Tahun 2000-an memang jadi momen manis bagi perfilman. Masuknya milenium baru memunculkan selera baru dan gaya bercerita segar, setelah gelombang film indie meledak di akhir 1990-an. Di era itu, waralaba dan properti intelektual (IP) mulai mendominasi, dipicu kesuksesan The Lord of the Rings, Harry Potter and the Sorcerer’s Stone (2001), serta Spider-Man (2002). Keberhasilan tiga film itu membuat setiap studio besar berlomba menciptakan IP superhero atau fantasi sendiri, sehingga sepanjang dekade penuh dengan tiruan dan calon pesaing.
Thrillers jadi salah satu genre yang tak setereng di 2000-an seperti di era-era sebelumnya. Bukan berarti tak ada karya luar biasa; di kancah internasional, Memories of Murder dan Oldboy—keduanya keluar 2003—berhasil menulis ulang batas kemungkinan genre ini. Sayangnya, Hollywood tak lagi memproduksi thriller sebanyak dekade 1980-an atau 1990-an, dan sedikit yang benar-benar masuk deretan terbaik sepanjang masa. Tapi seiring waktu, beberapa judul kurang disorot justru mendapat pujian, lalu naik kelas jadi “klasik tersembunyi”. Daftar berikut menampilkan lima thriller 2000-an yang semula diremehkan, kini matang seperti anggur bagus. Mereka tak sepopuler Memories of Murder, tapi punya daya tarik, kejutan, dan kepuasan tersendiri.
Rumah Pasir dan Kabut: Thriller 2003 yang Terlupakan
Film Rumah Pasir dan Kabut (2003), arahan Vadim Perelman, menyatukan pemenang Oscar Ben Kingsley dan Jennifer Connelly dalam thriller dramatik yang hingga kini baru banyak dibicarakan. Kathy Nicolo, mantan pecandu yang baru sadar, harus meninggalkan rumahnya gara-gara salah paham soal tunggakan pajak. Rumah itu lantas dibeli Massoud Behrani (Kingsley), eks-kolonel Angkatan Darat Iran yang terus berusaha mengejar gengsi demi keluarganya. Kathy meminta rumahnya kembali, Massoud bersikeras hanya akan menjualnya dengan harga tinggi setelah renovasi. Perang dingin antara dua orang yang sama-sama terdesak ini berujung pada kehancuran tak terelakkan.
Saya tak keberatan mengakui: menyebut Rumah Pasir dan Kabut sebagai “thriller” memang agak berlebihan. Film ini lebih tepat digambarkan sebagai drama tentang obsesi—bagaimana manusia bisa terjebak dalam ide sendiri dan menutup mata dari kenyataan yang jelas di depan mata. Namun, sutradara Vadim Perelman berhasil menciptakan ketegangan yang terus meningkat, meneteskan kecemasan sedikit demi sedikit hingga tiba di akhir yang tragis; meski sudah bisa ditebak, luka emosionalnya tetap dalam. Ben Kingsley dan Jennifer Connelly tampil apik, tapi nama yang paling membekas adalah Shohreh Aghdashloo; penampilannya lugu, bermartabat, dan mampu menyayat hati dalam setiap adegan. Rumah Pasir dan Kabut bukan tontonan ringan, tapi ia punya nilai yang tetap melekat lama setelah layar hitam.
Tetap (2005): Thriller Tersembunyi yang Kini Klasik

