Tangerang
siber.news | Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) Tahun 2025 di Desa Sangiang, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang. Diduga dikerjakan tak sesuai dengan Rencana Belanja Anggaran (RAB) yang sudah ditentukan dalam kontrak kerja.
Pantauan media, Kamis (4/9/25). Program RTLH di pembesian kolom praktis, diameter 8mm dengan jarak sengkang kurang lebih 24 cm sampai 30 cm, bahkan sloof yang berada di atas pondasi diduga hanya lebar 12 cm yang semestinya 15 cm. Artinya pengerjaan RTLH tersebut diduga dikerjakan asal -asalan.
Menurut, keterangan Keluarga Penerima Manfaat (KPM), bahwa, Program yang ada di Kampung Sangiang RT 03/04 Desa Sangiang, ada lima unit rumah. Dia menjelaskan, bahwa dari hasil sosialisasi di kecematan Sepatan Timur, bahwa ukuran rumah bantuan RTLH ini hanya 5 meter x 6 meter.
” Pada sosialisasi kala itu dari Dinas Perkim di Kantor Kecamatan Sepatan Timur, bahwa jika penerima manfaat ingin bangunannya kuat harus mengeluarkan uang tambahan, karena pada saat mereka mengatakan RTLH ini ukuran 5 meter x 6 meter. Tapi kami bangun dengan ukuran 6 x 6 meter, dan digambar katanya hanya sloof gantung artinya tanpa pondasi,” kata KPM RTLH saat di konfirmasi di halaman rumahnya, Kamis 4 September 2025.
Oleh sebab itu kata dia, untuk membangun Pondasi, dari awal semua anggaran untuk menggali dan beli material bersumber dari kantong dirinya (penerima manfaat). Singkat dia, untuk dapur, material hebel nya juga berasal dari penerima manfaat RTLH juga.
” Hebel itu, kenapa ukurannya di temukan tidak sama, karena kami salah belanja, kami belanja dua kubik dengan ukuran 10 cm x 20 cm. Sementara, material hebel yang ada dari pelaksana ukuran hebelnya, 7cm x 20 cm,” jelas dia.
Dirinya juga memperkirakan uang akan dihabiskan untuk menopang kekurangan hingga selesai dihuni, kurang lebih 5 juta sampai 10juta. Sebab yang dikerjakan oleh pelaksana hanya bagian tengah aja. Untuk dapur bahan material, dipastikan sebagianya, dibeli oleh penerima manfaat RTLH.
” Yang dikerjakan oleh pelaksana program ini hanya itu dibagian tengah, untuk semua pondasi, habiskan 1.500 buah bata merah, dan untuk dapurnya menggunakan material dari hasil belanja kami. karena kami nambah ukuran bangunan satu meter, dapat dipastikan uangnya juga harus berasal dari kami, selaku penerima manfaat,” ungkapnya.
Penerima manfaat mengatakan, bahwa pembangunan RTLH dikerjakan, oleh pekerja yang dibayar melalui harga borongan, anggarannya sebesar Rp. 3.5 juta per rumah.
” Kerjanya di sini malam, karena tukangnya sibuk di kerjaan lain. Soal bayaran, setahu saya bayarannya juga diborongkan sebesar Rp. 3.5juta,” imbuhnya.
Sebagai penerima manfaat, kata dia dirinya sudah mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan yang diterimanya dari pemerintah.
“Kami mengucapkan terimakasih, Alhamdulillah apa kami harapkan akan menempati rumah layak huni,” paparnya.
Lanjut dia, bahwa anggaran program RTLH yang diterimanya, sebesar 35 juta rupiah perunit. Jelas dia, semua penerima manfaat yang ada di kampungnya, dipastikan harus mengeluarkan dari saku miliknya, seperti untuk membeli material pondasi (batu belah / bata merah ) dan membeli hebel untuk dapur termasuk membayar tenaga kerjanya.
” Ya bagaimanapun juga kami ingin memiliki rumah layak huni. Maka kami sebagai penerima harus berkorban uang diluar yang ada di rab, karena ukuran yang ada di RAB dari hasil sosialisasi hanya 5 x 6 meter,” pungkasnya.
Selanjutnya, masih kata penerima manfaat RTLH di lokasi, saat ditanya soal, rincian atau nota pembelanjaan material yang diperuntukkan untuk RTLH yang diterimanya, dirinya mengaku tak pernah diperlihatkan.
” Soal rincian atau nota pembelian material berasal toko atau perusahaan mana, saya gak tahu, gak pernah di kasih. Tapi kami mengharapkan program RTLH yang diterimanya, pelaksana bisa menyelesaikan sesuai yang ada dalam RAB. Adapun kekurangannya, karena itu kemauan kami, itu adalah tanggungjawabnya,” tegasnya.
Sementara itu, Asmadi selaku pelaksana Program RTLH, dia, terkesan lebih memilih enggan memberikan klarifikasi kepada awak media. Asmadi mengklaim bahwa pihaknya sudah menyampaikan kepada awak media yang sudah datang ke lokasi RTLH di Desa Sangiang tersebut.
” Saya sudah menjelaskan, dan sudah kondusif, ada videonya juga, saya sudah jelaskan ke media itu, jadi gak boleh cukup satu media aja yang mewakili, gak ada media lain,” tandasya.
