Tangerang Selatan,
siber.news | 10 Desember 2025 – Kasus peredaran Obat Tipe G melalui toko yang berkedok konter pulsa dan kosmetik kembali menjadi sorotan publik. Meskipun desakan penutupan telah dilayangkan secara terbuka oleh masyarakat, sejumlah toko yang diduga kuat menjual obat terlarang tersebut dilaporkan masih beroperasi secara normal hingga hari ini. Kondisi ini menunjukkan sikap membandel dari pihak penjual sekaligus memicu pertanyaan besar mengenai efektivitas penegakan hukum di wilayah Tangerang Selatan.
Polemik ini sebelumnya mencuat ke publik setelah terjadi konfrontasi sengit antara seorang jurnalis dengan oknum yang diduga memiliki keterkaitan erat dengan jaringan toko obat tersebut. Dalam konfrontasi itu, legalitas bisnis dan desakan agar Kapolres Metro Tangerang Selatan segera menutup lokasi-lokasi yang meresahkan menjadi isu utama perdebatan.
Berdasarkan pantauan tim media di lokasi-lokasi yang diidentifikasi pagi ini (10/12), aktivitas penjualan masih berlangsung tanpa hambatan berarti. Pintu toko tetap terbuka, dan meski tampak sepi di jam sibuk, transaksi ilegal disinyalir tetap berjalan seperti biasa.
Kondisi ini diperkuat oleh pengakuan dari tokoh publik. Holida Nuriah ST, Koordinator Tangerang Raya, Gerakan Moral Anti Kriminalitas (GMAKS) menyampaikan kekecewaannya setelah melintas di jalan tersebut. “Saya sangat prihatin, saya melintas di jalan tersebut dan melihat sendiri toko itu masih buka seperti biasa. Ini menunjukkan adanya pembiaran dan menguatkan dugaan bahwa mereka kebal hukum,” tegas Holida Nuriah.
Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa toko-toko ini masih menjual produk-produk yang dicurigai sebagai Obat Tipe G—seperti Tramadol atau Hexymer—seolah mengabaikan semua tuntutan publik, sorotan media, dan ancaman sanksi hukum yang ada.
“Sudah hampir dua hari sejak kasus ini viral dan desakan penutupan dilayangkan. Kami memohon agar Kapolres Metro Tangerang Selatan segera bertindak cepat, karena kesehatan dan keselamatan masyarakat jauh lebih penting. Membandelnya para penjual ini hanya memperkuat dugaan bahwa ada ‘kekuatan’ tertentu di balik layar,” ujar narasumber dari tim investigasi.
Kekhawatiran juga datang dari warga setempat. Mereka mencurigai bahwa toko-toko ini sengaja beroperasi hingga larut malam atau dini hari untuk melancarkan transaksi ilegal. Masyarakat menilai peredaran obat tipe G tanpa resep dokter ini sangat membahayakan, terutama bagi generasi muda di lingkungan sekitar.
Publik saat ini menanti bukti keseriusan aparat kepolisian. Tindakan cepat, berupa penutupan permanen, dan penyidikan tuntas terhadap jaringan pemilik toko obat ilegal ini diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat dan mengirimkan pesan jelas bahwa praktik kriminal tidak akan ditoleransi di wilayah Tangerang Selatan.
