Gubernur Assam, Lakshman Prasad Acharya, menegaskan pentingnya produk bermerek GI dalam menjaga seni tradisional dan praktik ramah lingkungan. Ia berharap produk-produk tersebut bisa masuk ke pasar global agar karya pengrajin setempat semakin dikenal dan memberi manfaat ekonomi.
Gubernur Assam menyampaikan hal itu pada Kamis, saat membuka GI Mahotsav bertema ‘Mempromosikan Warisan India melalui Produk GI’. Festival empat hari ini digagas Kementerian UMKM India, diselenggarakan Kamar Dagang dan Industri PHD, serta didukung Kantor Komisaris Pembangunan.
Menurut Assa, label GI bukan sekadar menaikkan penghasilan dan harga diri para pengrajin serta petani, tapi juga turut menjaga kesenian tradisional, pengetahuan turun-temurun, dan cara produksi yang ramah lingkungan agar tetap hidup.
Menjaga warisan budaya sekaligus memperkenalkannya ke pasar global sangat penting untuk memberdayakan masyarakat dan memperkokoh prinsip Aatmanirbhar Bharat, ujarnya.
Acharya menegaskan bahwa perempuan dan pemuda menjadi motor utama dalam menggerakkan ekonomi berbasis Geographical Indication (GI).
Ia menambahkan, kreativitas anak muda—melalui inovasi, teknologi, dan kewirausahaan—bisa menjadi jembatan untuk menampilkan produk GI dalam bentuk branding yang kuat, start-up yang tangkas, serta pengalaman belanja yang menarik. Agar potensi itu benar-benar tersalur, ia menekankan pentingnya kerja sama terpadu antara pemerintah pusat dan daerah, lembaga industri, serta pelaku sektor swasta.
Gubernur menegaskan bahwa label Indikasi Geografis (GI) membuktikan bahwa barang itu benar-benar berasal dari daerah tertentu; kualitas, nama baik, serta kekhasannya terbentuk karena tempat asalnya.
Ia menegaskan bahwa India kini termasuk negara dengan produk GI terdaftar terbanyak, sebagai cerminan kekayaan budaya dan tradisi yang telah berlangsung berabad-abad.
Menurut Gubernur, hampir setiap negara bagian, wilayah, bahkan desa, punya produk unggulan yang menjadi bukti keterampilan turun-temurun warganya.
Gubernur Assam menyatakan bahwa negara bagian ini memiliki tempat istimewa di peta produk Geographical Indication (GI) karena kekhasannya yang lahir dari geografi setempat, ekologi, serta pengetahuan turun-temurun masyarakat.
Ia menekankan bahwa sutra Muga dan Eri, kerajinan lonceng logam dari Sarthebari, seni terakota Asharikandi, teh Assam, serta Kaji Nemu adalah sebagian contoh produk Geographical Indication (GI) yang menjadi identitas khas negara bagian Assam.
Gubernur Assam, Gulab Chand Kataria, mendorong pemanfaatan produk Geographical Indication (GI) lokal agar dapat meningkatkan kesejahteraan para pengrajin di wilayahnya. Langkah ini bertujuan memperkenalkan keunikan produk setempat ke pasar yang lebih luas sekaligus memberdayakan ekonomi masyarakat.
