Presiden AS Donald Trump mengundang India untuk bergabung dalam apa yang disebutnya “dewan perdamaian” untuk Gaza, bersama para pemimpin dunia lainnya, demikian keterangan para sumber yang mengetahui hal tersebut pada hari Minggu.
Trump mengungkapkan plakat itu sebagai bagian dari fase kedua gencatan senjata antara Israel dan Hamas untuk mengakhiri pemboman Gaza oleh Israel, yang akan mengawasi penyusunan kapasitas pemerintahan, rekonstruksi, investasi, dan penggalangan modal di enklave yang porak-poranda itu.
“India diundang Presiden Trump untuk bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza,” ujar sumber yang enggan disebutkan namannya, tanpa memberi rincian lebih lanjut.
Peristiwa itu terjadi beberapa jam setelah Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan bahwa Perdana Menteri Shehbaz Sharif menerima undangan dari Trump untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, serta para pemimpin Prancis, Jerman, Australia, dan Kanada turut diundang bergabung ke dalam dewan.
Beberapa rincian dari Dewan Perdamaian terungkap setelah surat-surat Trump kepada Presiden Argentina Javier Milei dan Presiden Paraguay Santiago Peña dibagikan oleh kedua pemimpin di media sosial. Surat Trump kepada Milei menyebut bahwa dewan ini akan bekerja untuk “memperkuat perdamaian di Timur Tengah” dan “meluncurkan pendekatan baru yang berani untuk menyelesaikan konflik global.”
Rancangan statuta yang dikirim pemerintahan Trump ke sekitar 60 negara mensyaratkan bahwa anggota dewan harus menyumbang satu miliar dolar agar keanggotaannya bisa berlangsung lebih dari tiga tahun, demikian dilaporkan Reuters.
OTempos Financeiros mengutip surat tersebut yang menyatakan bahwa “Dewan Perdamaian adalah organisasi internasional yang berupaya mempromosikan stabilitas, memulihkan tata kelola yang kredibel dan sah, serta menjamin perdamaian yang berkelanjutan di daerah yang terdampak atau terancam konflik.”
Jumat lalu, Trump mengumumkan bahwa mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair—yang banyak dikritik karena mendukung invasi ke Irak pada 2003 atas dugaan senjata pemusnah massal yang kemudian terbukti palsu—akan menjadi anggota pendiri dewan, bersama menantu Trump Jared Kushner, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, utusan khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff, dan Presiden Grup Bank Dunia Ajay Banga.
Banyak dari individu ini juga ditunjuk sebagai anggota Dewan Eksekutif Gaza yang akan mengawasi Komite Nasional Pengelolaan Gaza yang terdiri atas teknokrat Palestina.









