Jakarta (ANTARA) Bank Indonesia (BI) sedang mengambil dan meningkatkan intensitas langkah stabilisasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar.tidak memberikan ke depan(NDF) baik diPantai luarataudi tanahkurangnya pengiriman nasional ke depan(DNDF) dan di pasar spot.
Respons politik ini dapat mempertahankan volatilitas nilai tukar rupiah dan tetap konsisten dengan upaya untuk mencapai target inflasi 2,5 persen atau kurang 1 persen pada 2026, kata gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers online di Jakarta pada Rabu.
Ia menekankan bahwa kebijakan pertukaran Bank Indonesia terus menguat untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dalam menghadapi dampak dari meningkatnya ketidakpastian global.titik ke titik/ptp) dibandingkan dengan tingkat akhir Desember 2025.
Baca juga: Berfokus pada stabilisasi rupiah, BI mempertahankan tingkat BI pada 4,75 persen
Perry mengatakan bahwa penurunan nilai tukar dipengaruhi oleh keluar modal asing karena meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global. Selain itu, peningkatan permintaan mata uang (forex) oleh bank dan perusahaan nasional sejalan dengan aktivitas ekonomi juga mempengaruhi kinerja rupiah.
Untuk memperkuat kinerja bank, Bank Indonesia berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, termasuk melalui intervensi yang terukur dalam NDF, DNDF dan transaksi pasar tunai, serta memperkuat strategi transaksi mata uang.dipasarkan
Bank Indonesia percaya bahwa di masa depan akan tetap stabil dengan tren penguatan yang didukung oleh hasil yang menarik, inflasi rendah dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang baik terus menerus, kata Perry.
Baca juga: Dengan rupiah mendekati 17.000 IDR, para ekonom menganggap BI perlu memperkuat manajemen persediaan mata uang.
