![]() |
| H. Yobana Samial,SH |
SBNews –
Kecendrungan H. Yobana Samial, SH, dengan program – program yang bernuansa
Islami, menjadi warna khas dari dirinya yang saat ini di dengung – dengungkan
bakal maju BA 1 Padang Pariaman, pada Pilkada serentak 2020 mendatang. Yobana
mengakui, bahwa Ia sudah menyusun Grand Design Pembangunan Wisata Syariah Kabupaten Padang Pariaman Menuju Masyarakat
Islami, Adil Sejahtera & Masyhur.
Yobana, potensi terbaik yang dimiliki Padang Pariaman itu adalah pariwisata. Ia
menguatkan, dimana terdapat 50 kota yang income
perkapita tertinggi dunia adalah kota wisata serta pantai dan wilayahnya
biasa-biasa saja. Sedangkan, Kabupaten Padang Pariaman memiliki semuanya, yaitu
ada laut, pantai, pulau, gunung, sungai, muara sungai, lembah, bukit-bukit,
gunung – gunung, sosial, budaya, agama, sejarah dan sebagainya.
semua potensi Kabupaten Padang Pariaman itu dikemas dengan baik, maka akan
sangat bernilai luar biasa. Apalagi Wisata di Padang Pariaman yang kita kemas
dengan Syariah, yang juga merupakan perwujudan Adat Basandikan Syarak, Syarak Basandikan Kitabullah (ABS-SBK),”
ungkap Yobana Samial.
tidak dikemas atau diletakan pondasinya syariah sejak sekarang, kapan lagi?
Apakah ada jaminan dikemas sesuai syariah kelak? Intinya, Saya mengkhawatirkan
akan dikemas selain syariah dan ini akan sangat berbahaya bagi kelanjutan ABS –
SBK. Kita bertanggung jawab kepada generasi selanjutnya,” imbuh Yobana.
dan rujukan Yobana Samial soal pembangunan ber-syariah, sesuai dengan Firman
Allah SWT, dalam Al – Qur’an, Surat Al-A’raf, Ayat (96), yang artinya; “Dan sekiranya penduduk negeri beriman
dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan
bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa
mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan”.
ingin membangun ekonomi ummat, ajaklah terlebih dahulu ummat itu untuk Beriman
& Bertaqwa; yaitu mengajak ummat Kabupaten Padang Pariaman menta’ati
perintah & anjuran -Nya dan meninggalkan serta menjauhi larangan-Nya. In
Sya Allah, keberkahan akan terwujud, yaitu keadilan & kesejahteraan dunia
dan akhirat,” papar Bang Yob, sapaan akrab Yobana Samial, yang saat ini
berprofesi sebagai Notaris itu, belum lama ini kepada SBNews di kediamannya,
Jakarta.
Ekonomi Ke-Ummatan
Yobana Samial soal ekonomi ke-Ummatan memang tidak main – main. Bentuk program
ekonomi ke-Ummatan yang ia maksud itu bernama : “Amanahkan Zakat, Infaq & Sedekah Jama’ah”, pada suatu mesjid
(surau), disingkat dengan Program AZISJAH
adalah program yangmemanfaatkan potensi
Zakat, Infaq & Sedekah(ZIS) jama’ah
suatu mesjid (surau) dalam rangka memberdayakan ekonomi mereka.
saja ZIS jama’ah saja, tetapi juga akan diupayakan ZIS dari para perantau dari
lingkungan mesjid dan BAZNAS Daerah; APBD, orang/ lembaga yang ber-empati
dengan program itu dan Dana Alokasi Khusus dari Pemerintah Pusat atau dana
lainnya,” ungkap Yobana Samial.
Pengumpulan ZIS
Yobana Samial, zakat jama’ah dapat dikumpulkan kapan saja, kesempatan apa saja
dan dimana saja.Sedekah jama’ah
dikumpulkan pada setiap jama’ah shalat ke mesjid dan dianjurkan bersedekah
minimal Rp. 1.000,- Seandainya ada 100 jamaah, berarti setiap waktu shalat
terkumpul uang Rp. 100.000,-.Setidaknya
untuk tiga waktu shalat (shubuh, maghrib dan isya), terkumpul uang Rp.
300.000,- dan sebulan akan terkumpul Rp. 9.000.000,-. Berarti, satu tahun, akan
terkumpul uang sebanyak Rp. 108.000.000.
ditambah ZISdari para perantau, dengan
target sebesar Rp. 200.000.000. ZISBAZNAS Kabupaten Padang Pariaman, APBD dan Dana AlokasiKhusus. Berarti, akan terkumpul uang dalam
ratusan jutaan rupiah.
Pemberdayaan Jama’ah
yang terkumpul inilah yang digunakan untuk meningkatkan ekonomi ummat.
Misalnya, dengan memberikan kesempatan kepada Jamaah yang membutuhkan untuk
membuka dan menjalankan usahanya dalam berbagai bidang, seperti pertanian,
peternakan, perikanan dan usaha-usaha tertentu dengan memberikan mereka
pinjaman: tanpa bunga dan margin, kecuali biaya administrasi saja (jumlah
kecil) dan pengembalian sesuai kesanggupan jama’ah. Sedangkan zakat tanpa
pengembalian dan diberikan kepada yang berhak menerimanya.
perhatian dalam pemberdayaan itu (tahap awal), antara lain pilihlah Mesjid yang
infrastrukturnya layak; ada pengurus dan melaksanakan shalat lima waktu;
jama’ah aktif, minimal nantinya 100 KK setelah diberdayakan dan lainnya.”
