StudioKctus
Berita  

Peneliti Bantah Pernyataan Trump soal Tylenol Picu Autisme

Peneliti Bantah Pernyataan Trump soal Tylenol Picu Autisme
Featured image untuk artikel: Peneliti Bantah Pernyataan Trump soal Tylenol Picu Autisme

“Jangan minum Tylenol. Jauhi obat itu. Lakukan yang terbaik untuk sama sekali tidak menyentuhnya.”

Itulah imbauan yang disampaikan Presiden Donald Trump saat ia bersama Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr. mengumumkan pada September lalu bahwa ibu hamil sebaiknya tidak mengonsumsi Tylenol, karena menurut mereka obat itu dikaitkan dengan risiko autisme.

Saat Trump mengeluarkan pernyataan soal Tylenol dan autisme, klaim itu belum punya bukti kuat di dunia ilmiah. Kini, sejumlah peneliti merespons dengan menggali seluruh studi yang ada—analisis terdalam yang pernah dilakukan untuk topik ini.

Hasil kajian yang dirilis Jumat di jurnal The Lancet Obstetrics, Gynaecology, & Female’s Health menyimpulkan tidak ada bukti bahwa asetaminofen—zat aktif dalam obat Tylenol yang juga dikenal sebagai parasetamol—yang dikonsumsi ibu selama hamil meningkatkan risiko autisme, ADHD, atau keterbelakangan intelektual pada anak.

Peneliti menjelaskan bahwa studi ini dilakukan juga untuk menepis kerancuan pasca-pernyataan Trump; demam yang dibiarkan tanpa obat justru bisa membahayakan kesehatan ibu dan bayi.

“Setelah pernyataan itu keluar, banyak ibu jadi takut minum parasetamol,” ujar Dr. Francesco D’Antonio, salah satu peneliti sekaligus spesialis kedokteran janin dari Universitas Chieti, Italia. “Keesokan harinya, tiba-tiba jumlah telepon dan surel dari wanita hamil melonjak drastis.”

Dr. Asma Khalil, konsultan kebidanan dan spesialis terapi janin di Rumah Sakit St. George, London, menegaskan bahwa laporan mereka menyimpulkan asetaminofen—obat yang juga dikenal sebagai Tylenol—tetap aman dikonsumsi ibu hamil.

“Jika ibu hamil merasa nyeri atau demam, obat ini masih jadi pilihan utama yang kami anjurkan,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Dalam siaran persnya, The Lancet menyebut makalah itu sebagai “tinjauan bukti standar emas”.

Peneliti menyangkal pernyataan petinggi pemerintahan Trump. Pada pengumuman September lalu, Kennedy menyebut Institut Kesehatan Nasional akan menerbitkan “penelitian ilmiah berstandar emas yang bebas, tak berpihak, dan tidak terpolitisasi” guna menyelidiki penyebab autisme.

Empat peneliti yang tidak ikut serta dalam penulisan makalah tersebut memuji kecermatan kajian yang dilakukan.

“Menurut saya, studi yang baru diterbitkan di jurnal The Lancet adalah cara paling tepat untuk menelaah data ini,” ujar David Mandell, ahli psikiatri dari University of Pennsylvania.

Sebuah tim peneliti internasional yang terdiri atas tujuh ilmuwan dari Inggris, Italia, dan Swedia menelaah kembali studi-studi yang tersedia hingga September lalu. Mereka menggunakan tiga pendekatan berbeda untuk mengevaluasi keabsahan klaim yang menghubungkan Tylenol dengan risiko autisme.

Tim peneliti menyaring ribuan studi dan hanya menelusuri 43 yang benar-benar memenuhi syarat. Mereka membuang riset yang tidak membandingkan ibu hamil pengguna Tylenol dengan yang bukan pengguna, serta studi yang tak mencatat riwayat kesehatan atau jenis obat yang dikonsumsi. Juga dikesampingkan penelitian yang hanya mengandalkan laporan ibu sendiri. Yang diambil hanyalah data dari rekam medis atau kuesioner yang diisi/diperiksa langsung oleh petugas kesehatan.

