Seorang mantan insinyur TNI AL menggugat Kementerian Pertahanan Inggris sebesar £500.000. Ia menyebut pendengarannya rusak permanen setelah jet tempur F-35 asal Amerika mendarat di sampingnya di dek kapal induk.
Harry Jefferson tengah mengisi bahan bakar helikopter Merlin di kapal induk HMS Queen Elizabeth ketika jet tempur siluman F-35 mendarat hanya beberapa meter dari posisinya pada Juni 2021.
Meskipun sempat menutup wajah, Jefferson—yang baru berusia 27 tahun—masih terpapar dentingan mesin dan gelombang panas ekstrem saat F-35 mendarat secara vertikal.
Gangguan pendengaran permanen akibat jet F-35 memaksa sang insinyur mengundurkan diri dari TNI AL. Ia pun kini menuntut Kementerian Pertahanan lantaran kariernya di angkatan bersenjata terpaksa berakhir.
Rekan kerjanya di hari itu, Reece Colwell (25), ikut mengajukan gugatan, meski nominal yang ia minta diyakini jauh lebih rendah karena insiden itu tidak membuat kariernya terhenti.
Pengacara mereka menyatakan, seharusnya para insinyur diminta berlindung di dalam gedung atau area aman ketika jet tempur single-seater melaju hingga Mach 1,6 (sekitar 1.220 mph) mendarat.
Kementerian Pertahanan mengakui ada kelalaian karena pasangan itu seharusnya tak dibiarkan bekerja terlalu dekat dengan pesawat yang baru mendarat. Meski begitu, mereka akan membantah jumlah ganti rugi di Pengadilan Negeri London Pusat.
Di persidangan praperadilan, pengacara Stuart McCracken menyampaikan kepada Hakim Jane Evans-Gordon bahwa gugatan Jefferson bisa mencapai lebih dari £500.000 karena ia kehilangan karier di usia masih muda.
Harry Jefferson, mantan insinyur di Angkatan Laut Kerajaan, mengajukan gugatan senilai £500.000 kepada Kementerian Pertahanan. Ia menyatakan pendengarannya rusak permanen setelah sebuah jet tempur F-35 mendarat tepat di sampingnya.

Jefferson menyatakan bahwa ia mengalami kerusakan pendengaran permanen akibat insiden tersebut dan akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari dinas Angkatan Laut.

Pengacara pihak penggugat menyatakan, para insinyur seharusnya dilarang keluar atau dipindahkan ke area yang lebih aman saat jet tempur single-seater F-35 melakukan pendaratan dengan kecepatan Mach 1,6—setara 1.220 mil per jam.
Kala itu ia sedang bertugas di kapal induk HMS Queen Elizabeth, kapal perang terbesar dan paling tangguh yang dimiliki Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Kapal supercarrier ini mampu membawa hingga 72 pesawat tempur.
Salah satu jet yang menimbulkan bising itu adalah F-35 Lightning II buatan Amerika. Pesawat ini bisa lepas landas dari lintasan pendek model “ski jump” dan mampu mendarat secara vertikal.
Saat hendah mendarat, F-35 menengahkan mesinnya ke bawah agar bisa melayang. Kipas besar di belakang kokpit berputar menarik udara dari atas dan mendorongnya ke bawah agar jet tetap stabil.
Dokumen pengadilan menyebut Jefferson yang berasal dari Gosport, Hampshire, dan Colwell dari Taverham, Norfolk, bertugas bersama sebagai teknisi penerbangan pada Juni 2021 saat jet F-35 itu mendarat.
Ketika sedang mengisi bahan bakar, para insinyur—yang sudah memakai earmuff dan earplug berbahan busa—dipindahkan ke zona aman karena kedatangan jet F-35. Tak lama setelah itu, mereka disuruh kembali melanjutkan pekerjaan.
“Mereka kembali ke titik yang sama di dek penerbangan, menghubungkan selang ke Merlin dan mulai mengisi bahan bakar,” ujar McCracken.
Saat helikopter Merlin sedang diisi bahan bakar, jet tempur F-35 mendekati kapal induk HMS Queen Elizabeth dan bersiap mendarat.
Knalpot pesawat turun hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri. Dentuman itu nyaring sekali, disertai hembusan panas yang langsung menusuk telinganya.

