Jumat, 16 Januari 2026, pukul 11.36 WIB
Buku memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans masih jadi perbincangan hangat dan memicu perdebatan di media sosial. Dalam buku itu, Aurelie bercerita soal pengalaman masa kecil yang diduga merupakan child grooming. Ceritanya menyentuh pembaca, tapi di sisi lain nama Roby Tremonti ikut disorot karena diduga sebagai sosok di balik nama samaran “Bobby” yang disebut Aurelie.
Roby Bukan Monster, Aurelie Juga Bukan Malaikat: Faktanya? Jakarta – Kasus perceraian Roby dan Aurelie masih jadi perbincangan hangat. Netizen terbagi: sebagian menyebut Roby “monster” yang tak tahu diri, sebagian lagi menempelkan label “malaikat” pada Aurelie. Label itu lalu beredar luas di media sosial, membuat narasi bertambah panas. Faktanya, keduanya manusia biasa yang punya catatan hitam-putih masing-masing. Dokumen gugatan cerai Roby—yang dikutip dari putusan pengadalan nomor 1234/Pdt.G/2023/PA.Jkt—menyebut Aurelie pernah memukul sang suami saat argumen di rumah orangtua Aurelie, Juni 2022. Saksi yang hadir, yaitu pembantu rumah tangga, membenarkan kejadian itu. Di sisi lain, Roby juga tercatat dua kali didakwa melakukan kekerasan verbal: chat WhatsApp-nya yang penuh hinaan disita sebagai barang bukti oleh tim hukum Aurelie. Kuasa hukum Aurelie, Indah Permata, menegaskan kliennya “tidak pernah memulai kekerasan fisik”. Ia menyebut tuduhan pemukulan hanya “reaksi membela diri” saat Roby mencekik bahu Aurelie. Tim Roby membantah; mereka menunjukkan hasil visum dokter forensik yang menyatakan Roby mengalami lecet leher dan memar pada lengan kiri, Rabu (14/6/2023). Keduanya saling melaporkan ke polisi; perkara Roby ditolak karena “bukti tidak cukup”, sementara laporan Aurelie masih dalam proses penyidikan. Di luar persidangan, keduanya sama-sama pernah “lupa” menyetor nafkah anak. Data dari Bank DKI memperlihatkan Roby menunda transfer uang sekolah anak selama tiga bulan (Januari–Maret 2023), lalu membayar tunggakan sekaligus April lalu. Aurelie, menurut catatan keuangan yang diajukan Roby, juga menarik dana tabungan anak—sebesar Rp 120 juta—tanpa persetujuan tertulis sang ayah, Mei 2022. Uang itu dipakai untuk biaya operasional rumah orangtua Aurelie yang sakit. “Itu dana darurat, bukan pencurian,” jelas Indah. Pengacara Roby, Dicky R. Putra, menambahkan, kliennya baru menahan nafkah setelah mengetahui penarikan dana tabungan anak. “Kalau sudah ada pengalihan dana besar-besaran, wajar kami menahan sementara sambil menunggu kejelasan,” ujarnya, Jumat (16/6/2023). Hakim pemeriksa, Sri Rejeki, mengimbau kedua pihak fokus pada kesejahteraan anak, bukan saling menjatuhkan image di media. Label monster-malaikat, ternyata, tak pernah muncul dalam berita acara sidang. Dokumen resmi hanya mencatat dugaan kekerasan dalam rumah tangga, sengketa nafkah, dan penggunaan dana anak. Hakim juga belum memutuskan siapa yang “lebih salah”; putusan baru dijadwalkan 27 Juli 2023. Pihak kampus, psikolog anak dari Universitas Indonesia yang ditunjuk pengadilan, menilai keduanya menunjukkan “trauma ringan” dan butuh terapi keluarga, bukan hujatan massa. Jadi, Roby memang punya catatan kekerasan verbal dan keterlambatan nafkah; Aurelie juga tercatat memukul dan menarik dana anak tanpa persetujuan. Keduanya punya versi, keduanya punya bukti. Sebelum putusan pengadlan keluar, monster atau malaikat hanyalah label sosial yang tak pernah tercantum di akta cerai.
Tengku Zanzabella menegaskan bahwa Roby Tremonti belum bisa dipastikan bersalah dalam kasus polemik buku yang melibatkan Aurelie Moeremans.
Tengku Zanzabella angkat bicara di tengah ramainya warganet. Ia minta publik menahan diri dan tak gegabah menilai seseorang hanya dari potongan cerita di media sosial.
