StudioKctus

“Indonesia Kita ke-44: ‘Pasien No. 1’ Bikin Penonton Tertawa di Taman Ismail Marzuki”

Pasien tertawa taman ismail Pementasan Indonesia Kita yang berjudul “Pasien No.1” langsung mencuri perhatian di hari pertama, Jumat, 31 Oktober 2025. Suasana meriah langsung terasa begitu pintu Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dibuka. Penonton berdatangan antusias, dan begain lampu dimatikan, teater musikal ini berhasil mengocok perut mereka dari awal hingga akhir pertunjukan. Pembahasan ini menyoroti pasien tertawa taman ismail.

Cak Lontong, Akbar, Marwoto, Susilo Nugroho, Inaya Wahid, Sruti Respati, Silir Wangi, Olla Simatupang, Mucle, Wisben, Joned, dan Butet Kartaredjasa tampil berturut-turut di atas panggung. Setiap lelucon mereka—apakah berupa sindiran tajam terhadap birokrasi, olok-olok sosial media, atau guyonan seputar kehidupan sehari-hari—selalu dibalut dengan sentilan sarkastik yang menggigit, namun tetap jenaka. Campuran itu membuat penonton tak henti-hentinya tertawa terbahak-bahak, seolah dilempar lelucon satu demi satu tanpa sempat napas. Di tawa yang menggelegar, terselip pula kegelisahan bersama atas kondisi bangsa Indonesia kini, yang dengan cerdik disampaikan para komikus tanpa menggurui.

Teater Besar Taman Ismail Marzuki hari itu benar-benar hidup. Alunan obrolan pelan bergema di antara baris bangku yang nyaris tak tersisa kosong: sepasang kakek-nenek tergenggam erat di sudut, rombongan pelajar dengan tas ransel warna-warni, ibu-ibu berhijau muda yang tiba-tiba berbisik sambil menunjuk ke arah panggung, serta sekelompok kawula muda berkaos hitam yang asyik selfie sebelum lampu teater padam. Keramaian itu tercipta bukan hanya karena tiket habis, melainkan karena setiap generasi—mulai dari yang masih berkutat dengan PR hingga yang sudah berkutat dengan cucu—merasa cerita malam ini juga jadi cerita mereka.

Pertunjukan Indonesia Kita yang ke-44 kali ini diselenggarakan sebagai wujud penghormatan mendalam kepada sosok Jenderal Hoegeng Iman Santosa (14 Oktober 1921 – 14 Juli 2004). Beliau dikenang sebagai mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia periode 1968–1971 yang memegang teguh prinsip kejujuran dan integritas dalam setiap langkah pengabdiannya sebagai penegak hukum. Keteladanan yang ia tunjukkan selama menjabat—serta setelahnya—tetap menjadi sumber inspirasi bagi generasi penerus untuk senantiasa menempatkan keadilan dan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi atau kelompok.

Di sesi penutup pementasan, Butet Kartaredjasa menekankan pentingnya meneladani sosok Jenderal Hoegeng sebagai teladan keteguhan integritas dalam penegakan hukum. Ia mengajak penonton mengenang sosok polisi yang tidak pandang bulu ini sebagai inspirasi untuk tetap berpegang pada prinsip keadilan di tengah tantangan zaman.

“Kita bukan mendewakan Jenderal Hoegeng, tapi kita menghormati dan meneladani beliau karena integritasnya sebagai penegak hukum di negeri ini,” ujar Butet di atas panggung. Ia menegaskan bahwa sosok Hoegeng menjadi simbol kejujuran dan ketegasan dalam dunia hukum Indonesia, sesuatu yang sangat jarang ditemui di era modern.

Butet menegaskan bahwa sosok seperti Jenderal Hoegeng kini justru berperan sebagai antitesis dari realitas penegakan hukum di Indonesia masa kini. Ia menjadi cermin pedih yang memantulkan ironi: hukum dijalankan dengan pedang tajam ketika menyangkut warga biasa, tapi berubah menjadi tumpul tak bergigi begitu menghadapi mereka yang berkuasa. Sindiran ini menjadi nadi utama pementasan, menggoyang perasaan penonton untuk ikut bertanya: sejak kapan keadilan berubah menjadi barang mewah yang hanya bisa dinikmati sebagian kecil orang?

“Setiap dari kita yang hadir di sini wajib meneladani integritas yang selalu beliau junjung tinggi. Meski Pak Hoegeng telah tiada, semangatnya dalam mempertahankan prinsip tanpa kompromi terus hidup dan berkobar di relung hati kita,” tegas Butet.

Berbagai peristiwa sosial dan politik yang berlangsung sepanjang tahun ini—yang memuncak pada gelombang aksi massa di penghujung Agustus—menjadi cambuk tajam bagi Butet Kartaredjasa dan Agus Noor untuk segera menyiapkan lakon *Pasien No. 1*.

Bagi Butet, sosok Jenderal Hoegeng bukan sekadar nama dalam buku sejarah, melainkan pelita yang harus terus menyala. Ia ingin sang Jenderal hadir di panggung sebagai manusia teladan: tegas pada kebenaran, lembut pada rakyat, dan tak tergoyahkan oleh iming-iming kekuasaan. Dengan demikian, setiap penegak hukum yang menonton akan teringat bahwa jabatan bukanlah lencana kehormatan, melainkan amanah untuk menegakkan hukum secara jujur, menolak diskriminasi, serta memperjuangkan prinsip-prinsip demokrasi yang menjadi napas Reformasi 1998—prinsip yang kini masih terus diperjuangkan agar tak sekadar jargon dalam pidato.

