Berita Indonesia terkini seputar teknologi, ekonomi, lifestyle, budaya, wisata, dan dunia.

Kelebihan Tubuh Manusia

Tubuh manusia kelebihan Setelah beres bermain golf di akhir pekan awal Mei lalu, saya dan BJ—begitu biasa saya memanggil teman saya—mampir ke restoran di dalam club house. Lapangan pagi itu sungguh menyenangkan: angin sejuk menggulung perlahan, membuat setiap pukulan terasa ringan dan pikiran tetap terang. Begitu gim selesai, kami memilih meja pojok, memesan sop buntut sapi yang terkenal paling gurih di sana. Semangkuk hangat tandas, obrolan kami melambung dari cerita keluarga, pekerjaan, hingga akhirnya mendarat pada soal-soal yang sedikit menyentuh jiwa. Waktunya memang pas: besok Ramadan dimulai, suasana hati otomatis bergerak ke arah yang lebih tenang dan merenung. Pembahasan ini menyoroti tubuh manusia kelebihan.

Saya membuka obrolan dengan menyatakan bahwa golf adalah “olahraga spiritual”. BJ, teman sekaligus lawan bicaya saya, langsung mengerutkan dahi dan menimpali, “Jangan lebay, ah! Kok bisa se-fantastik itu disebut spiritual?” Saya tersenyum, menarik napas, lalu menjawab dengan nada meyakinkan ala influencer, “Begini, dalam golf seluruh komponen tubuh—otak, napas, otot, hingga detak jantung—diajak bekerja sama. Semuanya terhubung ke sumber energi paling awal: bumi dan alam semesta. Kamu nggak cuma memukul bola, tapi juga menyerap getaran rumput, arah angin, hingga suhu udara. Makanya, rasanya kayak meditasi bergerak.”

Tubuh manusia tersusun dari empat unsur dasar: tanah, air, api, dan udara. Unsur tanah hadir dalam bentuk tulang, kulit, dan jaringan padat lainnya; setelah kita meninggal, bagian inilah yang akan kembali menjadi tanah. Air berperan sebagai pengikat: darah, getah, dan cairan seluruhnya mengalir membawa nutrisi—faktanya, lebih dari tujuh puluh persen tubuh kita adalah air. Api tersimpan sebagai panas metabolisme yang membuat jantung berdetak serta memicu emosi seperti marah dan semangat. Terakhir, udara: tiap tarikan napas membuktikan betapa ia menjadi jembatan antara tubuh dan dunia luar. Keempat unsur ini tak hanya bercampur, tetapi saling berdialektika, menghidupkan dan menyeimbangkan jasad kita dari hari ke hari.

“Terus, apa hubungannya keempat unsur itu dengan golf?” tanya BJ sambil menggaruk kepala, meski tak gatal. Saya jawab, “Ketika kita berjalan di fairway yang dipenuhi rumut hijau, menghirup udara pagi, dan memukul bola sambil menatap langit, keempat unsur dalam tubuh kita—tanah, air, api, udara—seolah ikut bernapas. Mereka menyerap kesegaran langsung dari sumbernya: tanah yang kita pijak, air dalam embun, api dari sinar matahari, serta udara bebas yang memenuhi paru-paru.” Olahraga ini, lanjut saya, bukan sekadar menggoyang lengan dan kaki; ia menyediakan waktu untuk “memperbarui” diri, sebuah pertukaran diam-diam antara unsur-unsur mikrokosmos dalam tubuh kita dengan makrokosmos alam. Tanpa kita sadari, setiap langkah, hembusan, dan ayunan membuka saluran agar unsur-unsur itu mengalir, berganti, dan seimbang kembali—seperti aki yang otomatis terisi saat mesin berjalan.

Saya menjelaskan kepada BJ bahwa bermain golf bukan sekadar memukul bola, melainkan juga kesempatan langka untuk melangkah telanjang kaki di atas tanah dan rumput yang lembap, merasakan setiap helai daun mengecup kulit. Embun pagi yang menempel di ujung rumput mengingatkan kita bahwa air hadir dalam wujud paling lembut, mengajak jari-jari kita bermain sebelum kemudian mengering di udara. Di sela-sela fairway, kolam kecil dan danau sunyi menyimpan air tenang yang sesekali kita pakai mencuci tangan atau kaki, sekaligus mencuci pula debu kota yang menempel di pikiran. Napas pagi yang masih murni masuk perlahan, menggusir udara tua yang sudah apek di dalam paru-paru, lalu keluar kembali sebagai desah lega. Tatkala bola bergerak menuju cakrawala, sinar matahari turun pelan-pelan, memulas pori-pori dengan kehangatan yang tak dipungut biaya, mengisi ulang tenaga yang sempat terkuras di ruang ber-AC.

Saya melanjutkan kuliah, dan BJ hanya mengangguk-angguk, tak tahu apakah ia benar-benar paham atau sekadar berpura-pura. “Tentu saja,” kata saya, “kesempatan untuk terkoneksi dan menyegarkan keempat unsur dalam tubuh tidak hanya tersedia lewat permainan golf.” Golf memang salah satu jalannya, tapi bukan satu-satunya. Olahraga ini unik karena di lapangan hijau orang bisa saling bertemu, bercanda, dan sambil berjalan menggerakkan badan, unsur-unsur tubuh ikut terbarui tanpa terasa.

Cara lainnya tentu masih banyak; apa pun bentuknya, yang penting ada hubungan langsung dengan bumi dan menyentuh unsur-unsurnya yang tersusun dari komponen serupa dengan tubuh kita sendiri. Jadi, tak harus ritual besar: berjalan telanjang kaki di rumput, meremas tanah saat berkebun, atau sekadar duduk bersandar di batu pun sudah cukup—yang terpenting kulit dan napas kita bersentuhan langsung dengan tanah dan segala isinya.

