Jakarta (ANTARA) Kementerian Agama menjamin bahwa pemulihan setelah banjir di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga mempengaruhi kelanjutan ibadah dan kehidupan sosio-religius masyarakat yang terkena dampak.
Untuk masyarakat, bisa kembali ke ibadah dalam damai adalah bagian dari proses pemulihan. Oleh karena itu, kami memerintahkan zakat dan waqf untuk menjaga kelanjutan ibadah dan martabat hidup warga yang terkena dampak, kata direktur Zakat dan Waqf Kementerian Agama, Waryono Abdul Ghafur, di Jakarta, pada Rabu.
Banjir yang melanda North Aceh Regency dan kota Lhokseumawe sejak akhir November 2025 tidak hanya merusak rumah dan fasilitas publik warga, tetapi juga berdampak pada kehidupan agama masyarakat.
Beberapa masjid terendam dalam lumpur, peralatan ibadah rusak dan akses air minum terbatas. Kondisi ini membuat penduduk sulit untuk melakukan ibadah harian, terutama sebelum bulan Ramadan.
Waryono menjelaskan bahwa sejak awal partai mereka berfokus pada kebutuhan yang paling dirasakan oleh masyarakat, yaitu mengembalikan fungsi tempat ibadah, ketersediaan air bersih untuk dicuci, serta dukungan agar kegiatan agama dapat dilanjutkan.
Baca juga: Layanan digital Kementerian Agama dapat rasionalkan anggaran sebesar 8,6 miliar IDR pada tahun 2025
Salah satu pemulihan setelah bencana adalah masjid Rieseh Teunong, di Aceh Utara, yang terkena dampak banjir dan sekarang berfungsi sebagai tempat perlindungan untuk sekitar 53 keluarga.
Upaya pemulihan dilakukan berdasarkan kebutuhan dasar, seperti menyediakan kembali karpet doa, mukena dan pareo, serta mengembalikan akses air minum untuk kebutuhan sanitasi dan membersihkan masjid.
Terima dukungan Baznas, masjid dan pos evakuasi menerima empat gulungan karpet doa, 100 pasang, 100 mukena dan 84 salinan Al-Qur’an.
Di kota Lhokseumawe, dapur publik yang dikelola oleh LAZ Asar Humanity di Meunasah Cut Mamplam mendukung kebutuhan makanan para pengungsi. Setiap hari, dapur umum menyiapkan sekitar 435 porsi makanan yang didistribusikan ke berbagai kamp pengungsi di Aceh Utara.
Baca juga:Java Central menunjukkan kesiapan untuk menjadi tuan rumah MTQ nasional pada tahun 2026
Waryono menilai bahwa pengalaman manajemen pasca bencana di Aceh Utara menunjukkan bahwa zakat dan waqf memiliki peran strategis sebagai amortizer ketahanan sosial orang.
Masjid, meunasah dan Kantor Urusan Agama (KUA) tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai tempat penyembuhan, konsolidasi komunitas dan penguatan solidaritas komunitas.
Kami ingin zakat dan waqf tidak terbatas pada bantuan sementara. Keduanya harus menjadi bagian dari sistem ketahanan sosio-agama masyarakat, kata Waryono.