Tim peneliti menyaring studi-studi dengan melihat kualitasnya dan menelusuri kemungkinan bias. Studi yang metodenya lemah—misalnya tidak meneliti peserta dalam waktu cukup lama atau tidak mencatat hasil kesehatan secara rinci—langsung dikeluarkan dari analisis.

Tim ilmuwan kemudian menyelidiki dua studi terbaik soal hubungan Tylenon saat hamil dengan risiko autisme. Keduanya membandingkan ribuan pasang saudara kandung: yang satu ibunya minum Tylenol saat mengandung, yang satunya tidak. Karena mereka berbagi gen dan tumbuh di rumah serta lingkungan sosial-ekonomi yang sama, perbedaan hasil dianggap murni akibat penggunaan obat, bukan faktor lain.

Ketiga cara yang dipakai menunjukkan hasil serupa: Tylenol yang dikonsumsi saat hamil tidak terbukti memicu gangguan perkembangan saraf.

“Apapun metode analisis yang dipakai, hasilnya tetap sama: asetaminofen bukan penyebab ADHD, autisme, atau keterbelakangan intelektual,” tegas Mandell.

Ditanya soal temuan itu, petugas Kementerian Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan menyatakan analisisnya belum bisa menjawab apakah Tylenol berkaitan dengan autisme. Ia menilai makalah tersebut dipoles dengan sengaja: bukti-bukti yang tidak mendukung disingkirkan dan desain penelitian dibuat berat sebelah, sehingga tak tampak hubungan antara keduanya.

Juru bicara HHS, Andrew Nixon, menyampaikan bahwa sejumlah pakar telah mengungkapkan kekhawatiran terhadap pemakaian asetaminofen—nama generik Tylenol—selama masa kehamilan.

Nixon menyorot penelitian Dr. Andrea Baccarelli, dekan di Harvard T.H. Chan School of Public Health, yang tahun lalu di jurnal Environmental Health melaporkan adanya kaitan antara penggunaan Tylenol saat hamil dengan risiko autisme. Pemerintahan Trump kemudian mengeklaim temuan itu sebagai bukti bahwa obat tersebut berbahaya. Namun, Baccarelli belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Khalil menegaskan bahwa ulasan dari Baccarelli beserta beberapa studi kecil lain yang mengaitkan obat tersebut dengan autisme belum tentu kuat, sebab belum sepenuhnya menyingkirkan faktor pengganggu yang bisa memengaruhi hasil.

Mandell menambahkan bahwa ulasan yang dilakukan Baccarelli belum menyertai sejumlah studi yang baru-baru ini diterbitkan.

“Setidaknya, ini membuktikan bahwa penyelidikannya dilakukan secara ceroboh,” ujarnya.

Sejak pertama kali menyuarakan isu soal Tylenol beberapa bulan lalu, Trump makin menguatkan pernyataannya. Di akun Truth Social awal Juni ini ia menulis dengan huruf besar: “Ibu hamil, JANGAN MINUM TYLENOL KECUALI SANGAT-SANGAT DIPERLUKAN.”

Surat edaran FDA yang disebut Trump–Kennedy bulan September lalu sebenarnya hanya menyarankan dokter “bila memungkinkan, kurangi pemakaian asetaminofen.” Surat yang sama tetap menyebut obat ini pilihan bebas-terjual paling aman untuk meredakan nyeri dan demam saat hamil, serta menegaskan dugaan kaitan Tylenol dengan autisme masih “perdebatan ilmiah yang belum usai.”

Para peneliti autisme menegaskan bahwa pembahasan soal kaitan Tylenol dengan autisme sudah cukup dan tak perlu diperpanjang lagi.

“Pertanyaannya sudah terjawab,” ujar Alycia Halladay, kepala ilmuwan di Autism Science Foundation yang tidak terlibat dalam penelitian terbaru ini. “Tidak ada hubungan antara asetaminofen dan autisme. Kita bisa berhenti membahasnya sekarang dan mulai fokus pada penyebab autisme yang sebenarnya, alih-alih membingungkan keluarga dan terus menyalahkan ibu.”

Exit mobile version

Di antara banyaknya opsi, situs slot gacor hari ini yang satu ini menawarkan bonus selamat datang yang menguntungkan.

Informasi lengkap mengenai aplikasi dapat dilihat di tobrut888 bagi yang ingin berlatih atau sekadar bersenang-senang.