StudioKctus

Tips Sandiaga Uno Hadapi Komentar Netizen di Sosial Media

Tips hadapi komentar netizen 30 Juni 2024 – Menparekraf/Kabaparekraf Sandiaga Salahuddin Uno berbagi kiat ampuh menanggapi warganet Indonesia yang kerap dipuji sebagai “netizen +62”: kelompok paling vokal, cepat berkomentar, dan tak pernah absen di setiap sudut media sosial. Pembahasan ini menyoroti tips hadapi komentar netizen.

“Kita perlu meningkatkan inklusivitas dalam pengemasan konten,” ujar Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno saat membagikan tips jitunya. Ia menekankan pentingnya memastikan setiap lapisan masyarakat merasa terwakili dan bisa menikmati hasil karya ekonomi kreatif, demikian dikutip dari rilis resmi, Rabu, 3 Juli 2024.

Ia menegaskan bahwa konsistensi tetap jadi kunci. Konten yang diunggah harus tidak hanya informatif dan relevan, tapi juga disusun dengan bahasa yang ramah sehingga mudah dicerna oleh berbagai kalangan, dari pelajar hingga profesional.

Ketika konten yang dipublikasikan benar-benar berkualitas—baik dari segi informasi, penyajian, maupun nilai edukasinya—respons netizen pun cenderung bergerak ke arah yang konstruktif. Alih-alih menyerang atau meremehkan, mereka justru berbondong-bondong meninggalkan komentar pujian, ucapan terima kasih, hingga rekomendasi agar kreator terus memproduksi karya serupa. Rasa apresiasi itu kerap pula dibarengi dengan pembagian ulang di berbagai platform, sehingga jangkauan konten makin meluas dan reputasi sang kreator semakin solid.

Inklusivitas konten bukan sekadar jargon; ia adalah komitmen nyata untuk menghargai kesetaraan semua gender, meredam kesenjangan sosial, dan memastikan bahwa setiap suara—terlepas dari latar belakang—dengar dan dihitung. Untuk itu, admin wajib terus mengasah radar: mengikuti tren yang berubah dalam hitungan jam, menyesuaikan strategi seiring pergantian algoritma, serta bersepeda cepat menembus pusaran informasi agar konten yang dihadirkan tetap relevan, bermakna, dan tidak memperkeruh ruang publik. Di sisi lain, langkah-langkah tersebut juga harus berjalan seirak dengan agenda nasional—mendukung pemerintah mengejar target Sustainable Development Goals (SDGs) hingga tahun 2030, sehingga setiap postingan, video, atau podcast ikut menyumbang peta perubahan sosial yang lebih adil dan berkelanjutan.

Apalagi, seperti yang tercantum dalam data Status Literasi Digital Indonesia, media sosial telah menjadi sumber informasi utama bagi masyarakat dalam tiga tahun terakhir, dengan 72,6 persen responden menyebutkan bahwa mereka mengandalkan platform tersebut untuk mendapatkan berita dan pengetahuan sehari-hari.

Ke depannya, peran admin media sosial pemerintah tak bisa lagi sekadar mengunggag konten rutin. Mereka perlu menjadi inovator yang mampu menyederhanakan tajuk SDGs menjadi narasi sehari-hari, sehingga setiap warga—baik di kota maupun pelosok—merasa turut dipanggil berkontribusi. Salah satu terobosan konkret adalah memastikan informasi publik disajikan dalam beragam format dan bahasa yang inklusif, sehingga tak ada lagi kesenjangan akses akibat keterbatasan literasi, kuota, maupun perangkat. Jika kebijakan, program, dan data terbuka dapat dijangkau secara setara, target 17 tujuan SDGs pada 2030 bukan lagi angka di kertas, melainkan perubahan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Kegiatan yang baru saja digelar untuk ketiga kalinya ini menjadi wadah bertemunya para pengelola media sosial dari berbagai kementerian, lembaga, dan instansi pemerintah. Dalam suasana santai namun penuh semangat, mereka berkumpul untuk bertukar pengalaman, berdiskusi tentang tren terkini, serta memperkaya wawasan agar konten yang dihadirkan di akun resmi pemerintah tidak hanya informatif, tetapi juga menarik dan relevan bagi berbagai lapisan masyarakat, mulai dari anak muda yang haus akan visual kreatif hingga warga senior yang menyukai penyampaian lugas dan jelas.

Menparekraf menyambut baik kegiatan ini karena diharapkan dapat menambah wawasan dan informasi mengenai cara mengelola media sosial secara inklusif. Selain memperkaya pengetahuan, kegiatan ini juga diharapkan mampu menghasilkan manfaat nyata yang dirasakan oleh masyarakat luas.

Kemenparekraf mengajak para pelaku industri kreatif—baik yang sudah mapan maupun yang baru memulai—untuk berkumpul dalam program pelatihan dan workshop intensif. Tujuannya tak hanya menyalurkan keterampilan teknis memproduksi konten, melainkan menumbuhkan keberanian bercerita dari berbagai sudut pandang. Di ruang ini, kreator dari latar usia, gender, disabilitas, dan daerah yang berbeda saling bertukar pengalaman, membangun jejaring, hingga akhirnya melahirkan konten-konten media sosial yang inklusif, beragam, dan menginspirasi tanpa meninggalkan akar budaya masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

StudioKctus.com