Selama beberapa generasi, Great Yarmouth menjadi salah satu tujuan wisata pantai paling digemari di Inggris, beradu daya tarik dengan Brighton dan Margate lewat pesona pesisir klasiknya.
Meski dikenal sebagai tujuan favorit keluarga, resor di Norfolk justru menempati posisi kedelapan dalam daftar kota pesisir terburuk di Inggris versi Which? tahun 2025.
Survei tersebut mengundang ribuan wisatawan untuk menilai 120 kota pesisir di Inggris, dengan menitikberatkan pada kebersihan pantai, ragam kuliner, tempat menarik yang bisa dikunjungi, dan seberapa sesuai harga dengan pengalaman yang didapat.
Great Yarmouth hanya meraih satu bintang untuk aspek kedamaian dan ketenangan, serta tiga bintang untuk pantai dan tempat wisatanya. Akibatnya, nilai keseluruhan daya tarik kota ini hanya mencapai 51 persen.
Kini, rencana besar sedang disusun untuk menghidupkan kembali kota pantai yang dulu jaya: proyek regenerasi raksasa akan digulirkan, dengan beberapa konstruksi mulai 2026.
Sementara sejumlah bangunan tua di Great Yarmouth memang akan dipugar, satu proyek khusus justru menyasar pemugaran sebagian kawasan kota.
Inti pembangunan kembali adalah kawasan North Quay yang akan diisi bioskop anyar, toko-toko, apartemen, serta hotel berkapasitas 120 kamar.
Kalau semua izin keluar, proyeknya diproyeksikan menelan dana sekitar 100 juta pound sterling, atau setara Rp2 triliun.
Great Yarmouth di Norfolk tengah mempersiapkan revitalisasi besar-besaran senilai 100 juta poundsterling yang akan memulihkan bangunan ikonik sekaligus menata ulang sebagian kota secara menyeluruh.

Proyek North Quay akan menghadirkan area perbelanjaan baru, sebuah bioskop, hunian apartemen, serta resort berkapasitas 120 kamar di sekitar kawasan North Quay.
Kepala Dewan District Great Yarmouth, Carl Smith, mengatakan bahwa rencana ini sudah digodok sejak sepuluh tahun lalu.
Musim semi nanti warga akan diajak berdiskusi; mereka bisa menyampaikan keberatan atau memberi masukan terhadap rencana tersebut.
Maritime Home, bangunan bersejarah di kota itu, akan kembali dibuka sebagai kafe pada akhir tahun ini.
Bangunan ikonik di tepi laut ini sudah berdiri sejak abad ke-19 dan pada mulanya berfungsi sebagai tempat berteduh bagi para pelaut yang mengalami kecelakaan di laut.
Bangunan ini sempat dipakai sebagai Galeri Maritim dan kantor promosi pariwisata kota, lalu beralih fungsi menjadi kafe di lantai dasar dengan apartemen di lantai atasnya.
Kawasan ini juga bakal kedatangan klub kesayangan yang sudah lama menghilang, Iron Fight Out, yang rencananya dibuka lagi pada 2026—tepat 20 tahun sejak tutup.
Renovasi sedang berjalan di Iron Fight it out, tempat yang dulu jadi ikon wisata Great Yarmouth, dengan perkiraan biaya lebih dari ₤2 juta.
Tempat itu rencananya kembali buka awal musim panas ini. Pengelola berharap lonjakan investasi jadi tonggak bangkitnya kota tepi pantai tersebut.

Kepala Dewan Great Yarmouth Borough, Carl Smith, mengatakan bahwa rencana revitalisasi Golden Mile telah disusun selama sepuluh tahun.

Foto: Hotel Kemenangan. Dahulu, Great Yarmouth adalah permata wisata pesisir, sekarang deretan hotelnya banyak yang tutup.

Wintertime Gardens, atraksi ikonik di resor tepi laut ini, merupakan rumah kaca bergaya Victoria terakhir yang masih berdiri. Sayangnya, bangunan bersejarah itu sudah lama ditinggalkan. Kini, proyek restorasi akan segera dimulai dan dijadwalkan selesai pada 2027, sehingga pengunjung bisa menikmatinya kembali.
Sama seperti banyak tempat wisata pesisir di Inggris yang mulai ditinggal, Yarmouth menghadapi masalah besar sebagai kota tujuan liburan.
Rumah-rumah wisma bergaya Victoria yang pernah ramai dipenuhi wisatawan kini tinggal bangunan kosong, terkatung-katung, dan terbengkalai usai menapaki jatuhnya ekonomi lokal selama bertahun-tahun.
Gang-gang sempit yang dulunya terbengkalai kerap dijadikan tempat membuang sampah dan perabotan rusak.
Aula kaca Winter Gardens yang termasuk bangunan kelas II di kota itu akhirnya tutup sementara; perbaikan besar-besaran—yang sudah lama dinanti—baru bisa dimulai setelah lembaga lotere menyuntikkan dana £10 juta.
Warga mengatakan kepada Daily Mail bahwa mereka berharap dana revitalisasi dibagi rata, sehingga jalan-jalan yang dipenuhi bangunan tua dan mengganggu pemandangan bisa dirapikan.





















