Nigel Farage hari ini mendapat peringatan bahwa Partai Reformasi bisa berubah jadi ‘Rumah Slytherin’ dalam politik Inggris setelah banyak mantan anggota Partai Konservatif hijrah ke sana.
Farage menyambut kedatangan Robert Jenrick tadi malam, hanya beberapa jam setelah Jenrick diberhentikan oleh Kemi Badenoch atas tuduhan merencanakan pengkhianatan.
Sementara itu, belum tampak ada anggota parlemen lain yang berniat meniru langkah mantan Menteri Kehakiman Bayangan itu. Di sisi lain, Nyonya Badenoch justru kian mengokohkan posisinya lewat sikap tegas yang ia tunjukkan.
Dugaan kuat muncul bahwa ada informan di dalam tim Jenrick yang telah menyerahkan bukti rencana pengunduran diri, termasuk naskah pidato pembelotan dan strategi media yang disusun.
Mantan menteri Kabinet Michael Gove—yang kini menjadi editor Spectator dan dianggap dekat dengan Kemi Badenoch—menegaskan bahwa langkah Robert Jenrick justru bisa menodai citranya sendiri.
Lord Gove menyamakan insiden ini dengan keputusannya menyerang Boris Johnson pada 2016 dan mengakui bahwa banyak orang masih menyebut langkah itu sebagai “pengkhianatan”.
Nigel Farage baru saja menyambut kedatangan Robert Jenrick di pesta reuni Partai Reformasi, hanya beberapa jam usai Jenrick diberhentikan Kemi Badenoch dari tim kampanyenya dengan tuduhan merencanakan pengkhianatan.
Mantan menteri Kabinet Michael Gove menilai Partai Reformasi mirip ‘Rumah Slytherin’—kelompok yang identik dengan Lord Voldemort dalam kisah Harry Potter.
“Kesan yang muncul justru menunjukkan dia tersangkut di tengah intrik,” ujarnya kepada program Today di BBC Radio 4. “Keputusan ini tidak sepenuhnya berada di tangannya.”
Dia menambahkan, kalau Rob merasa masih ada peluang untuk memimpin, besar kemungkinan dia akan bertahan di posisinya.
Sementara itu, Lord Gove menilai langkah Nyonya Badenoch memecat Jenrick secara tiba-tiba bakal menimbulkan sinyal kuat di mata publik.
Rekan dari Partai Konservatif—yang sejak pemilu terakhir tak lagi tampil di garis depan politik—menegaskan bahwa Reformasi kini berhadapan dengan dua ancaman besar terkait pencalonan walikota.
“Risikonya, setelah Nadhim Zahawi mundar-mandir awal pekan ini, Partai Reformasi bisa jadi tak tampak sebagai kekuatan segar yang mau membersihkan politik, melainkan lebih seperti Asrama Slytherin,” ujarnya.
“Partai ini lebih terlihat seperti tempat berkumpulnya para penjalin intrik.”
Slytherin adalah asrama di Hogwarts yang dikenal sebagai bekas “sekolah” bagi Lord Voldemort dalam cerita Harry Potter; asrama ini kerap identik dengan penyihir berambisi dan berotak licik.
Lord Gove melanjutkan, “Yang kedua, sejumlah tokoh paling gencar di Partai Reformasi—seperti calon wali kota London Laila Cunningham dan Zia Yusuf—menegaskan bahwa partai ini harus menampilkan diri sebagai kekuatan baru, bukan tempat singgahan mantan anggota Partai Konservatif.”
Lord Gove menyatakan dengan tegas bahwa Farage adalah figur utama dan pemimpin Partai Reformasi yang tak terbantahkan.
Ia menegaskan bahwa situasi sekarang berbeda: untuk pertama kalinya dalam sejarah Reformasi, partai ini harus menyelesaikan persaingan internal soal siapa yang akan menggantikan kepemimpinan.
Selama dua puluh tahun Nigel memimpin gerakan ini. Banyak yang menyangka Zia akan menjadi penggantinya, tapi kini muncul kandidat lain yang juga berambisi merebut kursi kepemimpinan.
Ibu Badenoch—yang akan tampil di Skotlandia menjelang pemilu penting Mei ini—kian menajamkan seruannya. Ia menyebut Jenrick kini menjadi “masalah Nigel Farage” dan menegaskan, “Kehilangan orang yang sudah berbohong kepada rekan separtainya bukanlah kejatuhan besar.”
Partai Konservatif sedang menanti, apakah hari ini akan ada anggota lain yang menyusul Robert Jenrick keluar, setelah Kemi Badenoch tiba-tiba memaksa keputusan itu.
Rekan-rekan sang pemimpin yakin ia berhasil menahan gelombang pembelotan, sementara sejumlah anggota parlemen mengkritik keras langkah Jenrick.
Nick Timothy, yang menggantikan Jenrick sebagai sekretaris keadilan bayangan, datang ke studio pagi ini dan menegaskan bahwa Partai Konservatif tetap bersatu.
Ditanya soal kemungkinan ada anggota lain yang akan keluar, ia menjawab di BBC Breakfast, “Saya hanya bisa bicara untuk diri sendiri: saya masuk Partai Konservatif saat berusia 17 tahun dan akan tetap jadi anggotanya sampai akhir hayat.”
Di Parlemen kemarin, keputusan Rob memang mengejutkan. Tapi di saat yang sama, langkah itu justru menutup ganjalan: menurut pengamatan saya, partai kini lebih solid men rallied di bawah kepemimpinan Kemi dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Rekan-rekan saya di Parlemen menilai Kemi mampu menanganinya dengan tegas, dan mereka menyambut baik sikapnya yang tidak ragu-ragu.
Anggota parlemen Partai Konservatif, Mark Francois—yang kerap disebut pembelot—menilai langkah Jenrick hari ini sangat buruk.
“Saya sangat kecewa dengan tindakan Robert kemarin; secara pribadi saya merasa dikhianati. Apa yang terjadi itu tampak seperti pencitraan diri semata—dia asyik menjilat Nigel di depan kamera,” ujarnya kepada Talk TV.
Saya tidak bisa menghargai hal itu.
Beberapa anggota parlemen masih bungkam soal keputusan itu, sementara kekecewaan tampak menggelegar di internal partai.
Dalam video yang diunggah pukul 11.06 pagi tadi, Nyonya Badenoch menyatakan bahwa ia telah menendang Jenrick dari jajaran kepemimpinan partai setelah mendapat ‘bukti nyata dan tak terbantahkan’ bahwa mantan menteri itu diam-diam menyiapkan langkah balik yang sengaja dibuat untuk menyakiti partai sebanyak-banyaknya.
Drama puncaknya terjadi ketika Nigel Farage secara resmi memperkenalkan Mr Jenrick dalam konferensi pers pada pukul 16.30.
Ia menyatakan bahwa warga Inggris sudah muak menyaksikan “psikodrama” politik.
Dikabarkan ada orang dalam tim Jenrick yang membocorkan naskah pidato serta strategi media yang sedang disusun untuk peralihan kekuasaan tersebut kepada pimpinan partai.
Malam tadi Jenrick menyatakan tidak akan mengundurkan diri dari kursi DPRnya di Newark, karena menurutnya para konstituen sudah memahami pendiriannya.
Farage mengucapkan terima kasih kepada Badenoch karena telah mendukung Jenrick, sambil menyebut bahwa peluang peralihan dukungan saat itu berada di angka 60:40.
