Pemerintah Kabupaten Bekasi (Pemkab), Jawa Barat, telah meminta pihak berwenang yang relevan untuk memperpanjang jangka waktu implementasi teknologi perubahan iklim sampai potensi hujan ekstrem rendah, sebagai upaya untuk mengendalikan dan mengurangi tekanan di daerah yang terkena banjir beberapa hari terakhir.
Saya meminta untuk memperpanjang durasi selama potensi hujan ekstrem tetap tinggi, kata Direktur Eksekutif Badan Regional Manajemen Bencana (BPBD) Bekasi Regency di Muchlis di Cikarang pada hari Rabu.
Dia mengatakan bahwa dia telah berkoordinasi langsung dengan Diputado I dari Badan Nasional Pengelolaan Bencana (BNPB) untuk memastikan bahwa implementasi teknologi modifikasi iklim berfungsi dengan baik.
Kami meminta bantuan BNPB untuk melakukan perubahan iklim terkait hujan di Bekasi Regency.Informasi awal adalah ini akan dilakukan sampai 24 Januari 2026, tapi kami meminta untuk diperpanjang, katanya.
Baca juga: Pemerintah Regency Bekasi meminta untuk melakukan perbaikan permanen di tanah kritis
Muchlis menyatakan bahwa menerapkan teknologi ini adalah langkah penting mengingat keadaan daerah yang terkena banjir masih dalam fase pemulihan.
Saat ini, banjir telah berkurang di 12 subdistrik, katanya, tetapi daerah di bawah sungai, seperti Muaragembong, masih menghadapi ancaman karena air yang diguncang dan hujan lokal.
Dia menjelaskan bahwa bencana banjir di Bekasi Regency disebabkan oleh hujan lokal yang kuat sejak Jumat pekan lalu, selain aliran air dari daerah sungai yang menyebabkan banjir sungai dan beberapa sistem drainase yang tidak berfungsi dengan baik.
Dengan perubahan iklim ini kami berharap bisa mengurangi jumlah hujan sehingga tidak menambah beban pada daerah darat.
Baca juga: Banjir Bekasi menyebabkan seorang remaja tenggelam mati
Mengenai efektivitas teknologi perubahan iklim, ia mengatakan BNPB memiliki otoritas teknis untuk melakukan pengukuran dan evaluasi rinci.
Namun, langkah ini merupakan bagian dari upaya terintegrasi Pemerintah Regency Bekasi, selain memperbaiki tanah lapis yang rusak delapan meter panjang di daerah distrik Muaragembong dan memantau titik kritis tanah lapisi di distrik Branchbungin.
Menurut ramalan BMKG yang menyatakan bahwa puncak musim hujan akan terjadi pada bulan Januari, penerapan teknologi perubahan iklim diharapkan dapat mengurangi potensi banjir baru di tengah kondisi sungai yang masih penuh.
“Kami melakukan segala hal yang mungkin, baik dalam pengendalian di darat dengan memperkuat terpleng dan di udara dengan mengubah iklim”, katanya.























