Ube, ubi ungu khas Filipina yang warnanya memukau, kini makin sering muncul di menu kafe dan restoran ternama dari Tokyo hingga New York. Es krim, kue, hingga latte berbahan dasar ube menjadi incaran anak muda karena tampilannya yang ‘Instagramable’ dan rasa manis lembut yang tak terlalu dominan. Tren ini membuat sejumlah pakar kuliner memperkirakan ube berpotensi menyaingi matcha—yang selama satu dekade terakhir menjadi ikut minuman serta dessert berbasis teh hijau—bahkan menggeser posisinya sebagai favorit global.
Tren kuliner dunia terus bergulir cepat, didorong oleh gempuran media sosial, percampuran budaya, dan hasrat konsumen yang tak pernah puas: ingin cicipi yang baru tapi tetap terasa asli. Akibatnya, bahan makanan tradisional dari berbagai penjuru kini bukan hanya menghiasi menu restoran etnik, melainkan sudah merambah kafe kekinian dan rak-rak produk ritel.
Ube, atau ubi ungu, tengah naik daun di kancah kuliner dunia. Warnanya yang unik dan rasa manis lembut membuat bahan ini jadi favorit di kue, minuman, hingga makanan berat. Tak sedikit chef dan barista yang mulai mengganti matcha dengan ube dalam menu andalan mereka. Apakah ini tanda bahwa matcha akan tergeser dari tahta makanan tren global?
Menilik tren kuliner 2026, bagaimana nasib camilan keju dan minuman matcha?
Ubi ungu asal Filipina, yang dikenal sebagai ube, kini jadi sorotan di dunia kuliner. Warnanya yang unik mulai menghiasi berbagai menu minuman dan pencuci mulut.
Warna ungunya yang mencolok bikin ube langsung menarik perhatian, dan rasanya yang lembut serta tidak berlebihan membuatnya cocok di lidah berbagai kalangan.
Ube, atau ube ungu asal Filipina, kini tengah menjadi bahan kekinian di kafe-kafe dan restoran internasional. Warna violetnya yang mencolok mudah menarik perhatian di media sosial, sementara rasa manis lembutnya cocok untuk dessert, minuman, hingmi roti. Tak heran jika para ahli kuliner memperkirakan tren ube bisa menyaingi dominasi matcha selama ini.
Grand Waterside di Sedayu City, Kelapa Gading, resmi dibuka sebagai destinasi wisata dan kuliner baru yang mengusung konsep tematik outdoor.
“Makanan Filipina kini benar-benar menarik perhatian, tak cuma di piring tapi juga di budaya,” ujar Adrienne Panis, pakar dapur senior di sebuah restoran di Amerika, sebagaimana dikutip oleh Institut Pangan pada Jumat, 16 Januari 2026.
“Permintaannya melesat tajam, naik hampir 50 persen dalam setahun terakhir. Gen Z dan mereka yang haus akan pengalaman budaya jadi pendorong utamanya; mereka mengincar rasa yang berani dan terasa asli,” tuturnya.
Ube, ubi ungu asal Filipina yang memiliki warna cantik alami, kini makin sering muncul di menu kafe dan restoran ternama di New York, London, hingga Seoul. Es krim, latte, pancake, bahkan burger berwarna ungu lembut itu jadi incaran anak muda yang haus konten Instagram. Bila tren terus menguat, tak mustahil ia akan menyaingi matcha—yang selama ini dianggap tak tergantikan—untuk menyandang predikat “superfood” paling digandrungi secara global.
Tak kalah menarik dari jajanan jalanan yang sering muncul di drama Korea, makanan khas vihara di negeri ginseng justru bikin penasaran karena cita rasanya yang unik.
Ube kini jadi bahan favorit di tengah geliat tren global. Umbi ungunya yang mencolok tak hanya dipotong atau dikukus, melainkan diolah jadi latte lengkap dengan set-nya, dicampur adonan pancake mochi, dicetak jadi waffle, bahkan disulap jadi koktail.
Bagi koki-koki asal Filipina, kepopuleran ube bukan sekadar soal tren sesaat. Eric Valdez, seorang executive chef di New York City, menganggap ube sebagai bagian dari jati diri. “Ube bukan cuma rasa yang sedang naik daun. Ia adalah bagian dari diri kami, orang Filipina, sejak kecil tumbuh di tanah air,” ujar Valdez.
“Ube itu bikin nostalgia, bisa dipakai untuk makanan manis atau gurih, dan warnanya langsung bikin hidangan jadi menarik,” ujarnya.
Media sosial jadi mesin penggerak utama kepopuleran ube. Warna ungu alaminya yang instagenic memang mudah menarik perhatian, tapi yang membuat tren ini bertahan adalah rasa ube itu sendiri: lembut, kaya rasa kacang, dan punya kesan menenangkan di lidah.
Ube, ubi ungu asal Filipina yang warnanya memukau, tengah naik daun di kafe dan dapur internasional. Dari es krim, kue, sampai latte, semua berubah ungu. Kini banyak pengamat kuliner bertanya: apakah tren ini cukup kuat untuk menurunkan matcha dari tahtanya sebagai “raja” makanan-minuman Instagram?
Ube yang tengah naik daun membuktikan bahwa bahan tradisional bisa naik kelas jadi primadona kuliner dunia. Warna ungunya memang menarik perhatian, tapi di balik itu tersimpan kenangan rumah, jati diri, dan bukti bahwa makanan bisa jadi jembatan antara tradisi dan selera masa kini.