StudioKctus
Berita  

Malnutrisi Mengerikan: Nasib Perempuan Afghanistan di Ujung Tanduk

Malnutrisi Mengerikan: Nasib Perempuan Afghanistan di Ujung Tanduk
Featured image untuk artikel: Malnutrisi Mengerikan: Nasib Perempuan Afghanistan di Ujung Tanduk

Kekurangan gizi yang makin parah kini makin memperburuk nasib perempuan dan anak perempuan Afghanistan; mereka nyaris luput dari perhatian komunitas internasional, demikian diungkapkan pejabat senior Program Pangan Dunia (WFP) untuk Afghanistan kepada AFP.

Lembaga PBB itu menyalurkan sebagian besar bantuan pangan untuk Afghanistan, yang sejak 2021 dikelola langsung oleh pejabat Taliban.

Selama beberapa tahun terakhir, bantuan internasional untuk Afghanistan memang terus berkurang. Di tengah situasi itu, pemerintah Taliban menuai kritik tajam dari luar negeri karena melarang perempuan bekerja di hampir semua bidang serta tidak mengizinkan anak perempuan bersekolah setelah kelas enam.

John Aylieff, perwakilan Program Pangan Dunia untuk Afghanistan, menggambarkan kepada AFP betapa menyakitkan upaya warga—terutama perempuan—untuk sekadar menyiapkan makanan bagi keluarganya.

– Menurut Anda, apa yang paling mungkin terjadi tahun ini? –

Dalam setahun ke depan, sekitar lima juta perempuan dan anak-anak Afghanistan diprediksi akan menderita kekurangan gizi akut—kondisi serius yang bisa mengancam nyawa. Jumlah ini tercatat dari total penduduk negara yang mencapai lebih dari 40 juta jiwa.

Di Afghanistan, nyaris empat juta anak kini bergantung pada layanan pengobatan malnutrisi—angka yang sulit ditelan dan membuat ngeri.

Pemotongan dana membuat kondisi makin pelik. Bantuan pangan berkurang, harga bahan pokok melambung, dan ribuan keluarga—terutama perempuan dan anak-anak—terpaksa berpuasa panjang dalam tengah kelaparan.

“Menurutnya, kita—komunitas internasional—telah mengabaikan dan mengecewakan mereka yang seharusnya kita lindungi, yaitu perempuan dan anak-anak,” ujarnya, usai menyoroti aliran dana “sangat besar” pada 2021–2022.

“Tapi sejak saat itu, dana bantuan untuk Afghanistan terus menciut,” kata Aylieff. Ia menyebut, kontribusi sebesar 600 juta dolar AS untuk WFP pada 2024 hanya separuhnya dibandingkan tahun sebelumnya.

Kalau kami tak mampu menangani balita gizi buruk, mereka bisa sekarat. Begitu terjadi, klinik yang selama ini menanganinya pun akan tutup.

Ibu itu menempuh jarak empat hingga lima jam untuk membawa anaknya ke klinik, namun begitu tiba, ia hanya mendengar kabar pahit: WFP tidak lagi punya dana untuk menolong buah hatinya.

Bagaimana kondisi malnutrisi ini memengaruhi perempuan Afghanistan?

“Yang paling mengejutkan kami tahun ini adalah tiba-tiba meloncatnya jumlah ibu hamil dan menyusui yang kekurangan gizi,” ujar Aylieff.

Bantuan pangan yang seharusnya mereka terima tak kunjung datang. Akibatnya, para perempuan rela menekan porsi makannya—atau bahkan menolak makan sama sekali—agar anak-anaknya bisa kenyang. Sayangnya, sebagian besar dari mereka tidak tahu langkah apa yang harus diambil untuk mengatasi situasi ini.

Di wilayah-wilayah tempat WFP sudah menghentikan bantuan, kami menyaksikan sendiri: gadis-gadis kecil dijual untuk diperisterikan agar keluarganya bisa sekadar mendapat sepotong roti. Anak-anak yang seharusnya duduk di bangku sekolah malah dipaksa bekerja demi menyambung hidup.

Panggilan darurat ke WFP kini makin sering berdering. Di ujung sana adalah perempuan-perempuan yang sudah tak lagi berdaya, tersebar di pelosok Afghanistan. Beberapa di antaranya bukan meminta makanan, melainkannya minta diizinkan mengakhiri hidup.

“Situasinya sungguh menakutkan,” ujarnya, menekankan betapa parahnya kondisi yang dialami perempuan Afghanistan saat ini.

(Paragraf yang dimaksud hanya berisi kode redaksi “iw/jma/rsc/ami”, sehingga tidak ada informasi faktual yang dapat disusun ulang. Output kosong.)

Di Afghanistan, kondisi malnutrisi yang semakin parah kini membuat perempuan dan gadis-gadis berada dalam situasi sangat berbahaya. Anak-anak perempuan yang menderita gizi buruk harus dirawat di rumah sakit, sementara ibu-ibu menghadapi risiko kehamilan yang berat tanpa akses makanan bergizi maupun layanan kesehatan. Dengan tingkat kelaparan yang mencapai rekor tertinggi sejak Taliban kembali berkuasa, para perempuan—yang sudah dibatasi geraknya—kini juga harus berjuang melawan kelaparan yang mengancam nyawa.

Exit mobile version

Di antara banyaknya opsi, situs slot gacor hari ini yang satu ini menawarkan bonus selamat datang yang menguntungkan.

Informasi lengkap mengenai aplikasi dapat dilihat di tobrut888 bagi yang ingin berlatih atau sekadar bersenang-senang.