Pandeglang, Banten — Dalam suasana malam yang syahdu di kaki Gunung Karang, gema dzikir dan silaturahmi menyatu dalam kunjungan penuh makna Sultan Banten ke-XVIII, RTB Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja, MBA, ke Pondok Pesantren Al-Fathaniyah, Selasa malam, 19 Agustus 2025.
Disambut hangat oleh KH. TB. Nu’man, pewaris tradisi keilmuan dan spiritual dari KH. TB. Ahmad Kadzim Asnawi bin Syekh Asnawi, kunjungan ini bukan sekadar seremoni. Ia menjadi simbol kuat sinergi antara Kesultanan Banten dan para ulama thoriqoh dalam menjaga ruh keislaman dan kearifan lokal di Tanah Jawara.
“Banten sejatinya adalah Banten Berdzikir, Banten Ber-Thoriqoh,” tegas Sultan Hendra Bambang dalam sambutannya. Ia menekankan pentingnya peran pesantren sebagai benteng moral dan spiritual masyarakat, sekaligus mitra strategis dalam membangun Banten yang damai dan beradab.
KH. TB. Nu’man pun menyambut dengan haru dan harapan. “Silaturahmi ini bukan hanya mempererat hubungan, tapi juga memperkuat tekad bersama untuk menjadikan Banten sebagai negeri yang diberkahi, tempat tumbuhnya generasi yang berilmu dan berakhlak,” ujarnya.
Pertemuan berlangsung hangat, diwarnai diskusi mendalam seputar tantangan sosial, pendidikan, dan spiritual masyarakat Banten. Di tengah obrolan, semangat kebersamaan terasa kental—menandakan bahwa Kesultanan bukanlah entitas simbolik semata, melainkan bagian hidup dari denyut masyarakat.
Dengan semangat “Banten Berdzikir”, kunjungan ini menjadi penanda bahwa warisan spiritual dan budaya bukan hanya untuk dikenang, tapi untuk dihidupkan kembali dengan cinta, kolaborasi, dan komitmen.