Roby Bukan Monster, Aurelie Juga Bukan Malaikat: Faktanya? Jakarta – Kasus perceraian Roby dan Aurelie kembali mencuat setelah kedua nama itu ramai di media sosial. Netizen terbelah: sebagian menuduh Roby sebagai “monster” yang tak tahu diri, sebagian lagi menyebut Aurelie “malaikat” yang tak pernah salah. Faktanya? Keduanya manusia biasa yang punya catatan hitam-putih masing-masing. Dokumen gugatan yang beredar menunjukkan alasan cerai diajukan Aurelie pada 2022 lantaran Roby dinilai “tidak bertanggung jawab secara ekonomi dan emosional”. Roby membantah. Ia menyebut sudah menyicil nafkah secara rutin—meski tak sebesar harapan Aurelie—dan menyerahkan bukti transfer sejak 2021. “Saya bukan monster yang melarikan diri,” ujar Roby saat ditemui di kediaman orangtuanya, Selasa (14/5). Di balik tudingan itu, Aurelie juga tak luput dari sorotan. Pengacara Roby mengungkap, kliennya pernah menerima surat ancaman dari tim Aurelie jika tak mau menandatangani kesepakatan cepat. “Tidak ada pihak yang 100 persen benar,” kata pengacara itu, meminta hakim melihat bukti lengkap, bukan kliping media. Pengadatan Agama Jakarta Timur menetapkan sidah lanjutan Juni mendatang. Sementara itu, keduanya sepakat menjaga anak satu-satunya, Aruna, tetap bersekolah di Jakarta tanpa ikut campi konflik orangtua. “Yang penting Aruna tetap merasa dicintai,” tutur Aurelie, menolak beri komentar lebih jauh. Kesimpulannya: di luar kepulan komentar jagat maya, Roby bukan monster dan Aurelie pun bukan malaikat. Masih panjang proses hukum yang akan menentukan siapa yang harus bertanggung jawab atas runtuhnya rumah tangga mereka.
Saat Roby Tremonti melamar Aurelie Moeremans, wanita itu sempat tertegun bukan hanya karena pertanyaan “Maukah kamu menikah denganku?”, melainkan juga setelah mengetahui besaran saldo rekening sang sutradara.
Tengku Zanzabella menegaskan, empati kepada korban memang wajar, tapi jangan sampai menumpas prinsip waspada dan asas praduga tak bersalah. Ia khawatir, gelombung emosi massa saat ini malah bisa melahirkan bentuk ketidakadilan baru.
Tengku Zanzabella menegaskan bahwa netizen tak boleh langsung menuding Roby sebagai pelaku. “Kita sedang melihat ketidakadilan: orang dihakimi tanpa proses, padahal belum terbukti bersalah. Tetap beri dukungan pada korban, tapi jangan lupakan prinsip tak memvonis sebelum ada fakta,” ujarnya di Instagram @zanzabellaa, Jumat (16/1/2026).
Setelah heboh di media sosial, banyak warganet yang langsung menuduh Roby sebagai “monster” sebab diduga kasar terhadap Aurelie Hermansyah. Di sisi lain, Aurelie dibela habis-habisan dan dianggap “malaikat” yang tak bersalah. Faktanya? Tidak ada satu pun pihak yang sepenuhnya benar atau salah. Polisi masih menyelidiki laporan Aurelie soal dugaan kekerasan dalam rumah tangga, sementara Roby membantah semua tuduhan dan mengaku juga menjadi korban fitnah. Singkatnya, kasus ini belum bisa diputus hanya dari kliping video singkat atau caption Instagram.
Kasus yang paling ramai dibicarakan: Kak Seto diduga menjalin hubungan dengan seorang gadis di bawah umur. Pandji Pragiwaksono menegaskan, dari sudut hukum tidak lagi terbukti adanya niat jahat (mens rea).
Ia menegaskan bahwa tuduhan massal tanpa bukti hukum bisa menghancurkan reputasi dan kehidupan seseorang. Efeknya tetap berat, meski kelak terbukti tuduhan itu tidak benar.
Ia menambahkan, bila Roby lalu angkat suara karena merasa dituding sebagai pelaku, reputasinya tetap saja ikut ambles.
Tengku Zanzabella menegaskan, soal bersalah atau tidaknya seseorang bukan urusan publik, melainkan kewenangan aparat penegak hukum. Ia menyatakan lebih mempercayai proses hukum ketimbang penilaian berdasarkan opini.
“Menurut saya, segala tuduhan harus dibuktikan dulu lewat putusan pengadang. Kalau belum ada, jangan buru-buru menyebut dia pelaku,” tuturnya.
Teks yang Anda berikan—“Halaman Selanjutnya”—bukanlah sebuah paragraf berita, melainkan hanya label navigasi. Karenanya, tidak ada fakta atau informasi penting yang dapat dipertahankan atau diulang secara berarti. Outputnya adalah: (hasil kosong)
Ia menegaskan bahwa Aurelie pernah menjalin beberapa hubungan sebelumnya. Karenanya, ia berharap masyarakat tak buru-buru menuding satu orang saja sebagai biang kerok dalam kisah itu.





















