Tomáš Prouza, ahli meteorologi sekaligus pengamat bangau, mengungkapkan bahwa Cikon Aloisia—yang sejak kecil hanya dipelihara oleh induknya—ternyata sanggup terbang hingga 7.200 km dari Jilemnica sampai ke Taman Nasional Luambe di Zambia. “Semula kami khawatir kehilangan induk akan menurunkan vitalitasnya, tapi burung ini malah menempuh jarak ribuan kilometer lebih jauh,” ujarnya.
Seorang pengamat di Afrika mengungkapkan bahwa Aloisia tertangkap oleh ular piton Afrika Selatan saat sedang berburu belalang di tepi sungai yang tergenang banjir. Sebelum ular sepanjang sekitar lima meter itu menelannya, pengamat tersebut sempat membaca data dari cincin yang terpasang pada bangau itu menggunakan lensa telefoto. Ia pun mengetahui bahwa bangau itu berasal dari Ceko dan melaporkan temuannya ke stasiun pencatat di Praha, yang kemudian meneruskan informasi tersebut ke wilayah Bohemia Timur.
Cikon Aloisia tewas di Afrika usai terbang 7.200 km
Laporan keberadaan bangau dari Afrika Selatan memang sangat langka. Daerah itu jarang dilintasi, dan karena pemanasan global, bangau pun makin sedikit yang terbang ke sana mencari kehangatan. Kabar duka kematian Aloisia justru jadi catatan berharga: ia tercatat sebagai bangau ber-cincin yang pernah dibaca jaraknya paling jauh.
Tiba Februari, Cikon siap menaklukkan Afrika
Bangau-bangau yang biasa bermigrasi ke Afrika untuk menghindari musim dingin biasanya mulai kembali ke Eropa dalam beberapa pekan ke depan. Mereka yang paling cepat biasanya sudah terlihat di sarangnya pada dua minggu terakhir Februari. Sementara itu, sebagian kecil tetap bertahan di tanah air; di Dobřany dekat Pilsen dan di desa Štěpánovice dekat Klatov misalnya, sepasang dan satu ekor bangau pilih menetap sepanjang musim dingin. Tahun lalu, bangau pertama dari Afrika tiba kembali pada Februari, dan pada pertengahan bulan sudah terdapat 11 sarang yang ditempati.
Tertangkap Piton usai Terbang 7.200 km ke Afrika
Semakin banyak bangau yang memilih tidak bermigrasi. Selain karena pemanasan global, tumpukan sampah berisi sisa makanan di Eropa membuat mereka tetap cukup makan sepanjang musim dingin.
