Gangguan jiwa stres ekonomi sosial Kesehatan mental kini jadi pembicaraan yang tak pernah surut di mana-mana. Bukan tanpa alasan: gangguan pada jiwa langsung menentukan cara seseorang berpikir, merasakan, hingga menjalani interaksi sehari-hari. Ketika kondisi psikis stabil, ia mampu mengambil keputusan dengan kepala dingin, menikmati emosi positif, dan menjalani peran sosial secara optimal. Sebaliknya, bila kesehatan mental terganggu, rutinitas sederhana pun bisa terasa berat. Karenanya, menjaga keseimbangan batin kini setara pentingnya dengan merawat tubuh agar tetap bugar. Pembahasan ini menyoroti gangguan jiwa stres ekonomi sosial.
Sayangnya, kondisi kesehatan mental yang prima belum menjadi milik semua orang. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa lebih dari 19 juta warga usia di atas 15 tahun terganggu kesehatan mental-emosionalnya, sementara lebih dari 12 juta di antaranya bahkan berada dalam lorong depresi.
Praktisi mindfulness Adjie Santosoputro menyampaikan bahwa hampir satu dari lima penduduk Indonesia—setara dengan 20 persen dari total populasi—berpotensi mengalami gangguan jiwa. Angka tersebut menunjukkan betapa besar tantangan kesehatan mental yang dihadapi bangsa ini dan menegaskan perlunya perhatian serius dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat sendiri, guna mencegah potensi tersebut berkembang menjadi masalah yang lebih kompleks.
Ia mengatakan bahwa permasalahan kesehatan mental di Indonesia dipicu oleh banyak faktor. Salah satunya adalah lingkungan hidup yang serba cepat dan semakin digital. Hampir setiap interaksi kini terjadi lewat layar, alias daring. Akibatnya, individu mudah kelelahan karena hubungan yang dibangun tidak lagi alami, melainkan dipenuhi tekanan untuk tampil sempurna di dunia maya.
“Kondisi ini sering membuat seseorang lupa menyapa dirinya sendiri—seperti menengok perasaan, menata pikiran, atau sekadar menarik napas dalam. Ketika hubungan internal itu terus terabaikan, ia perlahan berubah menjadi bibit masalah kesehatan mental yang lebih luas,” ujarnya dalam diskusi “Mental Health: You Are Not Alone” yang diselenggarakan PermataBank, Kamis (5/10).
Lanjutnya, gaya hidup modern yang tidak sehat membuat orang bisa mendapatkan dopamine dengan mudah—entah itu dari media sosial, makanan instan, atau hiburan cepat—sehingga ia cepat terbiasa menekan rasa sedih, kosong, atau tidak nyaman alih-alih menghadapinya.
Jika kita terus-menerus mengejar kesenangan sementara—seperti hiburan instan, belanja impulsif, atau pujian di media sosial—otak perlahan-lahan menurunka ambang kepuasannya. Lama-kelamaan, hal-hal yang dulu terasa menyenangkan jadi terasa hambar, sedangkan rasa sedih justru muncul lebih cepat dan lebih sering. Akibatnya, keseimbangan alami antara rasa senang dan sedih terganggu, sehingga kita butuh rangsangan semakin besar hanya untuk merasa “biasa saja”.
Fenomena meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu kesehatan mental ternyata tidak hanya membawa dampak positif. Di balik kebanggaan tersebut, muncul pula risiko negatif: semakin banyak individu yang nekat mendiagnosis diri sendiri tanpa bantuan profesional. Mereka kerap kali mengonsumsi informasi dari media sosial, lalu dengan cepat meyakini bahwa gejala ringan yang dialami termasuk dalam kategori gangguan mental tertentu. Akibatnya, pengetahuan yang awalnya bertujuan untuk edukasi justru berpotensi menyesatkan dan menimbulkan kecemasan berlebihan.
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, Dr. Jiemi Ardian, menjelaskan secara gamblang bahwa melakukan self-diagnosis—mendiagnosis kondisi kesehatan mental sendiri—dapat membawa dampak berbahaya. Karena itu, ia menekankan pentingnya kesadaran diri. Ketika seseorang mulai merasa ada sesuatu yang mengganggu atau kebutuhan akan bantuan, jangan ragu untuk segera mencari dukungan profesional. Konsultasi dengan ahli bukan hanya membantu memahami kondisi dengan lebih tepat, tapi juga menjadi langkah awal menuju pemulihan yang lebih baik.
Konsultasi tidak harus menunggu sampai masalah terasa berat atau sudah dalam kondisi kritis. Justru, datang dan berdiskusi lebih awal adalah langkah bijak untuk mencegah masalah menjadi lebih rumit. Dengan begitu, solusi bisa ditemukan sebelum situasi semakin sulit, sehingga proses penyembuhan atau perbaikan berjalan lebih efektif.
