Setelah meneken kesepakatan dagang baru dengan Amerika Serikat, Taiwan pada Jumat menegaskan komitmennya untuk terus menjadi produsen chip AI terkemuka di dunia. Dalam kerja sama itu, AS akan memangkas tarif impor bagi produk teknologi Taiwan sekaligus mendorong peningkatan investasi perusahaan-perusahaan semikonduktor Taiwan di wilayah Amerika.
Taiwan memang dikenal sebagai pusat produksi chip dunia, tapi Amerika Serikat kini menekan agar lebih banyak teknologi pembuatannya benar-benar dibangun di pesisirnya sendiri.
Menurut Departemen Perdagangan AS, kesepakatan itu bakal mendorong lompatan besar bagi industri semikonduktor di Amerika.
Dalam kesepakatan itu, Amerika Serikat setuju menurunkan bea masuk sejumlah produk Taiwan menjadi 15 persen. Tarif baru ini lebih rendah dari kebijakan “timbal balik” sebelumnya yang mencapai 20 persen, langkah yang semula diterapkan guna menekan defisit perdagangan AS serta menanggulangi praktik dianggap tidak adil.
Perdana Menteri Taiwan Cho Jung-tai pada hari Jumat memuji tim perunding yang telah bekerja keras selama berbulan-bulan dan berhasil membawa hasil yang memuaskan.
“Kesepakatan ini menunjukkan bahwa setiap langkah maju yang kita capai benar-benar hasil dari perjuangan yang tidak mudah,” ujar Cho.
Keunggulan Taiwan di industri chip sudah lama dianggap sebagai “perisai silikon” yang melindungi pulau itu dari risiko invasi atau blokade oleh Tiongkok, yang mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya. Kondisi ini juga menjadi alasan bagi Amerika Serikat untuk terus mendukung keamanan Taiwan.
Namun, ancaman serangan dari Tiongkok memicu kekhawatiran akan terganggunya rantai pasokan global, sehingga muncul desakan agar produksi chip juga dilakukan di luar Taiwan.
Menteri Urusan Ekonomi Taiwan, Kung Ming-hsin, menegaskan pada Jumat bahwa menurut rencana terkini, Taiwan akan terus menjadi produsen utama chip semikonduktor untuk kecerdasan buatan, baik untuk perusahaan dalam negeri maupun skala internasional.
Diproyeksikan pada 2030, sekitar 85 persen produksi chip canggih untuk kecerdasan buatan bakal tetap berada di Taiwan, sementara 15 persennya baru diproduksi di Amerika Serikat. Perbandingan itu kemudian akan bergeser menjadi 80 persen di Taiwan dan 20 persen di AS pada tahun 2036.
Kesepakatan itu masih harus diloloskan parlemen Taiwan yang saat ini dikuasai oposisi. Beberapa anggota parlemen sudah menyuarakan kekhawatiran, khawatir Taiwan bisa kehilangan dominasinya di industri chip.
Departemen Perdagangan AS menyatakan, tarif sektoral untuk suku cadang mobil serta kayu dan hasil olahannya dari Taiwan bakal dibatasi maksimal 15 persen. Sementara itu, obat generik dan sejumlah sumber daya alam tertentu akan bebas dari bea timbal balik.
Perusahaan-perusahaan chip dan teknologi Taiwan sepakat menanamkan setidaknya 250 miliar dolar AS sebagai investasi langsung baru di Amerika Serikat. Dana ini bakal dipakai membangun dan memperluas pabrik semikonduktor canggih serta fasilitas kecerdasan buatan.
Taiwan juga menjanjikan kredit hingga 250 miliar dolar AS untuk mempermudah perusahaan-perusahaannya menambah investasi, sehingga rantai pasok semikonduktor Amerika bisa tumbuh lebih cepat.
Pemerintah Taiwan menyatakan bahwa tarif baru ini tidak akan menaikkan bea masuk yang berlaku saat ini, sehingga kekhawatiran utama dari pelaku industri dalam negeri bisa teratasi.
“Kalau tarif balik benar-benar dipangkas jadi 15 persen, itu kabar bagus—posisi kami jadi selevel dengan pesaing utama kami, Korea Selatan dan Jepang,” ujar Chris Wu, direktur penjualan produsen mesin Taiwan, Litz Hitech Corp.
Dengan margin keuntungan yang hanya satu digit, “kami tidak sanggup menyerap bea tarif” untuk pelanggan di Amerika Serikat, ujarnya.
Lebih dari setengah barang yang diekspor Taiwan ke Amerika Serikat adalah produk teknologi informasi dan komunikasi, termasuk semikonduktor.
Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick menjelaskan kepada CNBC bahwa tujuannya adalah memindangkan 40 persen seluruh rantai pasokan dan produksi chip Taiwan ke dalam negeri Amerika.
“Kami akan mewujudkan semuanya agar bisa berdiri sendiri dalam membangun kemampuan semikonduktor,” ujarnya menambahkan.
Meskipun rincian nama perusahaan tidak diumumkan, keputusan tersebut langsung berdampak pada TSMC, produsen chip asal Taiwan yang pada 2023 telah menegaskan akan menambah investasi US$100 miliar untuk memperluas pabrik-pabriknya di Amerika Serikat.
Permintaan teknologi kecerdasan buatan yang melonjak membuat keuntungan perusahaan itu melesat tajam. Sebagai pembuat kontrak chip terbesar di dunia, produknya dipakai di berbagai perangkat, mulai dari iPhone hingga chip AI canggih milik Nvidia.
TSMC menyambut positif kemungkinan tercapainya perjanjian perdagangan yang solid antara Amerika Serikat dan Taiwan, mengingat perusahaan tersebut merupakan fabrikasi semikonduktor yang melayani pelanggan global.
Penguatan hubungan dagang menjadi kunci untuk mendorong teknologi masa depan dan memperkuat ketahanan rantai pasok semikonduktor.
Menurut Lutnick, TSMC sudah membeli lahan di Arizona sehingga siap memperluas pabriknya jika diperlukan, sebagai bagian dari kesepakatan baru.
Mereka baru saja membeli ratusan hektar lahan di sekitar fasilitas yang sudah dimiliki. Saya akan serahkan proses selanjutnya kepada dewan direksi dan beri mereka waktu untuk menyelesaikannya, ujarnya kepada CNBC.
Kementerian Perdagangan AS menyatakan, perusahaan-perusahaan semikonduktor asal Taiwan yang menanamkan modal di Amerika akan memperoleh kemudahan tarif bea masuk di kemudian hari.
Sehari sebelum kesepakatan, pemerintah AS menunda rencana menaikkan tarif secara luas untuk produk chip. Sebagai gantinya, mereka hanya membebankan bea masuk 25 persen pada sekelompok semikonduktor tertentu yang akan diekspor. Langkah ini dipandang penting karena membuka jalan bagi Nvidia, perusahaan chip raksasa dari AS, untuk tetap menyuplai chip kecerdasan buatan (AI) ke pasar Tiongkok.
