia pada pemerintah berbuah manis: dalam hitungan jam, kudeta berhasil ditekan dan kendali negara kembali berada di tangan pemerintahan yang sah. Pembahasan ini menyoroti icmi kecam kudeta turki.

Menyikapi peristiwa percobaan kudeta yang terjadi di Turki, Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) menyatakan kecaman keras terhadap aksi yang dilakukan oleh sekelompok militer tersebut. ICMI menilai bahwa tindakan tersebut tidak hanya menodai nilai-nilai demokrasi, tetapi juga mengancam stabilitas politik dan kehidupan berbangsa di Turki. Sebagai organisasi yang menaungi para cendekiawan Muslim, ICMI menegaskan bahwa setiap perubahan harus dilakukan melalui jalur konstitusional, bukan dengan kekerasan atau paksaan yang bertentangan dengan prinsip demokrasi.

Selaku Ketua Umum ICMI, saya mengajak seluruh elemen demokrasi yang beradab, di mana pun mereka berada, untuk dengan tegas mengutuk upaya kudeta yang dilakukan oleh sekelompok militer Turki terhadap pemerintahan yang sah. Tindakan tersebut tidak hanya menodai prinsip demokrasi, tetapi juga mengancam stabilitas politik dan keamanan negara. “Kami menolak segala bentuk kekerasan dan pelanggaran terhadap kedaulatan rakyat yang telah memilih pemimpinnya secara demokratis,” tegas Ketua Umum ICMI, Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, dalam siaran pers kepada media pada Sabtu (16 Juli 2016) di Jakarta.

Jimly juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk turut mendoakan keselamatan dan kekuatan bagi rakyat Turki agar mereka tetap tabah dan tangguh dalam menghadapi segala macam ancaman yang menghadang negeri mereka.

“Semoga rakyat Turki diberi kekuatan untuk menghadapi setiap ancaman yang datang, dan pada waktunya mereka mampu menyelesaikan kudeta dengan cara yang terbaik,” ujar Jimly penuh harap.

Menurutnya, kudeta militer di Turki menjadi cermin jelas sekaligus peringatan keras. Bila dicermati bersama apa yang terjadi di Mesir serta konflik berkepanjangan di sejumlah negara Timur Tengah, maka semua itu justru makin meyakinkan rakyat Indonesia: negeri inilah tempat peradaban demokrasi tidak hanya bisa tumbuh, melainkan juga berkembang subur dan berkelanjutan.

Bagi kita, semua peristiwa itu sekali lagi mempertegas keyakinan bahwa Indonesia telah terbukti sebagai simbol negara demokrasi terbesar ketiga sekaligus bangsa Muslim paling demokratis di dunia, kata Jimly.

Selama ini, sejarah mencatat bahwa hanya di Indonesia peradaban demokrasi dapat tumbuh subur dalam suasana yang relatif damai, tanpa kudeta atau kekerasan massa yang mematikan. Demikian pula yang ia tegaskan, menegaskan bahwa tanah air kita menjadi bukti langka di mana pergantian kekuasaan berlangsung melalui kotak suara, bukan melalui senjata.

“Terbukti, bukan? Hanya di Indonesia—dan dari Indonesia—peradaban demokrasi bisa tumbuh subur, sehat, dan alami seolah-olah akarnya menembus tanah sendiri, bukan hasil tanam paksa. Ia tak hanya hidup, tapi berbunga, menjadi taman yang rimbun bagi dunia, khususnya dunia Islam, untuk menjadikannya sumber inspirasi,” pungkas Jimly dengan nada mantap.

StudioKctus.com
Exit mobile version