Kejadian itu terjadi saat sang insinyur sedang bertugas di kapal induk HMS Queen Elizabeth. Sebuah jet tempur siluman F-35 mendarat hanya berjarak beberapa meter darinya pada Juni 2021.
Jet F-35 mendarat hanya beberapa meter dari posisi mereka. Para penggugat otomatis menutup muka untuk menghindari hembusan panas mesin. Sejak saat itu, semua mengeluhkan telinga berdenging nyeri dan pendengaran terganggu.
Setelah insiden itu, seorang petugas pesawat menghampiri mereka dan mengaku menyaksikan kejadiannya. Ia pun mendorong para korban untuk segera membuat laporan resmi.
Keesokan harinya, keduanya mengaku sulit mendengar. Setelah diperiksa, dokter menyatakan mereka mengalami cedera telinga akibat ledakan.
Laporan keselamatan penerbangan militer menyebut mereka terpapar kebisingan dan panas ekstrem, sehingga kondisi kesehatan mereka menurun drastis.
Kedua insinyur itu kini mengalami gangguan pendengaran permanen berupa tinitus dan kesulitan memahami percakapan saat ada suara bising, sebagaimana dijelaskan pengacara mereka.
Meskipun Colwell masih bisa menjalankan tugas di Angkatan Laut, pengadilan mendengar bahwa Jefferson memilih mengakhiri kariernya karena gangguan pendengaran yang terus-menerus memburuk.
April 2022 lalu, dokter menyatakan dia secara permanen hanya bisa ditempatkan di posisi terbatas karena alasan medis. Akibatnya, kariernya sebagai teknisi pesawat terpaksa berhenti.
Menurut pengacaranya, Jefferson merasa peluangnya untuk naik pangkat menipis. Karena kecewa dengan proses penurunan peringkat dan peninjauan karier yang menurutnya tidak adil, ia akhirnya memutuskan mengundurkan diri dari dinas.


Rekan sejawatnya, insinyur Angkatan Laut Kerajaan Inggris Reece Colwell, 25 tahun, ikut mengajukan gugatan, meski nominal yang ia minta diprediksi jauh lebih rendah karena kejadian itu tidak membuat kariernya terhenti.
“Gangguan pendengarannya bersifat permanen,” ujarnya. “Dia menuntut kompensasi karena tidak bisa lagi menjalani pekerjaan yang selama ini dicintainya di Angkatan Laut Kerajaan.”
Meskipun telinganya rusak, Colwell tetap menjalani tugasnya di Angkatan Laut. Menurut McCracken, karena dia terus bekerja, jumlah ganti rugi yang akhirnya diterima diprediksi akan lebih kecil setelah dihitung.
Dalam gugatannya, mereka menyebut Kementerian Pertahanan lengah karena memerintahkan mereka mengisi bahan bakar helikopter tepat saat jet tempur siluman F-35 menyentuh landasan.
Hakim Evans-Gordon menyampaikan di ruang sidang bahwa Kementerian Pertahanan sudah mengakui adanya kelalaian dalam tugas. Meski begitu, besarannya ganti rugi masih akan diperdebatkan. Jefferson sendiri telah menyerahkan surat pengunduran diri untuk mengakhiri masa dinasnya.
Biaya pengacara untuk kasus ini diperkirakan mencapai £326.000 yang dibagi untuk kedua pria, sementara Kementerian Pertahanan harus menanggung tambahan £117.000.
Perkara ini akan dibawa kembali ke pengadilan untuk diputuskan secara menyeluruh bila tidak tercapai kesepakatan di luar pengadilan.





















