Menyimpang dari tradisi para presiden sebelumnya, termasuk pada masa jabatannya yang pertama, Presiden Donald Trump tidak mengakui 19 Januari 2026 sebagai Hari Martin Luther King Jr. dalam bentuk pernyataan, proklamasi, maupun tindakan resmi apa pun.
Hari libur federal untuk menghormati aktivis hak sipil yang tewas dibunuh karena menentang segregasi dan rasisme jatuh pada hari Senin ketiga di bulan Januari.
Trump menghabiskan hari ini di propertinya di Mar-a-Lago. Malam ini, ia akan menghadiri Kejuaraan Sepak Bola Kampus Nasional di Miami.
Gedung Putih belum segera menanggapi pertanyaan pada 19 Januari apakah Trump berencana mengakui hari itu atau warisan King.
Satu-satunya unggahan Trump di media sosial pada pagi 19 Januari menuntut adanya identitas pemilih, sesuatu yang ditentang kelompok hak sipil karena minoritas rasial lebih berisiko tak memiliki identitas yang dikeluarkan negara. Ketika dihubungi USA TODAY, akun media sosial Gedung Putih memuat informasi soal ICE dan pencapaian Trump pada tahun pertama masa jabatannya.
Kongres menetapkan Hari Martin Luther King Jr. dan hanya Kongres yang dapat membatalkan perayaan resminya. Presiden Ronald Reagan menandatangani Undang-Undang Hari Libur Nasional pada 2 November 1983, yang menetapkan hari Senin ketiga di Januari sebagai hari libur federal untuk menghormatan tokoh hak sipil tersebut.
Trump menjadi presiden pertama yang tidak mengeluarkan proklamasi resmi mengenai Hari Martin Luther King Jr. sejak Reagan menetapkan hari libur tersebut.
Sebagian besar presiden, termasuk Trump pada masa jabatannya yang pertama, juga mengenakan hari libur itu melalui ibadah, upacara peringatan, pidato, atau penempatan karangan bunga di patung King di National Mall.
Misalnya, pada 2023 Presiden Joe Biden berpidato di Gereja Martin Luther King Jr. Pada 2008, Presiden saat itu, George W. Bush, berpidato di Perpustakaan Peringatan Martin Luther King Jr. di Washington. Pada 2007, Bush ikut serta dalam kegiatan sukarela di sekolah setempat.
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa perdamaian bukanlah prioritas “murni”-nya setelah menolak Hadiah Nobel Perdamaian guna memperathankan pungutan impor sebagai alat kontrol atas Greenland.
Kembalinya Trump ke Gedung Putih pada 20 Januari 2025 merupakan kebetulan bersejarah, karena hari pelantikannya bertepatan dengan Hari Martin Luther King Jr. Presiden saat itu, Joe Biden, menandatangani proklamasi tersebut sebelum menyerahkan jabatan.
Trump menjadikan pencabutan program-program keberagaman, kesetaraan, dan inklusi sebagai prioritas utama dalam masa pemerintahannya yang kedua.
Tahun lalu, Pentagon menunda perayaan Bulan Sejarah Kulit Hitam, dan tahun ini, pemerintahan Trump menghapus Hari Martin Luther King Jr. dan 11 Juni dari daftar hari libur di Layanan Taman Nasional—lalu menggantinya dengan hari ulang tahun Trump.
Trump merayakan hari libur itu selama masa jabatannya yang pertama. Sebelum dilantik pada 2017, ia mendorong warga Amerika untuk memperingati Hari Martin Luther King Jr. dan “menyambut segala hal besar yang diperjuangkan”, segera sebelum bertemu Martin Luther King III di Trump Tower.
Pada 2018, ia menandatangani proklamasi resmi, namun dikritik karena tidak berbicara secara terbuka.
Pada 2019 dan 2020, Trump menandatangani proklamasi dan mengunjungi Memorial Martin Luther King Jr. di Washington untuk menaburkan karangan bunga. Ia juga menandatangani proklamasi serupa pada 2021, sebelum lengser dari jabatannya.
Proklamasi terbaru Trump yang ditandatangani pada 16 Januari menetapkan hari itu sebagai Hari Kebebasan Beragama. Ini adalah proklamasi ketiga yang ia keluarkan sejak awal tahun baru.
Artikel ini awalnya diterbitkan di USA TODAY: Donald Trump tidak mengakui Hari Martin Luther King Jr.









