StudioKctus
Budaya  

10 Film Terbaik Pasca-Pandemi yang Bikin Penonton Terdiam

10 Film Terbaik Pasca-Pandemi yang Bikin Penonton Terdiam
Featured image untuk artikel: 10 Film Terbaik Pasca-Pandemi yang Bikin Penonton Terdiam

Pandemi COVID memang mengubah banyak hal, tapi kali ini kita tak akan menelusuri perubahan gaya hidup—fokus kita hanya pada industri film. Cukup diketahui: awal-awal 2020-an, gedung bioskop terasa lebih sepi karena jadwal rilis film tertunda dan penonton lebih memilih berdiam di rumah.

Mengingat sebagian pakar masih menyatakan pandemi belum usai, kita ambil patokan tanggal 5 Mei 2023—ketika status darurat kesehatan global dicabut—sebagai tanda berakhirnya masa pandemi. Sejak hari itu, sejumlah film baru berhasil membuat penonton terdiam saking tergugahnya. Berikut sepuluh judul terbaik yang layak masuk daftar.

‘Hari Sempurna’: Film 2023 yang Bikin Terdiam

Judul *Hari Sempurna* sebenarnya sudah pas: film ini memang menyuguhkan kesempurnaan dalam kesederhanaan. Bagi yang hanya dengar sinopsis singkat, ceritanya bisa terdengar biasa—malah sepi. Kita hanya menemani seorang pria yang tiap hari membersihkan toilet umum demi mencari nafkah. Ia hidup menyendiri, sesekali berbincang dengan orang-orang yang lewat dalam rutinitasnya yang monoton.

Sebagai drama yang menitikberatkan pada kedalaman tokohnya, film ini menawan karena meneguhkan hidup dan menyentuh kompleksitas emosi—pengalaman yang lebih mudah dirasakan ketika ditonton langsung. Tidak banyak karya sekelas Hari Sempurna; ia punya daya tarik yang justru bertambah seiring waktu, tak pernah pudar meski tahun-tahun berlalu.

Dune: Bagian Kedua, Epik 2024

Ketika Dune tayang di bioskop pada 2021, tak ada jaminan sekuelnya akan segera dibikin. Padahal, cerita film itu sama sekali tak menutup cerita: semua konflik masih terbuka. Bandingkan saja dengan The Lord of the Rings: The Two Towers yang juga berakhir gantung, tetapi semua orang tahu ia bagian dari trilogi yang sudah diproduksi sekaligus. Dune tidak seberuntung itu.

Syukur kita hidup di masa di mana Dune (2021) cukup laris sehingga Dune: Bagian Kedua bisa diberi lampu hijau. Hasilnya, sekuel ini justru lebih epik dari pendahulunya. Bahan cerita di novel aslinya terasa lebih segar di sini, dan film ini sekaligus jadi penutup yang memuaskan—sekaligus membuka celah untuk trilogi. Saat ini kita baru punya duologi, tapi semoga segera lengkap menjadi trilogi yang istimewa.

Robot Impian: Kiswa 2023 yang Bikin Terdiam

Kalau Anda sedang mencari film animasi pasca-pandemi yang benar-benar membuat terdiam, Dream Robot jawabannya. Ceritanya berlangsung di semacam New York paralel: kota sunyi tanpa dialog, dihuni hewan-hewan yang berperilaku manusia. Uniknya, tanpa satu pun kata terucap penonton tetap terseret emosinya; film ini membuktikan bahwa narasi kuat tak selalu butuh percakapan.

Meskipun Robotic Dreams tampak ramah keluarga, film ini ternyata sangat menusuk emosi; banyak penonton tiba-tiba tersedak sendiri dan keluar bioskop dengan perasaan pahit yang sulit dilupakan.

Sepasang sobat—anjing kesepian dan robot buatannya—menjalani hari dengan ceria, hingga suatu kali kecelakaan memisahkan mereka. Masing-masing kini menempuh perjalanan panjang untuk bertemu lagi. Film ini tampak seperti dongeng keluarga, tapi justru menyayat hati; manis di permukaan, getir di baliknya.

Pertempuran Satu demi Satu, 2025

Paul Thomas Anderson memang terkenal dengan dramanya yang kuat dan sentuhan komedi kelam, tapi dalam *Satu Pertempuran Demi Pertempuran Lainnya*, ia nyemplung ke genre aksi/thriller lebih dalam dari sebelumnya—sekaligus menghadirkan film yang mungkin paling bikin ngakak sepanjang kariernya. Lewat film ini, ia menyoroti politik dan konflik sosial-budaya dengan cara yang, bagus atau buruk, ngena banget dengan suasana era 2020-an.

Seru rasanya menyaksikan semua kekacauan itu berlangsung. Film ini besar dan ambisius: ia menyodorkan lelucon kocak sekaligus rangkaian komentar sosial yang tajam. Secara ajaib, pertarungan demi pertarungan tersusun jadi satu kesatuan koheren, menggairahkan, dan segar. Di atas kertas mungkin tampak berat dan berantakan, tapi eksekusinya membuat seluruhnya terasa istimewa.

‘Godzilla Minus Satu’: Monster Jepang Pasca-Pandemi

Franchise Godzilla sudah berjalan selama hampir tujuh puluh tahun sejak film pertamanya, dan Godzilla Minus One membuktikan bahwa daya tariknya tak pernah luntur. Beberapa versi Hollywood belakangan memang cukup menghibur, namun Godzilla Minus One dianggap sebagai yang terbaik sejak awal 2000-an—banyak penggemar bahkan menobatkannya sebagai seri paling oke di abad ke-21.