BJ mengedipkan matanya, tanda ketertarikannya makin nyata. Saya pun merasa semangat saya memuncak saat menjelaskan betapa penting—dan ternyata juga mudah—nya mengolah serta memperbarui unsur-unsur pembangun tubuh. “Bulan puasa ini justru menawarkan momentum ekstra,” kata saya, “karena tubuh kita otomatis berganti sel-sel baru ketika puasa dan sahur diatur dengan baik.” Setelah sahur, tak sedikit dari kita yang langsung melanjutkan ke masjid untuk menunaikan shalat Shubuh; di situlah proses ‘aktivasi’ unsur-unsur tubuh berjalan lebih lancar, dipicu oleh kombinasi pernapasan yang tenang, gerakan ritual yang ritmis, serta suasana spiritual yang menenangkan.

Berjalan kaki menuju masjid adalah momen langka yang menuntun kita kembali menyentuh permukaan bumi—kesederhanaan yang sering terlupakan karena rutinitas: pagi berangkat langsung menaiki kendaraan, sore pulang turun lalu berlari masuk rumah. Sepanjang jalan, telapak kaki kita menapak aspal, semen, hingga butiran pasir yang menempel di sol sepatu, mengingatkan bahwa kita masih menjadi bagian dari tanah ini. Di sela langkah, udara pagi—bebas dari asap knalpot dan debu—masuk perlahan, mengisi rongga dada dengan dingin yang menyegarkan, seolah-olah menyisihkan udara tua yang terkurung sejak subuh.

Di akhir pekan, setelah selesai pengajian di masjid, kami baru beranjak pulang saat matahari telah mendaki tinggi dan memancarkan sinarnya yang hangat ke seluruh penjuru bumi. Sinar itu seolah menyiram kami, menyentuh kulit sekaligus menyalakan kembali api semangat yang ada di dalam tubuh—energi yang selama ini kami andalkan untuk menjalani hari-hari.

Di bulan puasa, kita diberi kesempatan langka untuk mengatur kembali “tanah liat” yang kita panggul setiap hari: makanan. Selama kurang lebih dua belas jam, mulai dari imsak hingza magrib, tubuh beristirahat total dari tugas menelan dan mencerna. Jeda itu ibu Kota sunyi yang memungkinkan sistem pencernaan benar-benar membersihkan diri, merapikan gudang energi, dan membuang sisa “bumi” yang tak lagi berguna. Bukankah puasa justru menjadi momen paling pas untuk menimbang ulang: barangkali selama ini kita terlalu rakus menumpuk tanah, lupa bahwa tubuh hanya butuh segenggam subur untuk tumbuh, bukan gunung yang menekan?

Selama ini kita makan setiap lima sampai enam jam sekali; di antara waktu itu pun masih sempat ngemil. Bila yang dimakan adalah makhluk hidup sederhana—tumbuhan, ikan, atau hewan kecil lainnya—barangkali tak masalah menjalani jeda makan selang lima hingga enam jam.

Namun, sehari-hari kita justru kerap menelan “makhluk hidup yang jauh lebih rumit”: potongan ayam, irisan daging sapi, atau serpihan kambing. Setiap suapan mereka menuntut kerja usus dan lambung lebih dari dua belas jam lamanya. Sepantasnya, saat proses itu berlangsung, perut diberi jeda; tak perlu segera dipenuhi lagi oleh lauk atau camilan. Sayang, kebiasaan itu sulit dipenuhi di hari normal. Baru di bulan Ramadhan, tanpa disadari, tubuh kita menjalankan skenario ideal: jeda makan yang natural, berjarak sekitar dua belas jam, memberi saluran pencernaan waktu cukup untuk menyelesaikan tugasnya hingga tuntas.

BJ hanya mengangguk pelan sambil menyantap sisa daging sop buntutnya yang terakhir. Saya melanjutkan, “Meski tubuh dan jasmani adalah sisi berbeda dari rohani, namun melalui jasmani yang selalu teraktivasi, terbaharui, dan terkoneksi dengan unsur-unsurnya yang ada di alam, kita punya kesempatan lebih besar untuk mengakses sisi rohani dan spiritual dengan lebih mudah.”

Saya menyeruput kuah sop yang tersisa perlahan, menikmati sisa rasa hangat rempahnya, sambil mata saya terus mengikuti BJ yang baru saja menutup obrolan di klub house lapangan golf sore itu. “Jadi, Bung, bulan puasa ini sebenarnya memberi kita kesempatan langka,” katanya, “untuk mengaktifkan kembali unsur-unsur dalam tubuh yang selama ini tertidur. Kalau kita serius menjalankannya, tubuh dan batin bisa seirama, pintu ke dimensi spiritual pun terbuka—di sinilah kita bisa bertemu dengan diri kita yang sebenarnya, jauh dari kebisingan dunia.”

Itulah keistimewaan tubuh. Ketika tubuh kita terbaharui—baik melalui istirahat yang cukup, olahraga teratur, maupun kesadaran akan kesehatan—ia memberi kita kesempatan yang lebih mudah untuk menjangkau unsur cahaya dalam diri, yaitu unsur spiritual yang selama ini mungkin tertutupi oleh keletihan atau kebisingan pikiran. Unsur ini bukan hanya soal keagamaan, melainkan kehadiran tenang di tengah hari-hari yang menawarkan ketenangan, kenyamanan, dan kedamaian yang sesungguhnya.

StudioKctus.com
Exit mobile version