Delegasi Kongres AS lintas partai baru saja tiba di Kopenhagen untuk bertemu pejabat Denmark dan Greenland. Sambil menyambut mereka, warga Denmark menyuarakan sikap: mereka menolak rencana Amerika Serikat mengambil-alih Pulau Greenland dan meminta pemimpinnya tetap tegas mempertahankan kedaulatan wilayah Arktik tersebut.
“Menurut saya ini soal serius,” ujar Ina Tommerup sesaat setelah keluar dari Perpustakaan Kerajaan Denmark di Kopenhagen. Ia menilai Presiden Donald Trump “tidak terlalu mempedulikan” penduduk Denmark. “Dia menganggap Denmark negara kecil, memang begitu adanya, tapi kami punya banyak sekali aliansi,” tambahnya.
Ketika rombongan anggota Kongres AS yang diketuai Senator Chris Coons (D-Del.) tiba di Kopenhagen untuk bertemu Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen dan mitra dari Greenland, Jens-Frederik Nielsen, komentar soal rencana pembelian Greenland oleh Trump kembali mencuat.
Anggota Kongres Thom Tillis dari Partai Republik North Carolina dan Senator Lisa Murkowski dari Partai Republik Alaska juga tergabung dalam kelompok beranggotakan 11 orang, yang sebagian besar berasal dari Partai Demokrat.
“Isyaratnya sudah jelas,” ujar Murkowski pada Jumat. “Saya rasa Anda takkan menemukan satu suara pun di Kongres yang mendukung pengambilalihan Greenland dengan cara apa pun.”
Ide membeli Greenland pertama kali muncul dari Donald Trump pada 2019, saat ia menjabat sebagai presiden. Baru-baru ini ia kembali menyatakan tekadnya untuk menguasai pulau itu “satu cara atau cara lain,” dengan dalih khawatir wilayah itu bisa jatuh ke tangan Rusia atau Tiongkok. Gedung Putih pun tak menutup kemungkinan intervensi militer untuk merebut Greenland dari Denmark, ancaman yang membuat para sekutu gelisah dan mengegerkan NATO yang sejak Perang Dunia II menjadi benteng Barat.
Meskipun pemerintah Denmark dan pimpinan Greenland sudah menolak tegas setiap usaha Amerika Serikat untuk mengambil-alih wilayah itu, Donald Trump belum menunjukkan sedikit pun indikasi akan menyerah.
“Saya yakin tak satu pun anggota parlemen di sini yang bersedia menandatangani penjualan Greenland,” ujar Rasmus Jarlov, anggota Folketing sekaligus ketua komite pertahanan Denmark. “Itu sama sekali bukan opsi bagi kami.”
Rasmus Sinding Søndergaard, peneliti senior di Danish Institute for International Studies, lembaga kajian strategis di Kopenhagen, menegaskan bahwa Denmark secara hukum tak bisa menjual Greenland karena wilayah itu bukan miliknya.
Setiap rencana pembelian Greenland secara finansial wajib mendapat restu dari Kongres. Namun, baik anggota Partai Republik maupun Demokrat sama-sama belum menunjukkan keinginan untuk mengalokasikan anggaran guna merealisasikan niatan tersebut.
“Warga Delaware yang saya wakili justru minta kami fokus menekan biaya kesehatan, hunian, dan bahan makanan, bukan malah mengalokasikan dana untuk membeli wilayah kerajaan Denmark, padahal kita sudah bisa bekerja sama soal keamanan dan ekonomi,” ujar Coons.
Di gedung DPR, wakil-wakil dari kubu manapun sepakat bakal mendorong undang-undang yang membatasi langkah Donald Trump jika benar-benar berniat mengambil alih Greenland. Langkah itu muncul karena tengah bergulir perdebatan soal siapa—Presiden atau Kongres—yang berwenang penuh atas keputusan perang menurut Konstitusi. Sementara itu, anggota Partai Republik asal Florida, Randy Fine, justru mengajukan RUU yang justru mendukung aneksasi wilayah Denmark tersebut.
Kunjungan para anggota Kongres AS itu menyusul pertemuan di Gedung Putih pada Rabu lalu, yang dihadiri Menteri Luar Negeri Denmark Lars Løkke Rasmussen dan Menteri Luar Negeri Greenland Vivian Motzfeldt, serta Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Wakil Presiden JD Vance.
Setelah pertemuan, pejabat Denmark menyatakan bahwa mereka belum mampu menggeser keinginan Amerika Serikat untuk mengakuisisi Greenland.
Ketegangan masih terasa di Copenhagen; warga Denmark belum lepas dari kekhawatiran menyusul desakan Presiden AS Donald Trump agar Greenland menjadi milik Amerika.
Saat mengajak anjingnya, Yoda, berjalan di tengah kabut pagi, Tina Toulson mengaku masih cemas dengan langkah Donald Trump, meski Kongres kini berupaya membatasi langkahnya.
“Dia bisa melakukan apa pun,” ujarnya. “Saya rasa sudah tidak ada aturan yang berlaku. Itu membuat saya sangat khawatir.”