Tukas Bang Yob, sapaan akrab Yobana Samial dikalangan politisi dan masyarakat
luas.
yang sudah menjalankan program itu akan menjawab semua permasalahan jama’ah,
seperti lahan tidur akan menjadi tidak ada lagi; yang menganggur akan bekerja;
yang kurang (tidak) modal dapat modal; yang tidak terbina menjadi terbina, yang
tidak terpasarkan produknya menjadi terpasarkan,” ujar Bang Yob.
Bang Yob, pemberdayaannya dapat diarahkan agar menjadi daya tarik bagi semua
orang (destinasi wisata). Contoh, kita bisa mewujudkan satu Korong (lingkungan
satu mesjid) berusaha dalam bidang tertentu, seperti kerupuk jengkol, maka
korong itu menjadi daerah; Wisata Kuliner Kerupuk Jengkol.
banyak cara pemberdayaan ekonomi ummat itu menjadi destinasi wisata, sesuai
potensi yang dimiliki daerah itu. Tinggal melakukan pengkajian dan musyawarah
ummat setempat. Kemudian diperkuat dengan aspek non ekonomi, yaitu aspek lain,
seperti sosial budaya, agama pendidikan, system keamanan dan pertahanan,
kesehatan dan sebagainya yang diciptakan menarik dan orang diluar ingin melihat
dan mendatanginya lokasi itu, seperti adanya mesjidnya ramah ummat, pesanteren
tahfidz, orangnya ramah, suguhan kuliner yang enak; budaya, seperti silat,
tari, pepatah petitih dan sebagainya,” katanya lagi.
lanjutnya, Bang Yob menjelaskan, bahwa pemberdayaan ekonomi dengan destinasi
wisata dan memakai pola tersebut, tentu dapat berpengaruh kepada ekonomi ummat
di sekitarnya. Orang berkunjung pasti membutuhkan makanan, minuman, dan
oleh-oleh ketika berkunjung dan sebagainya. Ummat setempatlah yangmemanfaatkannya.
Ekonomi Non Ke-Ummatan
pemberdayaan ekonomi ke-Ummatan, maka diperlukan pula pemberdayaan ekonomi non
keUmmatan, yaknipemberdayaan ekonomi
kepada orang/lembaga tertentu yang tidak berbasis jama’ah mesjid, dalam suatu
kegiatan ekonomi, dengan tetap mengkedepan aspek-aspek syariah (agama),
kearifan lokal (adat kebiasaan) dan hukum nasional dalam berusaha.
ekonomi non-keUmmatan dapat memacu berdiri dan aktifnya perusahaan swasta
danBUMKor. (Badan Usaha Milik Korong),
BUMKec. (Badan Usaha Milik Kecamatan), BUMNag. (Badan Usaha Milik Nagari),
Program ekonomi kemitraan dan sebagainya yang dianggap strategis.
Daerah (Pemda) sangat perlu membuat Wisata Edukasi, Pembangunan Hotel Syariah
dilokasi tertentu, yang memang lokasi itu diarahkan untuk destinasi wisata dan
lainnya. Mengajak investor berinventasi pada sektor yang strategis yang memang
harus dikerjasamakan, sehingga dapat menyedot tenaga kerja dalam jumlah
besar.
mewujudkan semua program tersebut (Ekonomi Ke-Ummatan & Non Ke-Ummatan)
dibutuhkan pendukung – pendukung dalam berbagai hal ; diantaranya permodalan,
disamping ZIS jama’ah, ZIS dari para rantau, ZIS BAZIS Daerah, APBD Daerah,
Dana Alokasi Khusus dari Pemerintah Pusat dan dana lainnya, seperti yang
ber-empati dengan program itu. Termasuk mudah mendapatkan pembiayaan dari
Lembaga Perbankan Syariah; pembinaan : Pemerintah; swasta, seperti seperti PKDP
dan organisasi sayapnya dan pihak-pihak ber – empati dapat memberikan pembinaan
dalam bentuk permodalan, tekhnologi danpemasaran.
untuk pemasaran akan banyak peluang untuk hal tersebut; mulai dari lokal, antar
daerah, nasional dan internasional. Untuk itu perlu mencari peluang dan
bersinergis dengan
tertentu.
itu, soal Infrastruktur meliputi revitalisasi pasar-pasar dan membuat pasar
baru, baik dalam bentuk sentra-sentra mulai dari tingkat korong (Korong Trade
Center),tingkat Nagari (Nagari Trade
Center), tingkat Kecamatan (Kecamatan Trade Center) maupun tingkat Kabupaten
dan Nasional (apabila diperlukan); revitalisasi jalan antar sektor ke lokasi
sentra-sentra atau pembuatan jalan baru.
tidak kalah pentingnya adalah revitalisasi Infrastruktur lainnya, seperti
mesjid- mesjid dilokasi sentra – sentra dan pinggir jalan harus lebih bersih,
terutama WC mesjidnya atau pembuatan baru, merevitalisasi masalah pembangunan,
pertanian, pertenakan, perikanan dan usaha2 lainnya.
dan sosial ummat harus ramah kepada yang berkunjung ke pasar -pasar, sentra-sentra
dan tempat lainnnya, termasuk masalah harga yang tidak tinggi; membangun
berbagai hal yang bisa menyebabkan orang tertarik datang (berkunjung) ke
Kabupaten Padang Pariaman, dalam mewujudkan Bingkai Grand Design Pembangunan
Pariwisata adalah bagian dari pembangunan ekonomi. (Rico Adi Utama)
