StudioKctus
Budaya  

Ranking 4 Film 28 Days Later dari Terbaik hingga Terburuk

Ranking 4 Film 28 Days Later dari Terbaik hingga Terburuk
Featured image untuk artikel: Ranking 4 Film 28 Days Later dari Terbaik hingga Terburuk

Hingga kini, serial film yang lahir dari 28 Days Later (2002) belum punya julukan resmi. Karena itu, semua orang hanya menyebutnya dengan judul film pertamanya. Mungkin “Seri 28 Hari-Kemudian” terdengar agak canggung, tapi setidaknya tak membingungkan. Film pembuka rilis tahun 2002 dan langsung menyegarkan genre “zombie”—meski sebenarnya bukan mayat hidup yang berkeliaran, melainkan manusia hidup yang terjangkit virus “Rage”. Virus ini tak mematikan, tapi membuat korban jadi haus darah dalam hitungan detik; itulah yang membuatnya sangat mencekam.

Film 28 Days Later pertama kali tayang pada 2002 dan langsung menyegarkan tampilan zombie—meski masih diperdebatkan apakah ia benar-benar termasuk film zombie.

Ketiga film pertama serial 28 Days Later selalu menarik karena tiap ceritanya berbeda: yang pertama menempel pada kisah sekelompok penyintas empat minggu setelah wabah Virus Rage, lalu 28 minggu kemudian, dan akhirnya 28 tahun kemudian—lewatkan saja “28 Bulan Kemudian” yang memang tak pernah dibuat. Kini, di 2026, 28 Years Later: The Bone Temple hadir sebagai sekuel langsung paling ketat, memboyong beberapa tokoh lama dan menepis pola “cerita orang baru di setiap sekuel”. Tanda-tandanya, waralaba ini bakal terus nyebar ke bioskop seperti virusnya sendiri—kabar gembira buat penikmat film zombie, apalagi yang suka versi cepat, brutal, dan bikin nggak nyaman. Ketiga filmnya—nggak ada yang buruk—dirangking di bawah ini, dari yang bagus sampai yang paling diunggul.

28 Minggu Kemudian (2007): Dua Kali Lebih Mencekam

Meskipun 28 Weeks Later dianggap sebagai bagian paling lemah dari seri 28 Days Later, film ini masih punya lebih banyak kelebihan daripada kekurangan—sesuatu yang jarang ditemui di banyak sekuel. Film ini memang meningkatkan porsi aksi dan tontonan dibandingkan prekuelnya, sehingga unsur horornya sedikit berkurang. Namun, jika disikapi sebagai film thriller-aksi, 28 Weeks Later tetap menawarkan hiburan yang cukup menghibur. Untuk penggemar horor, setidaknya adegan pembukaannya yang intens bisa memuaskan. Sayangnya, film ini seolah menampilkan momen terbaiknya di awal, sehingga sisanya terasa kurang memukul.

Kelemahan terbesar 28 Weeks Later ada di naskah: banyak momen justru terjadi karena para tokoh bertindak begitu ceroboh. Penonton film horor memang sudah terbiasa melihat karakter yang membuat keputusan buruk, tapi di sini jumlahnya berlebihan—dan tak hanya dua anak inti cerita yang sering melanggar logika. Penyebaran virus terasa dipaksakan lebih karena kelalaian manusia (plus sedikit nasial) ketimbang kekuatan sang wabah sendiri. Padahal film ini mengusung nada serius; kontras itu yang bikin susah untuk sepenuhnya ikut larut dalam ketegangannya. Di sisi lain, 28 Weeks Later tetap menghibur: aksi berdarahnya padu, suasana muramnya oke, serta potensi bahaya yang selalu mengintai. Sayang, plot yang terlampau dipaksakan sering kali menciderai kredibilitas, meski belum sampai membuat penonton berpaling.

3. ‘28 Years Later: Kuil Tulang’ (2026)

Kita tinggal menunggu sedikit lagi untuk 28 Years Later—sebuah sekuel yang sebenarnya baru muncul hampir 28 minggu setelah 28 Weeks Later, atau tepatnya sekitar 24–25 minggu. Intinya, tak sampai setengah tahun. Secara cerita, lompatan waktunya pendek: 28 menit kemudian. Di 28 Years Later terdapat kesimpulan yang agak aneh, namun 28 Years Later: The Bone Temple akhirnya menawarkan hal menarik di bagian akhir. Muncul kelompok pembunuh zombie ulung yang semuanya bernama Jimmy dan sengaja meniru sosok Jimmy Savile. Alurnya memang bukan lubang kelinci paling brilian, tapi bila Anda kucing yang penasaran, silakan menelusurinya. Kelompok ini jelas tak stabil, seperti tergambar dalam 28 Years Later; begitu Anda memahami motivasi mereka, mereka justru lebih mencekam—tidak lagi terasa konyol atau aneh seperti akhir film sebelumnya. Kekerasan yang dilakukan aliran sesat Jimmy di sini bahkan sulit ditonton.

