SERANG,
siber.news | Ketegangan
memuncak! Gerakan Aksi Moral Mahasiswa (GAMMA) Banten menyatakan perang terbuka terhadap dugaan “proyek asal jadi” senilai hampir Rp 10 Miliar di Lebak. Usai ‘audiensi maut’ yang berakhir dengan gebrak meja, mahasiswa langsung melayangkan surat pemberitahuan aksi demonstrasi ke Markas Polda Banten. Mereka tak lagi percaya dengan janji manis birokrasi, kini, hanya aksi jalanan yang jadi pilihan!
Latar Belakang: Proyek “Siluman” Rp 9,7 Miliar
Fokus amarah mahasiswa adalah proyek Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Desa Curugpanjang, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak. Proyek jumbo senilai Rp 9,7 Miliar ini dikerjakan oleh CV Cipta Nayra di bawah pengawasan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Provinsi Banten.
Drama Audiensi: Arogansi Pegawai Vs Temuan Lapangan Mencengangkan!
Ketua GAMMA, Gayuh, dengan nada geram, menceritakan kembali drama yang terjadi pada audiensi tegang, Selasa (28/10/2025), dengan Kabid Permukiman dan pihak kontraktor.
“Audiensi berlangsung tegang dan diwarnai sikap arogan dari oknum pegawai DPRKP serta perwakilan pihak penyedia jasa,” tukas Gayuh, Jumat (31/10/2025).
Puncaknya? Saat GAMMA membeberkan temuan lapangan yang meragukan kualitas proyek, pihak penyedia jasa, menurut Gayuh, langsung menggebrak meja! Sebuah isyarat jelas bahwa forum tersebut jauh dari kata terbuka dan malah ditumpahi aroma intervensi serta ketidakprofesionalan.
Bahan Bakar Demo: Dugaan Korupsi Spesifikasi dan Pembesian!
Temuan GAMMA di lokasi pekerjaan menjadi bom waktu yang siap diledakkan di jalanan:
1. Retakan Memanjang: Ditemukan retakan parah pada permukaan beton. Dugaan keras: pondasi bawah tidak padat sempurna atau mutu beton abal-abal!
2. Pengurangan Volume Besi (Dowel): Jarak antar baris dowel yang seharusnya 30 cm sesuai kontrak, di lapangan ditemukan molor hingga 40 sampai 50 cm.
“Kami menduga ada indikasi pengurangan spesifikasi pembesian dalam pekerjaan tersebut. Ini bukan sekadar kesalahan teknis, ini aroma kongkalikong yang merugikan uang rakyat!” tegas Gayuh, membakar semangat perlawanan.
Tuntutan Membakar: Copot Kabid, Audit Total, atau Bongkar!
Mengambil langkah radikal, GAMMA telah menetapkan tanggal Senin, 3 November 2025, untuk menggelar aksi demonstrasi besar di Kantor Dinas PRKP Banten. Tuntutannya:
1. Copot Kepala Bidang Permukiman DPRKP Banten yang dinilai gagal mengawal proyek.
2. Desak Kadis PRKP Banten melakukan audit total terhadap proyek yang diduga keras tidak sesuai RAB, spesifikasi teknis, dan kontrak kerja.
“Kami akan konsolidasi dan menggalang kekuatan! Jika hasil audit membuktikan pekerjaan tidak sesuai mutu dan kontrak, maka proyek itu HARUS DIBONGKAR! Kami tidak akan mundur!” ancam Gayuh.
Kontras Tajam: Kontrator Mengelak, Kadis PRKP Banten Bungkam Seribu Bahasa!
Di sisi lain, kontraktor CV Cipta Nayra melalui pelaksana teknis lapangan, Tana, berdalih. Ia membantah adanya arogansi dan mengklaim pihaknya telah menanggapi aspirasi mahasiswa “dengan baik” serta hanya menjelaskan “aspek teknis” pekerjaan. Sebuah bantahan yang kontras dengan kesaksian mahasiswa soal gebrak meja.
Namun, sorotan tajam mengarah ke pucuk pimpinan. Kepala Dinas DPRKP Provinsi Banten, M. Rachmat Rogianto, saat dikonfirmasi awak media, justru memilih bungkam dan terkesan “tak mau tahu” terkait proyek pembangunan yang dikerjakan asal jadi di Kabupaten Lebak ini. Hingga berita ini dipublikasikan, tidak ada satu pun tanggapan resmi dari orang nomor satu di Dinas PRKP Banten!
Kebungkaman Kadis PRKP ini semakin menguatkan dugaan publik: Ada apa di balik proyek Rp 9,7 Miliar Lebak? Dan mengapa Kepala Dinas lebih memilih berlindung di balik tembok bisu saat rakyat menuntut transparansi dan kualitas?
