Selasa, 20 Januari 2026 11h36 WIB
Dukungan, hidupCuaca ekstrem menjadi ujian yang parah lagi dalam operasi evakuasi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Pangkep Regency, Sulawesi Selatan.
Baca juga:
Tim DVI memeriksa DNA dari 8 keluarga korban kecelakaan pesawat ATR 42-500, tidak menerima mayat
Helikopter tidak bisa menembus kabut dan angin kencang, memaksa Tim SAR bersama untuk mengikuti jalan yang paling berbahaya, yaitu turun lereng gunung dengan menggunakan peralatan pendakian gunung.
Mayat dua korban jatuh pesawat ditemukan namun evakuasi harus dilakukan melalui darat dari pegunungan yang tinggi, bergaung dan sulit diakses ke pos pemandu utama.
Baca juga:
Jumlah korban tewas meningkat, seorang wanita mengaku kehilangan 1 miliar IDR karena dugaan skema perdagangan cryptocurrency yang melibatkan Timothy Ronald
Komandan Layanan Informasi Angkatan Darat Indonesia (Kadispenad), Brigadir Jenderal TNI Donny Pramono mengatakan bahwa kedua mayat yang ditemukan adalah seorang pria dan seorang wanita.
Korban pertama ditemukan pada hari Minggu, 18 Januari, sementara tubuh kedua ditemukan pada Senin, 19 Januari 2026.
Baca juga:
Satu orang tewas akibat banjir di Jakarta Timur
Di tengah pegunungan yang mencair, hutan padat dan perubahan kondisi iklim, TNI AD dan TNI SAR terus bergerak dengan berhati-hati dan berhati-ati. Operasi ini berfokus pada pencarian dan evakuasi korban, dengan keamanan personel lapangan menjadi prioritas, kata Donny pada Selasa, 20 Januari 2026.
Donny mengatakan, pilihan untuk mengevakuasi darat adalah tak terhindarkan. Evakuasi udara tidak mungkin karena kondisi cuaca yang memburuk. Teknik pendakian gunung adalah solusi yang paling realistis untuk menarik mayat korban dari tempat kecelakaan.
Metode ini dipilih karena angin kencang dan kabut tebal masih menutupi daerah Gunung Bulusaraung, menjadi hambatan besar bagi penggerak helikopter di udara.
Meskipun menghadapi tantangan dari medan ekstrim dan cuaca yang tidak dapat diprediksi, semua unit melanjutkan operasi mereka dengan disiplin dan terkoordinasi.
Sebagai komandan operasi SAR dari Pesawat ATR 42-500, Basarnas juga menekankan bahwa kondisi geografis dan iklim di tempat kejadian tidak memungkinkan evakuasi melalui udara.
Di sisi lain
Karena itu, tim SAR bersama yang melibatkan berbagai lembaga terus berusaha untuk mengevakuasi korban melalui tanah, bahkan jika mereka harus berlari melalui tanah yang ekstrim dan kondisi cuaca yang tidak terduga.