Dibandingkan era 1990-an yang kurang ramah terhadap genre thriller, 2000-an justru menelurkan beberapa tajuk terlupakan yang kini dianggap klasik. Salah satunya adalah Stay (2005) karya Marc Forster. Skenario ditulis David Benioff—kreator Game of Thrones—mengisahkan psikiater Sam Foster (Ewan McGregor) yang menangani pasien muda, Henry Letham (Ryan Gosling), yang mengaku berencana bunuh diri. Saat Sam berpacu mencegah tragedi itu, ia sendiri mulai meragukan realitas, hingga kesehatan mentalnya terancam. Naomi Watts hadir sebagai Lila, tunangan Sam, yang turut dicalonkan untuk Oscar.
Tinggal termasuk film thriller 2000-an yang paling sering disalahartikan. Alih-alih menuntut penonton mencari logika, ia justru ajang merenungkan rasa bersalah, trauma, kehidupan pasca-kematian, dan artinya kehilangan jati diri dalam sekejap mata. Memang, bila dicermati akhir ceritanya bisa terasa berantakan; tapi seperti banyak film yang sempat diabaikan saat rilis, pesonanya ada pada perjalanan emosinya, bukan di titik akhir. Jelas-jelas ia ingin meniru vibe Donnie Darko, dengan Ryan Gosling berusaha menangkap kesan Jake Gyllenhaal—dan hasilnya cukup meyakinkan. Yang paling menonjol, film ini punya kekuatan tersembunyi: adegan penutup yang menghantui tetap melekat di benak jauh setelah kredit bergulir.
Serangga (2002): Thriller Kultus yang Terlupakan
Film Bug (2006) baru dikenal luas belakangan, padahal sutradara William Friedkin—sang legenda di balik The Exorcist—berhasil menampilkan akting intens Ashley Judd dan Michael Shannon yang saat itu masih jarang disorot. Ceritanya diangkat dari panggung drama karya Tracy Letts tahun 1996, berkisah pada Agnes White, pelayan di sebuah motel pinggiran Oklahoma. Perempuan yang larut dalam alkohol dan narkoba ini belum juga bisa move on dari kehilangan putranya satu dekade lalu. Keadaannya makin kacau saat ia menerima Peter Evans, gelandangan sekaligus veteran Perang Teluk, yang justru menjerumuskannya ke jurang psikosis.
Serangga memang bukan film yang mudah ditonton. Di balik jalan ceritanya yang berliku, ia menyelami paranoia, penyalahgunaan narkotik, bekas luka masa lalu, serta gangguan mental. Friedkin dengan bebas mencampur genre—thriller, horor, bahkan drama—kadang dalam satu adegan saja. Ashley Judd berperan sebagai perempuan terisolir yang bertemu Shannon, pria misterius penuh teka-teki; chemistry mereka mencekam. Ketika rilis, banyak penonton bingung karena alurnya tak linier dan akhirnya terbuka. Namun, seiring waktu, keteguhan kamera yang mengepung ruangan sempit justru memperkuat rasa terperangkap. Setelah pengalaman lockdown awal 2020, isu isolasi dan kecurigaan yang diangkat Serangga terasa makin relevan, membuatnya perlahan dianggap sebagai studi psikologis yang klasik.
Thriller 2006: Rahasia Mematikan yang Tak Boleh Terbongkar

Film thriller Prancis Jangan Beritahu Siapa Pun (2006) garapan Guillaume Canet mengikuti kisah Alexandre, seorang duda yang masih terguncang oleh kematian istrinya delapan tahun lalu. Suatu hari, polisi menemukan dua jenazah tak jauh dari rumahnya dan menudingnya sebagai tersangka utama. Di tengah kebingungan, Alexandre menerima rekaman misterius yang menampilkan Margot, istrinya yang dikira tewas, tampak hidup sehat dengan pesan singkat: “Jangan beritahu siapa pun.” Ia pun berpacu dengan waktu untuk membersihkan namanya sekaligus menguak kebenaran di balik kemunculan rekaman itu.
Jangan Beritahu Siapa Pun adalah thriller ala Hitchcock yang punya semua bumbu genre ini: orang salah tempat, rahasia keluarga, dan kejutan demi kejutan. Guillaume Canet mengadaptasi novel Harlan Coben (2001) menjadi kisah penuh kebohongan dan setengah kebenaran yang bisa membunuh. François Cluzet tepat sebagai dokter biasa yang tiba-tiba jadi buronan; lelah, panik, tapi terlanjur tenggelam dalam jerat. Film ini ambisius tapi tetap nyata—ceritanya sudah bikin greget, pintar pula mengatur suspensnya, sampai-sampai Hitchcock pasti tersenyum puas.
“Sebelum Iblis Tahu Kamu Mati” (2007): Thriller Tersembunyi

Sebelum Iblis Tahu Kamu Mati adalah karya terakhir sang maestro Sidney Lumet—dan bisa jadi film thriller paling luput dari perhatian dalam seperempat abad terakhir. Naskahnya ditulis Kelly Masterson, lakonnya diisi deretan bintang yang dipimpin mendiang pemenang Oscar Philip Seymour Hoffman. Lumet kembali ke akar kekuatannya di era 1970-an: kisah kriminal yang menggali keputusasaan dan kerusakan moral. Andy (Hoffman), seorang broker tenggelam dalam utang, membujuk adiknya Hank (Ethan Hawke) merampok toko perhiasan milik orang tua mereka sendiri. Ketika rencana kacau, sang ayah Charles (Albert Finney) memutuskan membalas dendam—tanpa tahu bahwa target pemburuannya justeru anak-anaknya sendiri.
Sebelum Iblis Tahu Kamu Mati adalah thriller yang menyayat dari era 2000-an: separuh tragedi keluarga, separuh kisah kejahatan dua amatir yang kandas karena ulah mereka sendiri. Philip Seymour Hoffman dan Ethan Hawke—dua aktor terbaik dari generasi masing-masing—menyatu sempurna, menurunkan karakter mereka ke lembah keputusasaan tanpa kehilangan empati penonton. Di samping mereka, Marisa Tomei (Oscar), Rosemary Harris (nominasi Oscar), dan Michael Shannon turut memperkuat jaring emosional, membuat kekacauan kriminal yang mengerikan sekaligus memikat.









