TANGERANG,
siber.news|Kondisi infrastruktur di Jalan Jenderal Sudirman, kawasan Tanah Tinggi, kian membusuk. Lubang menganga yang berada tak jauh dari lampu merah Puspem Kota Tangerang setelah perlintasan rel kereta api kini bukan lagi sekadar kerusakan aspal, melainkan ancaman nyata yang siap merenggut nyawa pengendara.
Pemerintah seolah tutup mata terhadap kondisi yang kian kritis ini. Hingga kini belum ada tanda-tanda perbaikan konkret, seakan membiarkan jalur nadi kota ini menjadi jebakan maut bagi masyarakat yang melintas, terutama saat malam hari ketika jarak pandang terbatas dan pencahayaan minim.
Pantauan awak media di lokasi menunjukkan lubang-lubang tersebut terus melebar akibat hantaman beban kendaraan berat. Posisi kerusakan di jalur cepat menuju arah rel kereta api memaksa pengendara melakukan manuver ekstrem yang sangat berisiko memicu kecelakaan beruntun di titik padat tersebut.
Ironisnya, status jalur ini sebagai Jalan Nasional justru nampak menjadi penghambat penanganan. Karena berada di bawah kewenangan Kementerian PUPR (BBPJN), birokrasi seringkali dijadikan alasan untuk saling lempar tanggung jawab, sementara keselamatan rakyat diabaikan di balik meja-meja kantor.
Status jalan nasional seharusnya menjadi jaminan kualitas dan keamanan aspal, bukan malah menjadi tameng untuk pembiaran. Lambannya respons pemerintah pusat dalam menangani titik vital di jantung Kota Tangerang ini mencerminkan buruknya prioritas kerja dalam melindungi keselamatan warga negara.
Hasil amatan awak media di lapangan mencatat banyak pengendara roda dua yang hampir terperosok saat mencoba menghindari lubang secara mendadak. Ketidakpedulian otoritas terkait dalam merespons kerusakan ini menunjukkan betapa murahnya nilai nyawa publik di mata para pemangku kebijakan.
Masyarakat kini menagih bukti nyata dari anggaran pemeliharaan jalan nasional yang bernilai fantastis. Sangat memalukan jika akses utama di pusat kota dibiarkan rusak parah hanya karena keruwetan administrasi, seolah-olah pemerintah harus menunggu adanya korban jiwa baru mau bergerak.
Jika pembiaran ini terus berlanjut, negara secara tidak langsung telah memfasilitasi terjadinya tragedi di jalan raya. Sudah saatnya ego birokrasi disingkirkan dan aspal segera diperbaiki sebelum lubang di Tanah Tinggi ini benar-benar berubah menjadi liang lahat bagi pengguna jalan.
