Bank garap potensi perfilman lokal PT Bank Amar Indonesia Tbk (Amar Bank) terus mendorong inklusi keuangan di Tanah Air. Kali ini, mereka menyasar industri kreatif—khususnya perfilman nasional yang dalam setahun terakhir menunjukkan tren pertumbuhan sangat pesat dan potensi ekonomi besar. Pembahasan ini menyoroti bank garap potensi perfilman lokal.
Senior Vice President MSME Amar Bank, Josua Sloane, menyatakan bahwa pihaknya berupaya mendekatkan inovasi keuangan digital ke dalam ekosistem kreatif, khususnya di industri perfilman. Langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen untuk memperluas akses layanan keuangan bagi pelaku ekonomi kreatif, sehingga mereka dapat lebih mudah mengakses permodalan dan mendukung pertumbuhan usaha secara inklusif.
“Langkah ini sejalan dengan upaya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Otoritas Jasa Keuangan untuk memperkuat kontribusi sektor kreatif terhadap ekonomi digital nasional,” ujarnya, dikutip Jumat, 22 Agustus 2025.
Ia menegaskan bahwa karakter industri film yang unik menuntut perencanaan anggaran yang cermat, pengelolaan keuangan yang transparan, serta strategi distribusi yang matang. Tanpa ketiga unsur ini, proses produksi tidak hanya bisa terganggu, tetapi juga berisiko berhenti di tengah jalan. Oleh karena itu, pendekatan yang holistik dan berkelanjutan sangat dibutuhkan agar setiap tahap produksi dapat berjalan lancar hingga film siap dinikmati oleh penonton.
Kedisiplinan dalam mengelola keuangan—dipadu fleksibilitas strategi pembiayaan—menjadi dua pilar utama yang menopang kelangsungan produksi film dari pra-produksi hingga post-produksi. Ketika arus kas tercatat rapi, anggaran diawasi ketat, dan dana darurat selalu tersedia, sineas tidak hanya terhindar dari macetnya pengambilan gambar akibat kekurangan biaya, tetapi juga membangun reputasi keuangan yang gemilang. Reputasi ini lalu memudahkan mereka ketika hendak menjalin kerja sama dengan investor independen, perusahaan media besar, ataupun lembaga pembiayaan seperti bank dan badan hibah, karena para mitra dapat melihat bukti konkret bahwa proyek yang ditawarkan dikelola secara profesional dan berpeluang menguntungkan.
Di Amar Bank, kami terus berupaya menyediakan solusi finansial yang didukung teknologi digital. Dengan sistem ini, sineas dapat memantau aliran kas, merapikan anggaran, bahkan mengajukan pembiayaan fleksibel kapan pun diperlukan, semua dalam genggaman tangan. Transparansi data, proses yang lebih ringkas, serta keamanan terjamin saling bersinergi membentuk ekosistem keuangan yang efisien dan terpercaya, sehingga para sineas dapat fokus berkarya tanpa khawatir soal urusan dana, tambah Josua.
Ia menambahkan bahwa inisiatif ini tidak sekadar bagian dari misi besar Amar Bank untuk mendukung ekonomi kreatif Indonesia, melainkan juga menjadi bukti nyata kepemimpinan bank tersebut dalam mendorong inovasi digital di sektor keuangan. Langkah ini menunjukkan komitmen kuat Amar Bank untuk terus beradaptasi dengan perubahan zaman sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi berbasis kreativitas.
“Amar Bank menunjukkan bagaimana layanan keuangan dapat bertransformasi secara inovatif untuk menjawab kebutuhan sektor ini dengan lebih tepat sasaran,” pungkasnya tegas.
Sepanjang Januari hingga Juli 2025, tujuh dari sepuluh film terlaris yang tayang di bioskop Indonesia merupakan produksi dalam negeri, menurut data Cinepoint.com. Pencapaian ini tak hanya menunjukkan dominasi karya anak bangsa di layar lebar, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa minat masyarakat terhadap konten lokal terus meningkat dari waktu ke waktu.
Di sisi lain, sektor ekonomi kreatif ternyata telah menyumbang lebih dari Rp1.500 triliun terhadap Produk Domestik Bruto nasional pada tahun 2024. Pemerintah, melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, bahkan menargetkan agar kontribusi sektor ini bisa terus meningkat hingga mencapai 8 persen dalam kurun waktu lima tahun ke depan.
Pertumbuhan industri film Indonesia kian nyata ketika karya-karya lokal mulai menapak ke pasar global. Buktinya, Jumbo dan Agak Laen sukses menembus festival serta jaringan bioskop di luar negeri, sehingga nama sineas Tanah Air ikut tersorot. Di sisi lain, kehadiran platform OTT tak sekadar menambah saluran distribusi, melainkan memperpanjang umur komersial film: setelah turun dari layar lebar, ia masih bisa bertahan berbulan-bulan di layar kaca genggam, merambah penonton baru, dan terus menghasilkan royalti.
Indonesia pun menempati posisi terbesar di Asia Tenggara sebagai pasar streaming anime serta layanan video on demand (VOD), dengan total pendapatan yang mencapai USD 552 juta, menurut laporan Variety.com.
Kolaborasi lintas sektor kian menguat dan tampak nyata lewat aktivasi properti intelektual lokal—sebut saja film Jumbo yang hadir di dalam gerbong kereta api. Langkah ini tak sekadar memperluas jangkauan pasar; ia juga menjalin hubungan yang lebih erat antara dunia perfilman, transportasi, dan merek-merek lain yang terlibat, sehingga ekosistem industri kreatif makin terintegrasi dan saling menguntungkan.























