Federasi Sepak Bola Maroko mengumumkan pada Senin bahwa mereka akan mengajukan protes ke Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) dan FIFA terkait diskualifikasi Senegal dalam final Piala Afrika di Rabat, Minggu lalu.
Badan pengawas sepak bola negara tuan rumah mengeluarkan pernyataan bahwa akan menelaah “pengunduran diri timnas Senegal” dan “insiden-insiden usai wasit memberikan tendangan penalti yang sah”.
Pernyataan tersebut juga menyebutkan bahwa tindakan para pemain Senegal “secara signifikan mengganggu jalannya pertandingan dan menurunkan semangat para pemain”.
Kontroversi meletus di final setelah Maroko mendapat penalti di injury time akhir babak normal, saat laga masih berimbang 0-0.
Para pemain Senegal marah atas keputusan itu dan beberapa di antaranya meninggalkan lapangan. Pertandingan sempat terhenti sekitar 20 menit sebelum Brahim Diaz mengeksekusi penalti yang kemudian diblok kiper Senegal, Edouard Mendy. Senegal akhirnya menang berkat gol Pape Gueye yang memastikan kemenangan 1-0 atas tuan rumah di babak tambahan waktu.
BACA JUGA | Perjuangan meraih handuk yang menjadikan kiper kedua Senegal pahlawan nasional
CAF mengeluarkan pernyataan usai bentrokan tingkat tinggi, mengutuk “perilaku yang tak bisa diterima” dari para pemain dan petinggi. “CAF sangat mengecam setiap tindakan tidak pantas yang terjadi selama pertandingan, khususnya yang ditujukan kepada tim wasit atau penyelenggara. CAF sedang menelaah semua rekaman video dan akan meneruskan perkara ini kepada otoritas berwenang agar mengambil tindakan tegas terhadap pelaku,” demikian bunyi pernyataan CAF.
Kami sangat mengutuk perilaku sejumlah ‘suporter’ serta sejumlah pemain dan ofisial tim Senegal. Tidak bisa diterima meninggalkan lapangan dengan cara seperti itu,” kata Presiden FIFA Gianni Infantino dalam pernyataan yang dikirim kepada AFP. “Kita harus selalu menghormati keputusan wasit di dalam maupun di luar lapangan,” ujarnya.
Diposting pada 19 Januari 2026
