Ibu Viviam Perrone, yang tinggal di Valeria del Mar beberapa kilometer dari Pinamar, menyoroti kepolisian Buenos Aires dan aparat setempat sebagai pihak bertanggung jawab atas kecelakaan di Perbatasan, Pinamar, yang menyebabkan Bastián, 8 tahun, mengalami luka berat. Dalam wawancara dengan LN+, Perrone menyebut insiden ini sebagai kejadian berulang yang bisa diprediksi: “Ini terjadi setiap musim panas.”
Viviam Perrone, pendiri organisasi Ibu-ibu yang Sakit, mempertanyakan keputusan polisi yang mendampingi pemindahan anak di bawah umur ke Mar del Plata. Ia menilai penempatan aparat tersebut tidak tepat guna. “Mengapa polisi diperintahkan mengawal bayi? Mereka seharusnya berjaga di La Frontera dan La Olla,” ujarnya. Perrone menegaskan bahwa sejak November lalu ia sudah berulang kali memperingatkan potensi kecelakaan di kawasan bukit pasir setiap musim liburan.
Viviam Perrone menegaskan bahwa sekadar bereaksi usai kejadian tidak cukup. “Dana diperlukan untuk kampanye kesadaran. Tak seorang pun percaya ini bisa menimpa anak mereka hingga benar-benar terjadi,” ujarnya. Ia meyakini menampilkan kenyataan—bahkan lewat foto—bisa mencegah keluarga lain mengalami nasib serupa.
Ibu Viviam Perrone menerima telepon dari nenek Bastián. Sang nenek bilang ia harus tinggal di Mar del Plata selama cucunya dirawat. “Tak hanya soal kesakitan, ongkos transport dan biaya menginap pun jadi beban,” ujar Perrone.
Ibu Viviam Perrone menekan agar kecelakaan lalu lintas tidak lagi dipandang sebagai “musibah”, melainkan sebagai kekerasan yang bisa dicegah. “Kecelakaan jalan adalah pembunuhan. Penyakit ini menjadi pembunuh utama anak muda, padahal bisa dicegah,” ujarnya. Ia juga menyoroti sikap orang dewasa yang acuh terhadap saran spesialis keselamatan anak: “Ketika kecelakaan terjadi, barulah masyarakat kelabakan: rumah sakit, dokter, helikopter—semua biaya akhirnya ditanggung publik.”
Perrone mengusulkan agar masalah ini diselesaikan dengan cara terstruktur dan terkendali. “Kenapa nggak dibuatkan tempat khusus buat ATV dan UTV, lengkap dengan pintu masuk, ambulans, dan petugas pengawas?” ujarnya. Ia menegaskan, kawasan rekreasi semacam itu bisa dikelola pemerintah kota atau pihak swasta, asal ada aturan main dan pengawasan yang jelas agar kegiatannya tetap aman.
“Semuanya harus direncanakan dan dilakukan sejak awal, bukan baru diurus setelah musibah terjadi,” ujar Viviam menutupi pernyataannya.





