Godzilla Minus One mengambil langkah nekat: mengembalikan monster ikonik ke Jepang tahun 1945, tepat setelah bom atom dan kekalahan Perang Dunia II. Karena negara masih remuk, perlawanan warga terhadap Godzilla terasa nyaris mustahil, membuat setiap adegan pertempuran mencekam dan penuh tekanan. Film ini tetap menghibur sekaligus ramah penonton baru; jika versi 1954 terasa terlalu klasik, Godzilla Minus One menawarkan pintu masuk yang sama kuat untuk mulai menikmati waralaba Godzilla dari Jepang.

Substansi (2024): Kegilaan Anti-Penuaan

Substansi termasuk horor paling berani pasca-pandemi, bahkan bisa jadi salah satu film terbaik abad ini. Ia mengawali cerita dengan ide tubuh yang simpel, lalu menelusurnya lewat fakta-fakta keras yang disuguhkan perlahan. Meski durasinya panjang, alur tetap kencang dan tak sempat membosankan. Intinya, film ini menampilkan apa yang terjadi bila seorang selebriti yang mulai menua nekat menempuh prosedur berisiko demi kembali muda.

Bahkan bila ada yang berusaha menceritakan arah ceritanya, pendengar mungkin tak akan percaya. Rasanya kurang seru kalau Anda sudah tahu jalannya kisah, karena Substansi menawarkan petualangan yang berani dan punya ciri khas. Film ini terasa seperti karya klasik zaman now, meski saat ini ia baru sekadar rasa yang bisa kita nikmati—puluhan tahun lagi bisa jadi kesan horornya sudah memudar, mirip film horor tahun 1930-an atau 1940-an yang sekarang tak lagi menakutkan, walau Anda memang penakut. Huuu-ha, gitu lho.

Oppenheimer: Bom Atom yang Bikin Dunia Terdiam

Godzilla Minus One menegur kecanggihan teknologi dan bahaya senjata nuklir lewat sudut fiksi ilmiah nan mencekam. Oppenheimer menyentuh isu serupa, tapi dalam bentuk biografi. Tekanannya lebih nyata: separuh durasi mengikuti J. Robert Oppenheimer menjelang Perang Dunia II, lantas berlanjut pada jeritan moral pasca-bom atom, tanpa pernah menampilkan medan perangnya secara langsung.

Oppenheimer menata waktu seperti puzzle Nolan: loncat maju-mundur tapi tetap mengena. Ia jadi film perang terbaik yang tak perlu menampilkan medan tempur; cukup lewat debat ruang tertutup, rasa takut bom atom sudah menggelegar. Kekhawatiran akan perang nuklir berikutnya menguar lebih nyaring dari ledakannya sendiri, membuat penonton terpaku bukan pada api, tapi pada bara yang tinggal di kepala.

“Pria yang Lebih Baik” (2024)

Tidak perlu jadi penggemar Robbie Williams untuk menikmati *Better Man*. Film biografi ini—yang tampaknya paling terlewatkan di era pasca-pandemi—menyajikan kisah Williams dengan gaya struktur yang memang sudah sering dipakai film sejenis. Meski begitu, ia tetap punya sentuhan unik yang membuatnya layak disimak lebih dalam.

Williams hadir sebagai seekor simpanse, lalu Pria yang Lebih Baik tampil dalam bentuk musikal—tetapi intens. Ternyata, film ini bergerak ke zona yang lebih kelam ketimbang biopik musik pada umumnya. Kekerasan emosional dari kisah nyatanya itulah yang membuat getaran perasaan lebih dalam. Hasilnya aneh, canggih secara teknis, tersusun rapi dalam penyutradaraan, sekaligus nekat menempuh jalannya sendiri hingga akhirnya sanggup menyentuh penonton dengan tulus.

“Pendosa” (2025)

Tahun 2025 tampaknya jadi waktu horor menunjukkan taringnya: Orang Berdona dinilai sebagai film terbaik. Tapi ia bukan sekadar cerita menakutkan; di dalamnya terselip musik, latar sejarah, serta awal ala kriminal-drama yang perlahan berubah jadi aksi mencekam di babak penutup.

Penonton bisa menikmati gaya cerita yang disajikan dengan natural; meskipun setiap unsurnya terasa familiar, cara penyusunannya membuat Orang berdosa tetap menang di garis finish. Pengaruhnya begitu kuat sehingga film non-epik lain berdurasi normal terasa kurang memuaskan—bahkan tak layak—bila dibandingkan. Lebih mengejutkan, dalam 138 menitnya tersimpan materi yang lebih padat daripada banyak film yang berdurasi satu atau dua jam lebih panjang.

‘Kita Semua Orang Asing’: Tegur Pandemi 2023

Film Kita Semua Orang Asing memang punya risiko dibilang berlebihan. Tapi kalau ceritanya justru membuat kita ingin mendorong pembicaraan ke wilayah yang hiperbolik, itu justru tanda ia berhasil menyentuh. Awalnya tampak seperti drama romantis, lalu tiba-tiba muncul sudut pandang fantastis yang mengejutkan tapi tetap bersahaja. Misteri itu terus menggantung hampir sepanjang durasi, sehingga meringkasnya tanpa bocoran pun jadi susah.

Sebaiknya siapkan waktu dan duduk nyaman sebelum menonton. Kita Semua Orang Asing bukan film ringan; jika setelah sekali tonton Anda belum terlalu terguncang, putar ulang. Dalam satu-dua dekade terakhir, produksinya termasuk paling baik, dan besar kemungkinan ia akan dianggap sebagai klasik di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Di antara banyaknya opsi, situs slot gacor hari ini yang satu ini menawarkan bonus selamat datang yang menguntungkan.

Informasi lengkap mengenai aplikasi dapat dilihat di tobrut888 bagi yang ingin berlatih atau sekadar bersenang-senang.