StudioKctus
Budaya  

Manajer Malam: Permata Tersembunyi John le Carré yang Wajib Kamu Tonton

Manajer Malam: Permata Tersembunyi John le Carré yang Wajib Kamu Tonton
Featured image untuk artikel: Manajer Malam: Permata Tersembunyi John le Carré yang Wajib Kamu Tonton

John le Carré memang nama besar di dunia cerita mata-mata, tapi bukan hanya di rak buku—ia juga langganan inspirasi Hollywood. Novel-novelnya kerap disulap jadi film, salah satunya Tinker Tailor Soldier Spy yang hingga kini dianggap klasik modern. Adaptasi pertama The Little Drummer Girl dibuat 1984 dengan Diane Keaton dan Klaus Kinski, tapi AMC tak menyerah: mereka menyulap kisah itu jadi serial yang diktaktir sebagai salah satu drama mata-mata terbaik sepanjang masa. Seperti khas le Carré, tak ada tokoh putih-putih; serial ini justru menunjukkan tipisnya batas antara agen dan kaki tangan, sekaligus betapa rapuhnya prinsip saat seseorang terlalu lama bermain di zona abu-abu.

Sumber cerita yang brilian memang jadi modal utama, tapi pindah dari novel ke layar tetap butuh tangan sutradara ulung agar serialnya punya nyawa sendiri. The Little Drummer Girl disutradarai seluruhnya oleh Park Chan-wook, sineas Korea Selatan yang dikenal lewat mahakarya seperti Oldboy, The Handmaiden, dan Decision to Leave. Sebelumnya, Park sudah mencicipi produksi berbahasa Inggris lewat thriller 2013, Stoker. Kendati begitu, The Little Drummer Girl terasa segar, berani, dan penuh kejutan—seperti hembusan udara baru, bahkan bila dibandingkan karya-karya luar biasanya sebelumnya.

Sinopsis “Gadis Drummer Kecil”

Dalam The Little Drummer Girl, inti ceritanya sederhana: menjadi mata-mata itu seperti main teater—siap berakting di mana saja. Karenanya, seorang pemain sandiwara kelas atas bisa jadi agen penyamaran paling meyakinkan. Cerita dimulai tahun 1979, saat Eropa masih terengah-engah menyaksikan “September Hitam” yang memicu ketegangan Israel-Palestina. Dua petinggi Mossad, Martin Kurtz (Michael Shannon) dan Gadi Becker (Alexander Skarsgård), menyiapkan operasi besar: menjejak dan menghentikan jaringan teroris. Sasaran mereka, Khalil Al Kaddar (Charif Ghattas), dalang di balik serangan-serangan berikutnya. Untuk menjebolnya, mereka merekrut Charlie Ross (Florence Pugh), aktris teater kiri yang sedang naik daun. Begitu Charlie menyadari Kurtz dan Becker tahu lebih banyak soal dirinya daripada yang dia tutupi, ia tak bisa mundur: misi itu jauh lebih sulit dan berbahaya dari skenario panggung manapun.

Terkait

Episode paling anyar dari The Sympathizer menyuguhkan kekusutan warisan film-film Perang Vietnam dengan cara yang tak biasa.

Di episode 4, tampak jelas bahwa Hollywood masih enggan menyelami pengalaman Vietnam secara mendalam.

Di balik aksi The Little Drummer Girl terdapat permainan penyamaran yang lebih rumit dari sekadar menangkap penjahat atau menggagalkan serangan. Kurtz dan Becker tak puas hanya menangkap Khalil; mereka ingin menjebol seluruh jaringannya dan memastikan serangan serupa tak terulang. Trik dramanya terletak pada fakta bahwa semua tokoh—tanpa kecuali—berdusta, bahkan pada diri sendiri. Charlie makin terjebak ketika rasa suka pada Khalil muncul dan ia mulai memahami sebagian tujuan perjuangan Khalil. Kurtz tampaknya sudah menebak kemungkinan ini, seolah ia tahu persis pasangan itu akan saling jatuh hati. Di antara mereka, Becker tetap paling misterius. Skarsgård menyulapnya jadi mata-mata lembut nan karismatik hingga sulit dibaca: saat ia tiba-tiba curhat soal kemarahan pada korban tak bersalah, kita tetap tak yakin apakah itu kejujuran atau bagian permainan manipulasi berikutnya.

‘The Little Drummer Girl’: Mahakarya Terbaik Park Chan-wook

Park memang jago menyulap adegan jadi hidup. Di Gadis Drummer Kecil, ia menegangkan intrik dengan cara yang jarang ada di layar kaca. Meski kreativitas serupa tampak di serial HBO Sang Simpatisan, kali ini ia lebih leluasa karena menguasai seluruh proyek. Triknya: beralih perspektif. Lewat mata Charlie yang pelan-pelan menjejak karakter baru, kita merasakan sendiri bahwa “kebenaran” bisa beda-beda tergantung siapa yang mengingat. Detail operasi yang mungkin terlalu kompleks untuk film panjang, dengan enam episode justru cukup untuk menampilkan keindahan seluruh proses.

Humor kelam ala Park memang masih ada, tapi The Little Drummer Girl lebih suram karena menatap kekerasan yang berputar-putar: tragedi memicu balas dendam, dendam melahirkan kebencian baru, begitu seterusnya. Tak satu pun tokoh lepas tanpa luka—tangan mereka semua berlumuran darah, baik secara harfiah maupun kiasan. Penonton sendiri yang harus memutuskan apakah akhir cerita ini benar-benar membawa harapan. Meski tetap di lingkungan khas le Carré, nuansanya terasa segar dan modern; Park juga membuktikan ia sehandal bekerja dengan pemain internasional. Dirilis setahun sebelum A Most Wanted Woman, film ini seolah sudah menduga kalau Florence Pugh bakal jadi salah satu aktris terbaik generasinya. The Little Drummer Girl adalah mahakarya yang tak boleh dilewatkan—wajib ditonton penggemar le Carré, pengikut Park, dan siapa pun yang menghargai sinema berkualitas.

Exit mobile version

Di antara banyaknya opsi, situs slot gacor hari ini yang satu ini menawarkan bonus selamat datang yang menguntungkan.

Informasi lengkap mengenai aplikasi dapat dilihat di tobrut888 bagi yang ingin berlatih atau sekadar bersenang-senang.