Dampak brexit uni eropa Ekonomi Inggris diprediksi akan memburuk jika negeri Ratu Elizabeth itu benar-benar memutuskan hengkang dari Uni Eropa. BlackRock, manajer aset terbesar di dunia, tak tanggung-tanggung: mereka menyatakan bahwa dampaknya bisa sangat dahsyat, mulai dari pelemahan pound sterling, lonjakan inflasi, hingga risiko resesi, jika mayoritas warga Inggris memilih “leave” dalam referendum Uni Eropa yang sebentar lagi digelar. Pembahasan ini menyoroti dampak brexit uni eropa.
BlackRock menyampaikan pandangan yang lugas dan sangat meyakinkan mengenai potensi dampak bagi ekonomi Inggris jika referendum memutuskan bahwa negara itu hengkang dari Uni Eropa. Raksasa pengelola dana ini memproyeksikan tekanan serius pada pasar saham, pelemahan tajam terhadap pound sterling, serta risiko politik yang bisa menjejak posisi Perdana Menteri David Cameron, betapapun hasil akhir referendum nanti.
Manajer aset terbesar di dunia itu menyatakan bahwa perekonomian Inggris akan tetap berada di bawah bayang-bayang ketidakpastian selama paling tidak empat bulan ke depan, seiring gejolak politik dan kebijakan yang belum menentu.
Jameel Ahmad, Chief Market Analyst di FTMX, menyatakan bahwa ia memiliki cukup argumen untuk mempertahankan pandangan negatif terhadap pasar Inggris, khususnya pound sterling (GBP). Meskipun indeks FTSE sempat rebound dalam beberapa hari terakhir, lonjakan tersebut lebih dipicu oleh pemulihan harga minyak dunia ketimbang fundamental ekonomi domestik yang kuat.
Jameel menambahkan, FTSE diprediksi masih akan bergolak dalam beberapa bulan ke depan. Ketidakpastian ini bakal terus menghantui pasar selaku survei-survei awal masih menunjukkan bahwa hasil pemungutan suara berpotensi berakhir sangat tipis, sehingga investor memilih menahan keputusan hingga bayang-bayang risiko politik benar-benar mereda.
“Pandangan saya sangat negatif terhadap GBP karena alasan yang sangat sederhana: investor membenci ketidakpastian. Ketika David Cameron memastikan referendum Brexit akan digelar pada Juni, ia secara otomatis menciptkan kabut tebal di atas ekonomi Inggris yang paling tidak akan berlangsung selama empat bulan ke depan. Ketidaktahuan ini langsung tercermin di chart: GBPUSD ditutup di bawah 1.40 akhir pekan lalu, level psikologis penting yang baru pertama kali tersentuh sejak 2009. Dari sudut teknikal, penembusan ini bukan sekadar angka, melainkan pembuka gerbang besar bagi potensi pelemahan lebih dalam. Bagi saya, sinyal bearish sudah nyata dan belum ada yang bisa menahannya dalam waktu dekat,” jelasnya.
Selain itu, muncul laporan bahwa anggota Dewan Gubernur European Central Bank (ECB), Benoit Coeure, menyatakan dukungannya terhadap potensi penurunan lebih lanjut atas suku bunga atau tingkat deposit minimal. Pernyataan ini muncul seiring ekonomi Uni Eropa yang masih berjuang keluar dari stagnasi: pertumbuhan lesu dan inflasi sangat rendah memaksa bank sentral untuk terus mencari pelonggaran moneter. Sentimen tersebut langsung menekan EURUSD hingga melemah ke 1,0833—angka yang hanya selangkah lagi dari posisi terendah dalam dua bulan terakhir. Para investor kini makin yakin ECB akan meluncurkan stimulus tambahan pada pertemuan kebijakan Maret ini, sehingga tekanan bearish terhadap euro masih terasa di pasar.
Menurut saya, EURUSD masih memiliki ruang untuk terus melemah dan berpotensi kembali ke area terendah Januari di kisaran 1,07. Baru setelah berhasil menembus batas tersebut—lalu ditutup kuat di bawah 1,05—kita bisa mulai membahas kemungkinan pasangan ini melanjutkan perjalanannya hingga berparitas dengan dolar, karena 1,07 merupakan support kunci yang menentukan arah berikutnya, tutup Jameel.























