Hujan lebat mengguyur wilayah dari Mozambik sampai Afrika Selatan dan menghancurkan banyak permukiman, memaksa ratusan ribu warga mengungsi.
Banjir bandang yang melanda Afrika Selatan sejak awal pekan telah menewaskan lebih dari 100 orang. Hujan deras yang terus mengguyur sejumlah wilayah memperburuk kondisi, sehingga tim penyelamat kesulitan menjangkau daerah-daerah yang terisolir. Otoritas setempat memperingatkan warga untuk tetap waspada karena curah hujan diperkirakan masih akan tinggi dalam beberapa hari ke depan.
Badai hujan lebat yang mengguyur Afrika Selatan sejak Senin (11/4) telah menewaskan lebih dari 100 orang. Curah hujan diprediksi masih akan meningkat hingga akhir pekan, memperluas daerah banjir dan mempersulit upaya evakuasi warga.
Cuaca ekstrem yang terus menerjang Afrika Selatan menimbulkan korban jiwa lebih dari seratus orang. Hujan deras yang tak kunjung reda memperburuk kondisi banjir di sejumlah wilayah, membuat evakuasi dan penyelamatan semakin sulit dilakukan.
Banjir bandang yang melanda wilayah KwaZulu-Natal, Afrika Selatan, telah menewaskan lebih dari 100 orang. Hujan lebat yang terus mengguyur memperburuk kondisi, memicu longsor dan memutus akses jalan. Tim penyelamat masih berupaya mengevakuasi warga yang terjebak, sementara ribuan rumah terendam dan fasilitas umum rusak parah.
Hujan lebat yang mengguyur Afrika Selatan telah menewaskan lebih dari 100 orang. Bencana ini memicu evakuasi massal dan operasi penyelamatan di berbagai wilayah. Pemerintah memperingatkan bahwa cuaca buruk berpotensi terus terjadi.
Hujan tak henti-hentinya selama berminggu-minggu mengguyur Afrika Selatan, Mozambik, dan Zimbabwe. Sungai meluap, jalan dan jembatan tenggelam, puluhan desa terisolasi. Badan meteorologi di ketiga negara telah memperingatkan bahwa curah hujan masih akan meningkat, memicu kekhawatiran gelombang banjir baru.
100+ Tewas, Hujan Lebat Makin Parah di Afrika Selatan
Banjir bandang yang melanda wilayah Afrika Selatan pada pekan ini telah menewaskan lebih dari 100 orang. Curah hujan ekstrem yang terus mengguyur memperburuk situasi, membuat ribuan warga mengungsi dan puluhan rumah hanyut. Tim evakuasi masih berupaya menyelamatkan korban, sementara cuaca buruk diprediksi masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.
Pejabat Afrika Selatan menyampaikan pada Jumat bahwa banjir yang melanda provinsi Limpopo dan Mpumalanga di wilayah utara telah merenggut sedikitnya 30 nyawa.
Helikopter militer diterjunkan untuk mengevakuasi warga yang terjebak di atap rumah dan dahan pohon setelah luapan sungai menelusuri kota hingga desa. Sebanyak personel keamanan juga diselamatkan dari pos lintas batas menuju Zimbabwe yang kini terisolasi banjir.
Presiden Cyril Ramaphosa meninjau wilayah-wilayah yang dilanda bencana di Limpopo pada Kamis kemarin. Ia menyampaikan bahwa provinsi itu sudah disapu hujan sekitar 400 mm hanya dalam waktu kurang dari seminggu. Di salah satu distrik, menurutnya, “36 rumah lenyap seolah tak pernah ada.”
Gubernur Provinsi Limpopo, Phophi Ramathuba, menyampaikan bahwa banjir yang melanda telah merusak lebih dari 1.000 rumah di berbagai wilayah. “Kondisinya sangat memprihatinkan,” ujarnya.
Ratusan ribu warga mengungsi akibat banjir
Di Zimbabwe, negara tetangga Afrika Selatan, otoritas penanggulangan bencana mencatat sedikitnya 70 orang tewas sejak Januari lalu. Lebih dari 1.000 rumah rata dengan tanah, sementara sejumlah sekolah, jalan, dan jembatan ambruk diterjang banjir.
Mozambik menjadi negara yang paling parah terdampak. Badan penanggulangan bencana setempat mencatat, sejak hujan ekstrem mulai mengguyur akhir tahun lalu, sedikitnya 103 jiwa meninggal. Mereka tewas akibat banjir, petir, bangunan yang ambruk, hingga wabah kolera karena air minum tercemar.
Lebih dari 200 ribu warga Afrika Selatan terdampak banjir. Ribuan rumah rusak dan puluhan ribu orang mengungsi, demikian laporan Program Pangan Dunia. Lembaga ini juga mengingatkan bahwa air bah telah menenggelamkan 70 ribu hektar lahan pertanian—setara 173 ribu hektar—sehingga petani kecil semakin kesulitan mendapatkan makanan. Kondisi ini memperburuk situasi di negara yang sebelumnya sudah berjuang melawan kemiskinan dan serangan topan berulang.
Sistem Peringatan Dini Kelaparan Amerika Serikat mencatat banjir sudah terjadi atau diprediksi melanda minimal tujuh negara di kawasan Afrika Selatan. Kondisi ini diduga kuat terkait dengan fenomena La Nina yang memang kerap memicu curah hujan lebih tinggi di wilayah tersebut.
Taman Nasional Kruger, salah satu ikon wisata Afrika Selatan, ikut terendam. Sebanyak 600 wisatawan dan petugas dievakuasi dari area perkemahan yang tergenang. Pihak pengelola menyatakan tidak ada korban jiwa atau luka-luka, tapi sebagian besar jalur masih ditutup karena air sungai meluap.
Beberapa tahun belakangan, Afrika Selatan kerap disapu cuaca ekstrem: ada angin topan yang merenggut nyawa, ada pula musim kekeringan yang menyengat. Rangkaian bencana ini memperlihatkan betapa rapuhnya kawasan tersebut, baik karena perubahan iklim maupun infrastruktur yang tak kuasa menahan guncangan alam.
