Usulan Partai Buruh untuk merumuskan definisi resmi “permusuhan terhadap Muslim” diperkirakan akan memperparah praktik “polisi ganda” yang sudah berlangsung, para pengamat memperingatkan.
Pemerintah Inggris membatalkan rencana lama soal definisi ‘Islamofobia’. Mereka kini mencari istilah baru agar tak dituduh diam-diam membuat hukum penodaan agama.
Namun, Chris Philp, yang menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri bayangan, menyebut definisi yang diajukan justru bisa disalahgunakan oleh kelompok Islam ekstrem untuk menekan kebebasan berpendapat, karena polisi diperintahkan menindak siapa pun yang mereka tuduh sebagai pengkritik.
Laporan dari lembaga pemikir Policy Exchange yang dirilis awal pekan ini menyebut istilah ‘permusuhan anti-Muslim’ justru dianggap ‘lebih berbahaya’ ketimbang usulan Partai Buruh sebelumnya.
Menurut Philp, langkah pemerintah bisa jadi memberi kelonggaran bagi kelompok Islam tertentu untuk memanfaatkan definisi “Islamofobia” agar menekan keras setiap kritik terhadap pandangan ekstrem mereka.
Langkah pemerintah Inggris ini langsung menyerang kebebasan menyampaikan pendapat dan berpotensi memunculkan sistem aturan yang berlaku dua kali lipat—lebih keras untuk sebagian pihak, lebih longgar untuk yang lain.
Menteri Dalam Negeri Bayangan Chris Philp menyatakan bahwa usaha merumuskan definisi resmi “permusuhan terhadap Muslim” bisa jadi justru memberi kelonggaran bagi kelompok-kelompok Islam.

Lord Young dari Free Speech Union menyatakan bahwa organisasinya kemungkinan besar akan membawa Partai Buruh ke pengadilan.

Baroness Falkner menyambut baik laporan itu dan mengingatkan, rancangan Partai Buruh soal “permusuhan anti-Muslim” berpotensi membuka jalan bagi pengendalian pemikiran.
Ini membuat makin banyak orang tak bersalah jadi sasaran pelecehan hanya karena menyampaikan pendapat yang sah, berdiskusi soal Islam politik, atau bahkan sekadar membicarakan agama Islam.
Ia menegaskan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat adalah pilar utama kehidupan berbangsa yang demokratis, dan langkah pemerintah untuk membatasinya justru akan melemahkan fondasi tersebut.
Saya sepenuhnya mendukung kesimpulan laporan ini yang menjabarkan berbagai ancaman besar tersebut.
Direktur Persatuan Kebebasan Berbicara (FSU), Lord Young, menyatakan bahwa jika pemerintah secara resmi mengadopsi definisi “permusuhan anti-Muslim” dan menerapkannya di seluruh lembaga publik, hal itu bisa membatasi kebebasan berpendapat secara signifikan.
Siapa pun yang mengkritik tindakan umat Islam atau rezim Islam seperti Iran bisa mudah dituduh punya niat anti-Muslim.
FSU nyaris dipastikan akan melayangkan gugatan hukum kalau Pemerintah benar-benar melanjutkan usulan ini.
Sejumlah aktivis kebebasan menyatakan kekhawatiran bahwa perlindungan khusus bagi agama Islam bisa menutup ruang untuk mengkritik secara sah dan, tanpa disadari, melahirkan aturan penodaan agama secara de facto.
Daily Mail pada Kamis menurunkan laporan think-tank Policy Exchange yang menegaskan: definisi “permusuhan terhadap Muslim” yang kini mengemuka ternyata seluas—bahkan boleh jadi lebih meluas—ketimbang istilah “Islamofobia”, sekaligus setara atau bahkan lebih berbahaya.
Karena istilah itu—untuk saat ini—belum memiliki kesan negatif di dunia politik, para aktivis merasa lebih leluasa menggunakannya.
Menurut kamus, ‘permusuhan’ tak hanya soal kebencian; ia juga bisa berarti sekadar ‘tidak suka’, ‘tidak setuju’, atau ‘menolak’ sesuatu.
Surat kabar itu menyebut, batasan baru ini bisa disalahgunakan sejumlah kelompok Muslim untuk mendorong kepentingan mereka dalam perdebatan soal imigrasi dan kebijakan antiteror.
Baroness Falkner, mantan ketua Komisi Kesetaraan dan Hak Asasi Manusia hingga tahun lalu, turut mendukung kesimpulan tersebut.
Menurutnya, rancangan definisi yang dinilai berbahaya dan memecah belah itu justru lebih buruk dari dugaan. Ia memperingatkan, definisi tersebut berpotensi menjerat kebebasan berpendapat serta membuka jalan bagi pengendalian terhadap cara berpikir warga.
Di samping itu, langkah tersebut bisa berdampak pada usulan kepala kepolisian untuk menghapus kategori ‘insiden kebencian non-kejahatan’. Kategori ini selama ini memicu penangkapan warga hanya karena mengeluarkan pernyataan yang dianggap menyinggung oleh pihak tertentu.
Laporan itu menegaskan, “Jadi jelas bagaimana definisi baru bisa berubah jadi ‘insiden kebencian non-kriminal versi kedua’, khususnya untuk kasus yang menyangkut umat Islam. Definisi itu bisa dipaksa ke aparat, pemda, pengusaha, atau lembaga lain aga mencatat—bahkan menghukum—setiap peristiwa yang dicap ‘permusuhan anti-Muslim’.”
Rekan penulis laporan Policy Exchange, Andrew Gilligan, menyatakan bahwa definisi resmi yang diusulkan hanya mencakup insiden kebencian yang bukan tindak kejahatan, dan tidak akan mengurangi risiko besar yang terkait dengan penggunaan istilah ‘Islamofobia’.
Dalam laporannya, mereka menegaskan bahwa frasa baru ini jangkauannya jauh lebih luas; fokusnya adalah menonjolkan isu, bukan meredam potensi dampak negatif bagi masyarakat yang mengutamakan kebebasan.
Definisi yang berbahaya ini bisa dengan mudah disalahgunakan oleh kelompok Islamis dan politik Islam untuk memperkuat praktik ‘kepolisian dua tingkat’.
“Cara baru ini bakal dipakai untuk menutup ruang diskusi dan mematikan setiap suara yang mengecam mereka.”
Sekretaris Komunitas Steve Reed tengah menyusun definisi baru, mengacu pada saran kelompok penasihat yang dipimpin Dominic Grieve, mantan jaksa agung dari Partai Konservatif.
Rencana penggantian istilah “Islamofobia” dengan “permusuhan anti-Muslim” sempat terbocorkan ke BBC pada Desember lalu, tapi hingga kini belum dirilis secara resmi.
Belum terlihat jelas apakah usulan itu sudah meraih dukungan luas di internal Partai Buruh.
September lalu, Shabana Mahmood—Menteri Dalam Negeri Inggris sekaligus perempuan Muslim pertama yang menjabat di pos tersebut—menyatakan ketidaksetujuannya atas rencana penggantian nama Partai Buruh menjadi “Islamofobia”.
Ia mengatakan, “Mungkin semua orang akan lebih aman kalau kalian semua tunduk pada hukum yang sama.”





















