Bogor Regency (ANTARA) Perumda Air Minum Tirta Kahuripan, Bogor regency, Jawa Barat, mendistribusikan peralatan pemurnian air di Aceh dan di berbagai daerah Sumatra untuk mendukung pemulangan akses air minum bagi masyarakat yang terkena banjir dan tanah longsor.
Direktur Jenderal Perumda Drinking Water, Tirta Kahuripan Abdul Somad, di Cibinong, mengatakan pada hari Rabu bahwa bantuan untuk peralatan pemurnian air portabel dikirim untuk mendukung manajemen darurat bersama dengan bantuan logistik yang mencakup barang-barang kebutuhan primer.
Bantuan ini disebar dalam koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Bogor dan bagian terkait sebagai bagian dari tanggapan kemanusiaan terhadap krisis air minum dan sanitasi di tempat-tempat yang terkena bencana.
Baca juga:Tirta Kahuripan mendidik pelanggan untuk menghadapi tantangan musim hujan
Ada 13 desa dan subdistrik yang telah menerima bantuan logistik dan makanan dasar dengan total nilai 107,5 juta IDR, serta 30 unit peralatan pemurnian air portabel dengan kapasitas 25 liter per menit, kata Abdul Somad.
Dia menjelaskan bahwa peralatan pemurnian air akan didistribusikan ke rumah sakit, rumah sakit Islam, dapur publik, dan kamp pengungsi yang membutuhkan pasokan air minum yang cepat.
Menurut Abdul Somad, bantuan ini berfokus pada memulihkan akses ke air minum karena air adalah kebutuhan dasar yang sangat penting, terutama dalam kondisi pasca bencana.
Sebagai penyedia layanan air minum, kami memahami bahwa ketersediaan air minum adalah kebutuhan paling mendesak ketika bencana terjadi.
Baca juga:Tirta Kahuripan Bogor mengaktifkan mitigasi bencana teknis dan non-teknis pada akhir tahun
Selain mendistribusikan bantuan di luar wilayah, Perumda Air Minum Tirta Kahuripan juga terus meningkatkan persiapan layanan di daerah Bogor Regency sejalan dengan potensi bencana hidrometeorologi yang meningkat selama musim hujan.
Bogor Regency saat ini berada dalam keadaan waspada atas banjir, banjir mendadak, cuaca ekstrem, gelombang ekstrem dan abrasi, serta gletser tanah di daerah provinsi Jawa Barat.
Kondisi ini berpotensi menyebabkan gangguan aliran air bersih karena air mentah yang lebih bergelombang atau kerusakan jaringan pipa distribusi. (KR-MFS)