Indonesia Kita sudah beberapa kali menghadirkan pertunjukan sebagai bentuk penghormatan kepada sosok-sosok yang menginspirasi. Di waktu yang lalu, mereka mementaskan serangkaian pagelaran bertajuk “Seri Maestro”, yakni rangkaian pertunjukan yang secara khusus dirancang untuk mengenang dan merayakan jasa para tokoh yang telah memberikan warna berharga dalam dunia seni dan budaya Tanah Air.

Di antara nama-nama yang tampil dalam pertunjukan tersebut adalah Koes Plus, Nano Riantiarno, dan Sawung Jabo. “Pak Hoegeng memang dikenal luas sebagai seniman yang aktif mengembangkan musik keroncong dan hawaian. Namun, dalam pertunjukan kali ini, kami memilih menonjolkan sosoknya sebagai simbol kejujuran, integritas, serta keberanian dalam menjalankan tugas sesuai dengan peraturan dan hukum yang berlaku,” ujar Butet Kartaredjasa dalam keterangan resmi yang diterima.

Itulah sebabnya Butet Kartaredjasa secara khusus menyambangi Meriyati Hoegeng, istri Jenderal Hoegeng, di rumahnya yang terletak di wilayah Depok, Jawa Barat, pada September 2025.

Dengan mengedepankan etika, Butet sengaja menemui Ibu Hoegeng yang kini berusia lebih dari seratus tahun. Kunjungan itu dilakukan untuk memohon restu dan menimba berkah, sebab program Indonesia Kita akan menampilkan lakon “Pasien No 1” yang terinspirasi dari kepribadian serta gagasan-gagasan cemerlang almarhum Pak Hoegeng.

Sikap dan watak Pak Hoegeng yang senantiasa berani dan jujur demi menegakkan kebenaran—bahkan sampai berani menolak perintah atasan bila sang atasan jelas-jelas mengkhianati kebenaran—menjadi jiwa yang menyala-nyala dalam pertunjukan terbaru Indonesia Kita. Keteguhan prinsipnya, keberaniannya menentang arus, dan ketulusannya membela keadilan dituangkan ke dalam setiap gerak, dialog, serta suasana panggung, sehingga penonton tidak sekadar menyaksikan kisah sejarah, melainkan turut terbakar semangat untuk berdiri di pihak yang benar.

Sebagai penulis naskah sekaligus sutradara, Agus Noor tak hanya ingin penonton terseret ke dalam dinamika pertunjukan; ia berharap mereka juga ikut menyerap teladan hidup Jenderal Hoegeng. Lewat durasi yang dibawakan, Agus Noor menawarkan cermin tentang bagaimana seorang pejabat dapat tetap berdiri tegak di tengah tekanan demi membela kebenaran dalam menjalankan tugas.

“Inspirasi pertunjukan Indonesia Kita tidak hanya datang dari seniman atau budayawan, melainkan juga dari sosok yang jauh dari dunia seni: seorang Jenderal Polisi, yaitu Pak Hoegeng. Kisah ini bukan sekadar biografi atau bentuk pemujaan, melainkan upaya meneladani keteladanan dan integritas yang kini semakin langka ditemukan,” ujar Agus, yang juga menulis dan menyutradarai sejumlah lakon dalam seri Indonesia Kita. Di antaranya, “Sabdo Pandito Rakjat” yang mengangkat kisah dalang legendaris Ki Nartosabdo, “Sinden Republik” tentang seni dan perjuangan Waljinah, “Kartolo Mbalelo” yang menampilkan kearifan seniman ludruk Kartolo, serta “Julini Tak Pernah Mati” yang menghidupkan kembali semangat kreatif sutradara Nano Riantiarno.

Semuanya disampaikan dengan gaya jenaka khas pentas Indonesia Kita, penuh sindir dan tawa yang mengena. Untuk menegaskan pesan penting dari jejak hidup Jenderal Hoegeng—yakni keteguhan menjunjung hukum dan kebenaran—Butet Kartaredjasa berencana mengundang secara khusus seluruh jajaran aparat kepolisian agar hadir dan menyaksikan langsung pertunjukan *Pasien No. 1*. Harapannya, melalui humor dan narasi yang menyentuh, para penegak hukum dapat merenung kembali akan peran dan tanggung jawab mereka di tengah masyarakat.

Tentu saja, saya berharap pertunjukan ini bisa hadir di hadapan Kapolri dan seluruh polisi yang masih aktif bertugas, dari berbagai jenjang kepangkatan. Karena itulah, saya akan mengundang Bapak Kapolri untuk hadir dan menyaksikan langsung.

Pementasan di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, akan berlangsung selama dua hari berturut-turut, yaitu Jumat, 31 Oktober 2025 dan Sabtu, 1 November 2025. Pertunjukan dimulai pukul 20.00 WIB dan berakhir sekitar pukul 23.00 WIB.

Lakon Indonesia Kita ke-44 mengajak penonton menoleh ke cermin besar: bayangkan bangsa ini sebagai bangsal rumah sakit yang tak pernah sepi. Pasien datang silih berganti, keluhan beragam—mulai dari demam politik hingga luka sejarah yang tak kunjung kering. Di koridor yang sama, dokter, perawat, dan petugas kebersihan saling berpapasan; satu menggenggam stetoskop, yang lain memegang sapu. Semua berusaha menahan agar bangsal ini tak ambruk, sekaligus bertanya, akankah obat yang diresepkan masih cukup, atau justru resep lama sudah kebal dan butuh ramuan baru?

StudioKctus.com
Exit mobile version