Jakarta – Perhelatan demonstrasi teknologi pertahanan siber di Jakarta hari ini mengukir sejarah baru. Acara yang digelar Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI bersama perusahaan India, Shyam VNL Private Limited, tidak hanya mempertemukan para petinggi militer, Polri, dan lembaga intelijen, tetapi juga dihadiri oleh perwakilan dari lembaga adat.
Kehadiran Sekjend Dewan Kerajaan Kesultanan Adat Nusantara (DEKKAN), YM. Andi Muhammad Oza Tagunu, menunjukkan bahwa isu keamanan siber adalah ancaman nyata yang harus ditanggapi secara inklusif oleh seluruh elemen bangsa.
Demonstrasi teknologi RF-Cyber Intelligence Solutions dan Secure Mobile Broadband Communication Systems ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi nasional. Biasanya, acara sejenis hanya dihadiri oleh kalangan pertahanan dan keamanan.
Namun, kehadiran Sekjen DEKKAN menegaskan kesadaran bahwa kedaulatan negara, baik dalam dimensi fisik maupun digital, adalah tanggung jawab kolektif. Kerajaan dan Kesultanan Adat di Indonesia juga merupakan pilar penting yang memiliki peran dalam menjaga stabilitas dan kedaulatan bangsa.
“Ancaman siber dan penyadapan tidak mengenal batas, bisa menargetkan siapa saja, termasuk pilar-pilar budaya dan adat kita,” ujar seorang narasumber yang hadir. “Inilah mengapa penting bagi seluruh pihak, dari TNI, Polri, hingga lembaga adat, untuk memiliki pemahaman dan kesiapan yang sama.”
Teknologi yang diperkenalkan, seperti sistem pendeteksi perangkat seluler dan pengaman ruang rapat, kini tidak hanya relevan untuk operasional militer, tetapi juga untuk melindungi komunikasi di lingkungan strategis lainnya, termasuk aset-aset penting yang dimiliki oleh Kesultanan Adat di seluruh nusantara.
Dengan hadirnya berbagai unsur strategis dari militer, kepolisian, intelijen, hingga perwakilan adat, acara ini mengirimkan pesan kuat. Indonesia tengah membangun sebuah sistem pertahanan nasional yang utuh dan menyeluruh, di mana kedaulatan siber menjadi prioritas dan partisipasi seluruh elemen bangsa menjadi kunci.***
