Janir
“jawaban”. Hidup selesai ketika semuanya sudah terjawab !
kepanikan datang menyergap. Rasa menjadi sempit. Ruang itu adalah rasa !
Emosi yang buruk adalah ekspresi kekalahan diri. Ia menciptakan sendiri. Awal
sebuah derita ketika pikiran terkubur. Ia bernisan kelelahan yang dungu.
media untuk menghantarkan kita pada suatu ruang.Di atas dunia , waktu dan ruang tak akan
pernah terpisahkan. Tapi mereka tidakberhukum kekal. Pada kematian, adalah awal mulanya waktu membatu.
Kehidupan yang kekal itu ditandai dengan telah diamnya waktu. Bila waktu lenyap
dan ruang tetap ada, itulah sebuah tanda dimulainya kehidupan yang kekal.
atas dunia, ditentukan oleh pikiran dan perbuatan.
itu tadi.
paling ampuh di ruang metafisika kita.
Ada yang ada tanpa sebab.Ada yang ada tanpa akibat. Tapi, pada sisi lain di
bilik yang paling tersuruk, tak ada sesuatu yang terjadi tanpa alasan. Waktu
dan ruang dicatat oleh angka. Sesuatu sesuatu yang terjadi dapat dbuktikan
dengan angka. Dari ujung rambut sampai ujuang kaki adalah angka-angka. Tiap
peristiwa selalu diiringi angka-angka. Peristiwa dapat dihitung dari
angka-angka, walaupun ia belum, ia akan, atau ia sudah terjadi.
pikiran yang berwujud pada perbuatan, sikap dan komitmen pada pikiran sendiri.
mencatatkan riwayat yang dihasilkan oleh pikiran yang sekaligus sebagai tempat
berdiri gagahnya monument pikiran itu sendiri.
dalam jiwa dan raga.
adalah ruh lain yang selalu mencari jawaban.
seluas pikiran adanya.
kemudian menjadi kaca untuk bercermin.
ruang optik mata kita.
menjadi guru karena adanya hasutan dari rasa. Tak ada alam sebenar benar alam
tanpa kekuatan pikiran.
pikiran. Akal adalah filsafat diri yang paling sejati.
terdahulu, saya memikirkan tentang “ Alam takambang BukanGuru”.
mengolah pikiranadalah salah satu cara
terhebatmempertajam daya pikir.
ini tak lebih dari hasil olah pikir pada masa lalu. Pikiran sekarang membentuk
masa depan.
berbuah pada masa di muka.
pikiranmu, terang jalan jadi rupa.
senantiasa berbuah harapan.
dipupuk dengan pikiran yang berlebihan tanpa memilah-milah apa yang dipikirkan,
tak jarang juga akan melahirkan kekecewaan.
mengabaikan akal sehingga pikiran berkembang liar karena merujuk pada
romantisme dan fenonismelogi dalam kenyataan dan fakta yang megistimewakan
logika.
oleh keinginan-keinginan yang menerawang.
menerpa; batang itu akan runtuh dan menumbuhkan kekecewaan.
pekerjaan apa yang adadi luar pangana.
dilaksanakan, besar kemungkinan hasilnya juga tak akan sesuai dengan apa yang
direncanakan dan diharapkan.
ia telah mendekati selesai.Ia adalah fenomena yang diselesaikan oleh waktu.
bersentuhandengan hati. Kalau pikiran
menjauhi hati, terjadilah apa yang disebut dengan “pikiran yang tak terakali”.
menjadi ruang yang tampak. Berpikir, lalu ruangnya gelap, sepantun dengan
impian yang bisu.
ketika mana “jalan” tampak jelas dan terang.
bemakrifat dan menembus ruang dan waktu.
akan jadi sa-sia. Saat itu hidup percuma.
sebanding dengan “belum pergi sudah sampai” atau “belum kerja sudah selesai”.
pelaksanaan.Sebagaimana kata budayawan dan penyair WS Rendra, perjuangan adalah
pelaksanaan kata-kata. Kata-kata itu adalah buah pikiran yang harus
dilaksanakan.
wujudkan dengan pelaksanaan dan perbuatan.
mewujudkan pikiran itu sendiri.
menghias ruang menata waktu.
materi. Namun, berjuta-juta materi belum tentu melahirkan satu pikiran. Hidup
adalah ide !
makaia hidup dan menjelma menjadi suatu
yang bermateri dan berwujud!
pikiran.
jauh, dunia tak akan selesai oleh kita” adalah sebuah doktrin yang menumpulkan
daya pikir. Itu kekeliruan menangkap opini.
berpikir dengan “iman”.
simak apa yang telah ia pikirkan.
dijadikan sebagai tempat memunculkan pertanyaan-pertanyaan.
manusia yang cerdas dan bijaksana akan senantiasa mencari jawaban-jawabannya.
Tapi secerdas apapun seseorang, selama ia masih hidup, ia akan menyisakan
jawaban yang belum terjawab.
Tuhan mengajukan pertanyaan, manusia berupaya menemukan dan mencari jawabannya.
Bukankah, Tuhan bertanya, manusia menjawab. Menjawabnya adalah dengan
akal,pikiran dan hati. Dan Tuhan kita adalah Tuhan yang Maha cerdas. Tuhan
benci pada kebodohan.
hati.
Karena kini ia mulai tidak konsisten. Dalam kerusakan atmosfir, alam sulit
dipedomani. Terkadang, cewang di langit belum tentu panas. gabak di hulu belum
tentu hujan.
Kepada Hadist. Kepada pikiran. Kepada hati.
hingga ke hulu, bagusnya berbalik !