28 Years Later: The Bone Temple justru memberi Ralph Fiennes ruang lebih leluasa; ia jadi pusin perhatian dan menjalani aksi yang relatif tenang sekaligus mengungkap fakta baru soal para terinfeksi—bahan yang bisa jadi kunci di sekuel nanti. Meski zombie-nya paling sedikit di antara tiga film, kekosongan itu tak terasa karena manusia-manusia jahat di sini lebih menyeramkan dari pada gerombolan infected yang cuma ngamuk. Alurnya tetap menggelinding hingga klimaks yang oke, walau di sepertiga terakhir mulai terasa kehabisan tenaga. Penutupannya dramatis—agak tiba-tiba—dan langsung mengantar ke judul berikutnya. Cara ini memang menggoda, tetap menarik, dan kalau nanti Alex Garland menulis skrip serta Danny Boyle kembali menyutradarai, trilogi 28 Years bisa berakhir manis. Sebagai catatan, arahan Nia Da Costa di sini solid, meski tak seliar atau senorak Boyle di film-film sebelumnya.

‘28 Tahun Kemudian’ (2025) Terbaru, Paling Dinanti

Tunggu 28 Tahun Kemudian memang panjang: hampir dua dekade sejak sekuel kedua, plus kabar bahwa Alex Garland kembali menulis naskah dan Danny Boyle kembali duduk di kursi sutradara (kali ini juga sebagai co-writer). Ekspektasi penonton pun melambung. Begitu film bergulir, terasa bahwa akhir 28 Minggu Kemudian tidak dijadikan patokan; cerita ini lebih dekat dengan 28 Hari Kemudian, meski tidak benar-benar melanjutkannya karena tokohnya baru dan latar waktunya sudah 28 tahun usai wabah pertama. Perubahan paling mencolok adalah wajah dunia yang kini jauh berbeda. Virus tidak stagnan: terinfeksi bermutasi jadi varian-varian baru. Ada yang super kuat dan kebal, ada pula yang besar namun lamban serta suka bersembunyi. Tentu saja, seperti dua film sebelumnya, sebagian tetap ngamuk dan lincah, siap mengejar siapa pun yang masih bertahan.

28 Years Later memang ambil risiko besar soal gaya visual dan editing, tapi keputusan-keputusan itu tidak semuanya berhasil. Bagian awal terasa cepat dan menegangkan, sementara paruh kedua melambat, lebih dramatis, dan bikin beberapa penonton kehilangan minat. Transisi antara dua bagian ini juga kasar, apalagi pengaturan buat sekuelnya disisipkan dengan cara yang aneh—mungkin memang disengaja, tapi tetap terasa janggal. Intinya, film ini tidak seimbang; bukan tandingan langsung dari seri pertama. Meski begitu, ada beberapa adegan keren yang tetap bikin layak ditonton. Sayangnya, tiga–empat menit terakhir sangat merusak kesan, sampai-sampai kalau Anda berhenti sebelum bagian itu, Anda bisa keluar bioskop dengan perasaan hampir sebagus nonton 28 Days Later versi satu.

28 Days Later (2002): Awal Wabah Mematikan

Tebakanmu mungkin tepat: 28 Days Later memang film terbaik di seri ini. Ia berani menyodorkan ide segar ke sub-genre zombie—bukan karena zombie lamban sudah usang, melainkan karena film ini cuek berkata, “Urusan kami, kami yang atur,” lalu berhasil bikin dirinya beda. Hingga kini ia masih menonjol, walau inti ceritanya sederhana: seorang pria bangun dari koma dan, dalam empat minggu ia hilang, dunia sudah hancur total. Baru melangkah keluar ia nyaris mati, lalu bertemu segelintir penyintas yang harus bersatu menuju tempat perlindungan—di mana pun yang masih bebas dari ancaman terinfeksi.

28 Days Later memang punya momen-momen berat dan menyedihkan, tapi di sela-selanya masih terselip harapan, bahkan sedikit kelucuan yang tak disangka. Secara emosional, film ini menyuguhkan lonjakan yang luas: takut, sedih, marah, hingga lega sekejap. Tampilannya yang penuh butiran dan berdebu justru memperkuat suasana mencekam; setiap sudut kota London terasa sunyi, rapuh, dan menggigit. Alih-alih mengejar jump-scare terus-menerus, ceritanya tahu kapan harus melambat—tak pernah membosankan, malah menambah ketegangan. Bukan karya horor tanpa cela: ada satu peran utama yang performanya kurang meyakinkan (begitu Anda menonton, pasti tahu yang mana). Meski begitu, dari sisi gaya, estetika, dan tumpahan emosinya, film ini masih kuat bertahan hingga kini, didukung pula oleh trek musik yang menarik perhatian.

Exit mobile version

Di antara banyaknya opsi, situs slot gacor hari ini yang satu ini menawarkan bonus selamat datang yang menguntungkan.

Informasi lengkap mengenai aplikasi dapat dilihat di tobrut888 bagi yang ingin berlatih atau sekadar bersenang-senang.